Bila Jodoh Bab 1-3 (Gratis)

2
6
Deskripsi

Bismillah. Cerita ini dipublish juga di KBM app dengan judul “Dijodohkan dengan Adik Suamiku / Ipar Posesifku" dan mendapat lebih dari SEPULUH RIBU unlock.

Bab 1-3 Free. Bab selanjutnya berbayar mulai dari 4K-10K. Kalau mau lebih murah beli Paket Bila Jodoh Full Part. Khusus paket full part ada diskon tambahan 5K dengan memasukkan kode voucher BilaJodoh5K

Testimoni:

Awalnya berpikir, cerita ini seperti halnya cerita-cerita bertema serupa yang hanya seru di awal. Tapi ternyata salah duga. Malah nagih baca sampai akhir. Rahmi jeli...

Bab 1 Menikah Lagi?

“Mama.. kenapa papa tidur di sana?” tanya Rania sambil menunjuk gundukan tanah dengan papan nisan bertuliskan Arya Wiratama Bin Sunaryo.

Aku menghela napas, kupandangi wajah Rania, iba. Belum genap tiga tahun usianya dan harus menjadi yatim.

“Karena Alloh sudah memanggil papa Nak,” jawabku sambil menabur sisa bunga yang masih kugenggam. Setelah suamiku meninggal, baru kali ini aku datang ke makamnya, saat masa iddahku selesai. Di daerahku, tak lazim wanita ikut datang ke prosesi pemakaman, sekalipun ke pemakaman suaminya sendiri.

Rania masih memandangi makam papanya, kupeluk ia erat “Ran, kangen papa?” Rania mengangguk.

“Kalau begitu kita doakan papa yuk, supaya baik-baik di dalam sana dan kita bisa ketemu papa lagi nanti di surga.”

“Kita bisa ketemu papa lagi?” tanyanya dengan mata berbinar.

“Bisa dong.. Yuk kita berdoa!” Kubimbing ia menengadahkan kedua tangan mungilnya.

“Robbighfirlii waliwalidayya warhamhumaa kamaa robbaya nii shoghiiro..”

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Aku menengadah, menengok langit. Mendung, gelap sekali. Padahal waktu berangkat dari rumah Mama tadi, masih cerah. Sejurus kemudian hujan turun, langsung deras. Aku berusaha melindungi kepala Rania dengan tanganku. Sama sekali tak terpikir membawa payung tadi.

“Ayo Ran kita pulang,” buru-buru aku menggendong Rania. Kepalanya kudekap di dadaku.

Tiba-tiba hujan berhenti. Hah secepat itu? Aku menengok lagi ke langit. Payung? Siapa yang...

“Pamaan!” teriak Rania begitu melihat Pamannya, Arman, datang dengan membawa dua buah payung. Satu payung terbuka di atas kepala kami, dan satunya masih terlipat rapi.

“Bukankah sudah kubilang, tunggu aku pulang,” katanya datar namun terdengar marah. Tidak terlalu kaget sih. Sehari-hari adik suamiku ini pembawaannya dingin, cenderung tidak bicara jika tak perlu.

Selama hampir empat tahun aku menjadi kakak iparnya, kami hanya berbicara seperlunya. Bahkan bisa dalam satu hari sama sekali kami tak saling sapa, cenderung menghindar. Sebenarnya aku tipikal orang yang mudah akrab dengan orang lain, tapi melihat pembawaan Arman yang seperti ini, aku jadi sungkan  mau mengajaknya ngobrol.

“Bukannya sudah kubilang juga tak perlu repot menjemputku? Aku bisa pergi sendiri,” aku menjawab ketus. Ya aku tahu maksudnya baik, tapi lancang sekali dia, marah padaku, mantan kakak iparnya.

“Bagaimana kalau Rania sakit karena kehujanan? Ceroboh!” Arman membuka payung yang masih terlipat rapi, lalu menyerahkannya padaku.

“Ayo Ran, ikut Paman,” katanya lagi sembari mengambil alih Rania dari gendonganku.

Sampai di depan mobil, Arman menurunkan Rania, membuka pintu mobil, dan mempersilakanku masuk

“Masuk!” Hemm, lebih terdengar seperti memerintah. Tapi aku menurut saja. Malas berdebat dengannya.

Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Untung ada Rania yang mencairkan suasana. Sambil tetap fokus menyetir, Arman ikut bernyanyi bersama Rania dan selalu menanggapi ocehannya yang lucu. Aneh memang. Sedingin-dinginnya adik iparku ini, ntah kenapa jika bersama Rania, sifatnya bisa berubah seratus delapan puluh derajat.

“Hei kita mau ke mana?” tanyaku ketika menyadari Arman salah mengambil jalan. Jalan ini berlawanan arah dengan jalan menuju rumahku.

“Ke rumah mama.”

“Tapi, baru sejam yang lalu kan aku berangkat dari rumah mama ke makam. Aku juga sudah pamitan pada mama. Kenapa…”

“Ada yang mau mama sampaikan. Setelah itu kuantar pulang.”

Ada yang mau disampaikan? Kenapa tiba-tiba? Apakah serius?

“Apa.. Mama masih bersikeras mengajakku dan Rania tinggal di rumah?" Belakangan ini Mama memang sering membahas tentang  ini. Mama selalu bilang, aku sudah dianggapnya sebagai anak, jadi meski Mas Arya telah tiada, Mama memintaku tetap tinggal. Apalagi ada Rania, cucu kandung yang sangat disayangi dan dimanjakannya

“Atau..." tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Oh iya, apa mungkin untuk membicarakan acara lamaranmu yang tertunda dengan Sheila?"

Sheila adalah teman kantor sekaligus calon istri Arman. Acara lamaran mereka seharusnya sudah dilakukan beberapa bulan lalu, tapi karena berpulangnya mas Arya, acara itu ditunda dan sampai sekarang dan belum dijadwalkan ulang.

"Aku sampai lupa belum menjahitkan kain seragam dari Mama. Ah coba kuhubungi tukang jahit langgananku dulu ya," ocehku sambil mengeluarkan ponsel dari tas.

Arman merebut ponselku dan memasukkan ke kantong kemejanya, "Sok tahu! Jangan bahas soal itu lagi!"

Aku menoleh ke arahnya, kepo, kenapa dia semarah itu. "Eh? Kalian lagi ada masalah? Atau.. hmmm kena syndrom pra nikah ya?" Tanpa menunggu jawabannya aku melanjutkan bicara, "Oh itu sih biasa, dulu aku sama mas Arya pas mau nikah juga sempet gitu, tiba-tiba adaa aja yang bikin ragu. Kita pernah..."

Cciiiit…

Kalimatku terhenti ketika tiba-tiba Arman menginjak rem mobil. "Hah ada apa? Kamu mau mampir ke minimarket?"

"Udah ngomongnya?" Arman bertanya tanpa sedikitpun melihat ke arahku. "Sudah kubilang, aku lagi tidak ingin membahas tentang pernikahan. Titik."

Aku mendengkus kesal. Dia sama sekali tak menghargai upayaku untuk mendekatkan diri dengannya sebagai adik suamiku.

"Paman sama Mama kok berantem sih?" pertanyaan Rania yang polos dengan nada suaranya yang lucu bikin rasa kesalku mereda.

"Ngga berantem kok sayang," jawabku. "Pamanmu aja tuh kalo ngomong sukanya ngegas. Lembut dikit napa?" sambungku lirih, tapi aku yakin dia pasti mendengar.

 

                      ☕☕☕

 

Mobil menepi di depan rumah Mama. Saat aku turun, kulihat Mama tergopoh-gopoh keluar rumah. Meyambut aku dan Rania dengan raut muka bahagia, seperti biasa.

“Rania... cucu Oma..” Mama membentangkan tangannya begitu melihat Rania turun dari mobil. "Oma... " Rania berteriak girang menyambut pelukan omanya.

“Assalamualaikum Ma...” sapaku sambil mencium punggung tangan Mama.

Mama mencium pipi kanan kiriku, “Waalaikum salam, ayo masuk Nadia, Maaf ya, Mama suruh Arman bawa kamu ke sini lagi.”

Arman menaikkan Rania ke bahunya, “Ayo Ran, kita kasih makan ikan di belakang."

“Yeaayyyy!” Rania bersorak gembira.

“Lihat Nadia, Arman begitu sayang pada Rania,” kata Mama sambil membimbingku masuk ke dalam rumah. Aku hanya tersenyum. Dari dulu, Arman yang kaku, yang pelit senyum dan kata-kata itu memang sangat dekat dengan Rania.

“Mama ingin bicara denganmu,” kata Mama ketika kami sama-sama sudah duduk di ruang tengah. “Dan Arman,” lanjutnya. Bi Inah lalu menggantikan Arman menemani Rania.

“Mama memanggilku?” tanya Arman.

“Ya... Nadia, Arman, Mama ingin bicara,” ucapan Mama kali ini terdengar tak biasa, serius dan sangat berhati-hati. “Bagaimana, kalau kalian..” Mama menatapku dan Arman bergantian.

“...MENIKAH?”

 

Bab 2 Lamaran

Aku dan Arman menikah? Aku tercekat. Sama sekali tak menyangka ini yang akan dikatakan Mama. Kulirik Arman. Dari matanya aku melihat, ia sama terkejutnya denganku. Hening terjadi diantara kami, beberapa detik. Aku lantas mencoba mencairkannya dengan tawa kecil.

“Haha, Mama ada-ada saja. Nadia belum kepikiran Ma, soal menikah lagi.”

Mama menggeser posisi duduknya mendekatiku. “Kamu masih muda Nadia,” katanya sambil mengusap-usap punggungku. “Sah-sah saja mempunyai pendamping hidup lagi.”

“Kamu dan Arman kan sudah mengenal lama, keluarga kita juga sudah dekat,” sambung Mama lagi.

“Iya tapi Ma...”

“Sudah. Tak perlu dijawab sekarang. Tapi paling tidak, kamu dan Arman pertimbangkan permintaan Mama ini ya.”

“Sebelum pulang, makan malam di sini dulu ya Nadia. Sebentar lagi Maghrib.” Mama beranjak, kemudian memanggil Rania yang masih asik bermain dengan Bi Inah di dekat kolam ikan.

☕☕☕

 

Di mobil, saat perjalanan pulang, aku menanti-nanti reaksi Arman, tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Aku melihat ke arah Arman yang masih fokus menyetir, menerka-nerka apa yang kira-kira ada dalam pikirannya. Aku tau Arman selalu sulit menolak permintaan Mama. Dulu ia pernah dapat promosi naik jabatan dari kantor dengan syarat harus pindah ke kantor pusat di Jakarta. Tapi karena permintaan Mama, ia tidak mengambil kesempatan itu. Ya, Mama berat melepas Arman. Kata Mama beliau akan kesepian, apalagi jika nanti aku dan Mas Arya sudah pindah ke rumah kami sendiri.

“Man,” tak sabar, aku mencoba membuka obrolan. “Nanti kita cari cara ya, supaya kamu tetep bisa nikah sama Sheila,” kataku, seolah memahami kegundahan hatinya.

“Siapa yang mau nikah? Sok tau!” jawaban ketusnya bikin aku kesal.

Ish mau dibantuin juga. Setelah itu aku diam tak melanjutkan obrolan, takut sakit hati dengan jawabannya. Lantas, hening menemani perjalanan kami sampai ke rumah.

Rania tertidur ketika kami tiba di rumah. Arman menggendongnya turun dari mobil dan membaringkannya di sofa ruang tamu kemudian pamit pulang.

Aku merebahkan tubuh di sofa, melepaskan jilbab, meletakkan sekenanya di atas meja. Kupandangi Rania yang tidur nyenyak. Masih tak menyangka, ia akan kehilangan Papanya di usia sekecil ini. Aku tahu rasanya menjadi yatim. Ayahku -kakeknya Rania- meninggal dunia saat aku SMP kelas dua. Setelah itu ibu bekerja membanting tulang demi memenuhi kebutuhan kami. Membuat kue dan menitipkannya di warung tetangga, termasuk ke kantin sekolahku. Ibu juga membuka usaha jahit kecil-kecilan. Ibu ingin, aku anaknya satu-satunya, bisa jadi sarjana.

Tiga bulan setelah aku menikah, saat mengandung Rania, aku menjadi yatim piatu. Ibu pergi menyusul ayah. Yang kusyukuri, Ibu sempat melihatku wisuda, menikah, bahkan masih sempat mengelus-elus calon cucunya di perutku.

Akan tetapi, kehilangan Ayah dan Ibu, beda rasanya dengan kehilangan Mas Arya. Ayah dan Ibu sakit cukup lama sebelum meninggal, sehingga aku sedikit banyak sudah menyiapkan hati untuk kehilangan. Sementara Mas Arya, pagi hari masih terlihat sehat dan ceria seperti biasa. Tak ada sama sekali pertanda. Setelah sarapan nasi goreng buatanku, ia pamit berangkat kantor. Ia hanya bilang, hari itu tak akan pulang ke rumah, karena ada keperluan dinas di luar kota. Mas Arya mencium keningku dan bercanda sebentar dengan Rania. Sore harinya aku mendengar kabar, Mas Arya kecelakaan.

Arman ada di samping Mas Arya ketika aku, Mama, dan Rania, tiba di ICU rumah sakit, diantar tetangga sebelah rumah. Kulihat Arman membisik-bisikkan sesuatu di telinga Mas Arya, sambil menggenggam sebelah tangannya.

Mas Arya membuka mata beberapa saat setelah aku menangis sambil memanggil-manggil namanya, kemudian menghembuskan napas terakhirnya. Ah, mataku kembali basah mengingat itu semua.

Move on Nadia, move on. Aku menyemangati diriku sendiri.

Lalu tiba-tiba notifikasi pesan whats app di ponselku berbunyi. Dari Erna.

[Hey ada lowker yang cocok nih buat kamu]

Ia mengirimkan sebuah link. Beberapa waktu lalu aku memang meminta Erna untuk mencerikan pekerjaan yang cocok buatku. Aku membaca dalam hati informasi dari link yang diberikan Erna.

 

Walk in Interview. Cafe Mentari membutuhkan marketing communication. Syarat, laki-laki atau perempuan, menguasai sosial media, punya pengalaman minimal setahun di bidang markom, belum menikah.

 

Aku berhenti membaca sampai di situ. Lalu membalas pesan Erna.

[Apaan cocok, di persayaratan keempat aku auto gugur]

[Lho kan kamu emang belum menikah. Belum menikah lagi :D :D :D]

[Sialan]

[Tau ngga cafe itu punya siapa?]

[Punya siapa? Punya Bapakmu?]

[Aaamiin Ya Allah… Punyanya Galang tauk!]

[Galang siapa? Galang penjual gado-gado depan rumah kamu itu?]

[Ye... itumah Tarjo. Galang, Galang artis, itu lo yang main sinetron Aroma Cinta]

       [Ah ga kenal]

[Makanya sesekali nonton inpotainment kek, lambe murah kek, biar ga kudet. Masih punya fotokopian KTP kamu yang lama?]

[Masih. Kenapa?]

 

☕☕☕

 

Aku tiba di mall pukul sepuluh pagi. Tepat ketika pintu mall dibuka aku masuk. Mungkin hari ini aku adalah pengunjung pertama mereka.

Secepat kilat aku masuk ke toko sepatu. Siang ini aku harus datang ke wawancara kerja. Sialnya baru semalam aku tahu, kalau sepatu pantofelku yang sudah lama nganggur dan kusimpan rapi dalam dus, sudah tidak layak pakai lagi, bagian kulitnya sudah banyak yang mengelupas.

Aku nekat juga melamar lowongan kerja yang diinfo Erna semalam dengan menggunakan fotokopian KTP lamaku saat masih lajang.

“Kalau nanti kamu keterima kerja, tunggu beberapa saat sampai mereka tau kamu karyawan yang bisa diandalkan, nah saat itulah kamu bisa jujur dengan statusmu.” Begitu saran Erna kemarin melalui pesan whats app.

Awalnya aku enggan, aku orang yang paling tidak bisa berbohong, tapi penasaran juga sih, bisa tidak ya kira-kira aku lolos tes wawancara kerja. Disamping, butuh  duitnya juga tentu saja. Mau sampai kapan aku hanya hidup mengandalkan uang santunan kematian Mas Arya? Rania semakin besar, akan masuk sekolah, biaya yang dibutuhkan juga pasti semakin banyak.

Setelah mendapatkan sepatu yang cocok, aku bergegas keluar mall. Ternyata hujan. Deras lagi. Pantasan, berulangkali aku coba order taxi online dari sebelum keluar mall tadi, tak ada yang nyangkut.

Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, ya siapa tau saja ada taxi lewat. Ah itu dia, sebuah taxi berwana biru melaju. Di bagian atasnya lampu menyala, tanda taxi itu tak berpenumpang.  Aku melambaikan tangan dan bergegas membuka pintu, ketika taxi berhenti tepat di depanku. Tapi di saat bersamaan, seorang lelaki tinggi bertopi masuk dari sisi pintu yang lainnya.

“Lho?”

“Ehm, maaf, saya yang memberhentikan taxi ini,” kataku berusaha sopan.

“Saya juga.” Si lelaki bertopi menjawab ketus, duduk, dan menutup pintu taxi.

“Jalan Pak,” katanya lagi tanpa sedikitpun memperhatikanku yang masih terbengong-bengong dengan separuh badan masuk ke dalam taxi.

“Eh tunggu-tunggu enak aja!” Aku mulai hilang kesabaran. Tapi rasanya sia-sia bicara sama laki-laki tak punya sopan santun ini.

“Pak, saya tanya, siapa yang memberhentikan taxi ini duluan?” Aku memilih bertanya pada sopir taxi

“Aduuh kalian ini bikin ribut di taxi saya. Sebenarnya kalian mau ke mana sih?” Pak Sopir malah balik bertanya.

“Kota Lama,” jawabku dan si lelaki bertopi hampir berbarengan.

“Oalah, tujuan kalian sama to. Ya sudah bareng aja. Hujan-hujan gini susah dapat taxi. Ayo mbak masuk, tutup pintunya.”

Aku tidak punya pilihan lain. Daripada telat wawancara, biarlah satu taxi sama orang asing menyebalkan ini. Toh Kota Lama tidak terlalu jauh dari sini, jadi hanya sebentar aku duduk bersebelahan dengannya.

“Mbaknya mau ke mana?” tanya Pak Sopir memecah keheningan kami di dalam taxi.

“Kafe Mentari Pak,” jawabku.

“Lho kafenya kan belum buka Mbak?”

“Iya saya ada tes wawancara kerja di sana.”

“Oh gitu. Moga sukses ya Mbak tesnya.”

“Hehe makasih Pak.”

“Kalo Masnya mau ke mana?”

“Kafe Mentari,” jawaban dingin si lelaki bertopi sontak membuatku kaget. Sementara ia masih bergeming, asik dengan ponsel di tangannya.

“Lho, sama lagi? Wawancara juga?” tanya si Bapak.

Lelaki bertopi tidak menjawab. Diam-diam aku mengamatinya, penasaran juga apa benar dia mau melamar kerja di tempat yang sama? Sebagai apa? Tempo hari aku lihat ada beberapa lowongan kerja lagi di Kafe Mentari selain sebagai Markom. Waduh gawat, aku bisa punya rekan kerja semenyebalkan dia. Ah tapi belum tentu kan dia diterima. Ya, aku juga belum tentu keterima sih.

“Sepertinya, kalian memang berjodoh hahahaha,” tawa Pak sopir membuyarkan lamunanku. Kesal.

Tak lama kemudian, taxi menepi di depan Kafe Mentari. Aku mengulurkan uang seratus ribuan pada Pak Sopir. “Mbak, uang pas aja ada? Dua puluh delapan ribu saja, saya baru narik nih, nggak punya kembalian.”

“Eh? Aduh, ngga ada Pak.” Hanya tinggal selembar itu uang di dompetku.

“Ini saja Pak.” Si lelaki bertopi meletakkan selembar uang ke tangan Pak Sopir.

“Yah... sama aja, seratus ribu juga, kan saya bilang ga ada kembalian.” Kata Pak Sopir begitu melihat nominal uang yang ada di tangannya.

“Kembaliannya buat Bapak.” Lelaki bertopi menjawab seraya berjalan masuk ke dalam cafe.

Aku terperangah, rasanya apa yang barusan dia lakukan, mencabik-cabik harga diriku.

“Wah makasih mas,” kata Pak Sopir setengah berteriak, sambil melambaikan selembar uang merah di tangannya.

Sialan! Baru juga mau melamar kerja, udah songong begitu.

Di dalam kafe, suasana sudah cukup ramai. Usai mengisi daftar hadir, aku bergabung dengan para pelamar kerja yang lain. Beberapa orang kuajak ngobrol basa-basi. Eh, tapi ke mana si lelaki bertopi? Mengapa dia tak kelihatan ya? Hmm mungkin sedang ke toilet atau… ah bodo amat ngapain jadi nyari dia sih.

Satu setengah jam berlalu. Aku menunggu panggilan wawancara dengan gelisah. Memikirkan Rania. Ia kutitipkan di TK tempat Erna mengajar. Duh, kira-kira Rania rewel tidak ya?

“Nadia Putri Wijaya.” Ah akhirnya namaku dipanggil.

Aku masuk ke sebuah ruangan, ada dua orang lelaki yang sudah duduk di sana. Satu orang lelaki berpakaian rapi, dengan kemeja biru dongker yang dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam. Kutebak, usianya mungkin sekitar tiga puluh lima tahunan. Lalu satunya lagi...

Lelaki bertopi? Lho kapan dia masuk ke sini? Dia masih diwawancara? Mengapa aku sudah dipanggil?

“Selamat pagi Pak.” Aku tersenyum ramah sambil sedikit menundukkan kepala pada si lelaki berkemeja biru dongker.

“Oh selamat pagi, silakan duduk.” Lelaki itu menunjuk kursi yang ada di depan mejanya.

“Nadia Putri Wijaya?” Ia menyebut namaku.

“Iya Pak.”

“Sebelumnya perkenalkan, saya Wira, manager dari Kafe Mentari,” katanya sambiil tersenyum ramah.

“Lalu ini..” tangan kanan Pak Wira mengarah pada si lelaki bertopi.

“Ini Galang, pemilik Kafé Mentari.”

Ha?

 

3. Selamat Kamu Diterima

 

Aku melongo. Tapi berusaha bersikap sewajar mungkin menutupi rasa kagetku. Tak mungkin aku menunjukkan ekspresi tak mengenali calon bos sendiri. Apalagi dia ini aktor yang cukup populer, katanya siih...

“Oh iya iyaaa Pak Galang, halo,” aku memaksakan diri untuk tersenyum padahal sebenarnya masih jengkel dengan kejadian tadi di taxi.

Galang membuka topi yang sedari tadi dikenakannya. Kini wajahnya terlihat sangat jelas. Ternyata tampan juga calon bosku ini. Sepintas mirip Dikta vokalisnya Yovie and Nuno.

“Baik, Nadia, pertanyaan pertama, kenapa kamu melamar kerja di sini?” tanya Pak Wira tiba-tiba yang membuatku gelagapan. Pikiranku masih menerawang, bertanya-tanya apakah insiden taxi tadi akan mempengaruhi penilaian Galang terhadapku.

“Karena butuh duit Pak!” jawabku spontan. Duh ini bukan jawaban yang kurencanakan. Padahal aku sudah tahu pertanyaan ini bakalan keluar dan sudah merancang jawabannya tadi di rumah.

Aku melirik ke arah Galang, ia tampak tersenyum sinis sambil menggelengkan kepala, seolah mau berkata, matre banget nih orang. Tapi Pak Wira malah tertawa, “Ahahahaa jawaban yang menarik.”

“Dari sekian banyak pelamar tidak ada yang menjawab sejujur kamu.”

“Hahaa iya lah Pak, kalo saya ngga jawab begini, nanti saya ngga digaji lagi!” aku mencoba berkelakar menanggapi perkataan Pak Wira supaya perasaan gugupku hilang.

“Oke. Seandainya kamu diterima kerja di sini sebagai markom, apa yang akan kamu lakukan?”

Aku lantas mempresentasikan hal-hal yang ingin aku lakukan untuk mempromosikan Kafe Mentari. Aku juga menceritakan pengalaman kerjaku sebagai markom di sebuah hotel beberapa tahun silam. Di situlah aku bertemu dengan Mas Arya yang bekerja sebagai manager hotel. Oh tentu, perihal Mas Arya ini tidak kuceritakan pada Pak Wira.

Pengalamanku sebagai micro influecer selepas resign dari hotel dan sudah bekerjasama dengan berbagai brand juga tak ketiggalan kupamerkan, yaa siapa tahu bisa jadi nilai tambah.

“Wah menarik," tanggapan Pak Wira membuatku bernapas lega.

"Kamu berpengalaman sebagai markom juga influencer sehingga bisa melihat dari kedua sisi ketika akan menjalankan tugasmu nantinya. Emm boleh saya tahu akun instagram kamu?” tanya Pak Wira.

“At nadia underscore putri Pak,” jawabku.

Pak Wira lantas nampak mengetikkan sesuatu di ponselnya. “Oh ini ya.”

Ia menunjukkan akun instagramku yang sudah ia buka. Untung saja aku sudah mengarsipkan foto-foto bersama Mas Arya dan Rania di sana.

“Iya betul Pak.”

“Foto-fotonya bagus, follower kamu juga cukup banyak. Follower saya ketinggalan jauh, hahaha.”

Pak Wira berdiri dari tempat duduknya, “Baiklah.” Hmm, sepertinya sesi wawancara sudah berakhir.

“Terimakasih Nadia.” Tangannya terulur menyalamiku. “Selamat ya, kamu diterima.”

 

“Hah?” Aku kaget, tidak menyangka secepat ini aku diterima. Rupanya, Galang pun menunjukkan ekspresi keterkejutan yang sama. Ia nampak tak setuju Pak Wira menerimaku bekerja di kafenya.

"Tunggu Bang, kenapa... "

“Bukannya kamu bilang aku berhak seratus persen menentukan siapa yang akan kuterima?” Pak Wira dengan cepat memotong ucapannya.

“Iya tapi kan, kita harus pikirkan baik-baik, ngga bisa secepat ini dong.” Sialan, si Galang ini merusak kebahagiaan orang aja.

“Lang, kita tak punya banyak waktu, minggu depan kafe ini sudah harus buka. Dari semua calon karyawan yang sudah kita wawancara tadi, aku paling sreg dengan jawaban Nadia. Jadi mari kita coba bekerjasama dengannya.” Pak Wira mencoba meyakinkan.

Galang nampak pasrah dengan keputusan Pak Wira, meski terpaksa. Ah aku tidak peduli. Sepertinya aku tidak akan terlalu sering bertemu dengannya. Ia pasti sibuk syuting di Jakarta dan menyerahkan urusan kafe sepenuhnya pada Pak Wira.

“Nadia, kamu akan digaji sesuai UMR dan akan mendapatkan bonus jika ada lembur atau menunjukkan kinerja yang memuaskan. Kita akan bekerja mulai hari Senin. Apakah kamu bersedia?” tanya Pak Wira.

“Bersedia Pak!” jawabku mantap. “Saya pasti akan bekerja sebaik-baiknya Pak Wira, terimakasih," kataku dengan senyum mengembang sambil menganggukkan kepala. Sebodo amat deh dengan tanggapannya Galang kaya apa.

“Alhamdulillah. Kamu bisa pulang sekarang. Sampai jumpa Senin depan ya.” Pak Wira nampak lega mendengar jawabanku.

Setelahnya, aku berjalan menuju pintu dan melewati Galang.

“Mari, Pak Galang.” Meski enggan, aku tetap harus berpamitan dengan sopan pada cecunguk satu ini. Bagaimanapun dia bosku. Kebutuhanku akan uang lebih mendesak daripada gengsiku.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, bergegas kuambil ponsel di tas untuk memesan taksi online. Sambil menunggu taksiku datang aku mengirim pesan pada Erna, memberitau bahwa aku akan segera pulang dan menjemput Rania.

Tiba-tiba sebuah mobil menepi di depanku. Eh apa taksiku sudah datang? Kenapa cepat sekali? Aku melihat dengan seksama mobil yang ada di hadapanku. Lho ini kan…

“Arman?” Nampak sosok dingin adik iparku,ketika ia menurunkan kaca mobil.

“Masuk!” ucapnya terdengar ketus.

“Aku sudah memesan taksi, kamu tidak perlu...”

“Batalkan!” Lagi-lagi ia memerintahku seenaknya.

Daripada ribut di pinggir jalan begini, cepat-cepat kubatalkan taksi yang kupesan. Nanti sajalah akan kuomeli dia habis-habisan di dalam mobil. “Apa-apaan sih? Kasihan driver yang ku-cancel tadi tahu nggak!” protesku setelah duduk dan memasang seat belt di mobil Arman.

“Mana Rania?” Sepertinya ia sama sekali tidak peduli dengan omelanku. Huh!

“Kutitipkan di tempat Erna,” jawabku.

“Tega sekali kamu ya, setelah ia kehilangan ayahnya, kau buat juga dia kehilangan ibunya.”

Darahku seketika mendidih mendengar ucapan Arman. “Apa maksudmu? Ia kutitipkan karena aku harus tes wawancara kerja. Kau pikir buat apa aku kerja? Buat menghidupinya juga kan,” kataku dengan suara tinggi.

“Aku Pamannya. Paman yang harus bertanggung jawab pada ponakan yatimnya.”

“Tapi mau sampai kapan, Man? Kalau kamu sudah menikah nanti, apakah istrimu tidak keberatan berbagi harta dengan orang lain? Kamu nggak mikir sampai ke situ ya?”

“Oh baiklah. Kalau begitu, aku tidak akan menikah.”

“Apaa?”

“Aku tidak akan menikah, sebelum memastikan ada orang yang bisa menjaga dan menghidupi kalian dengan baik," ucapnya penuh penekanan. Ia lantas menginjak pedal gas, melajukan mobil dengan kecepatan cukup tinggi.

❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

 

Dear reader jangan lupa follow author dan komentar yang seru ya.  Baca juga part selanjutnya, mulai Rp.4000,- untuk 5 bab. 

Kalau mau lebih murah beli Paket Bila Jodoh Full Part. Khusus paket full part ada diskon tambahan 5K dengan memasukkan kode voucher BilaJodoh5K

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Kategori karya
Bila Jodoh

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai syarat dan persetujuan? Laporkan