Beberapa bulan yang lalu gue menyadari ada perubahan di Gramedia. Persis di sebelah Gramedia Pondok Indah Mal, tiba-tiba dibangun café yang tersambung ke toko bukunya. Gue langsung mengabarkan ini ke temen-temen dengan heboh. Buat gue yang pemalas, ini konsep yang keren abis. Gue bisa beli buku sekaligus dapat tempat baca bukunya tanpa harus mikir mau ke mana lagi.

“Bisa jadi gitu, tapi bisa hal lain,” balas Gideon di grup Whatsapp setelah gue berpamer ria. “Bisa aja dia mau ngubah model bisnisnya buat narik pengunjung.”

Asumsi Gideon bisa jadi benar atau salah. Pembahasan di grup berhenti seiring gue yang masuk ke café. Gue mau baca buku Latihan Tidur yang baru aja gue beli di sebelah.

Gue mengangkat tangan, memanggil pramusaji. “Mas, biasa ya!”

“ANDA KAN BARU PERTAMA KALI KE SINI HEY!”

"Oiya..."

Anehnya, seiring berjalannya waktu, gue merasa posisi rak di Gramedia nggak sama lagi. Pikiran pertama gue mungkin sama kayak kamu. Oh, tata letaknya diubah biar suasananya segar dan terasa baru. Tapi, gue baru ngeh kalau di beberapa toko buku yang gue datangin, tahu-tahu menjual peralatan outdoor. Gue bahkan pernah ke Gramedia BSD dan ngeliat dia jualan tenda camping.

Ya, Anda tidak salah baca, Sahabat. Tenda camping. Di toko buku.

Karena penasaran, gue samperin itu tenda camping warna biru. Gue buka resletingnya dan masukin kepala gue. Siapa tahu aja itu tenda sebenernya nggak dijual. Tapi emang lagi ada Fiersa Besari lagi nginep aja.

Berhubung nggak ada Fiersa Besari (menurut lo?), gue coba tanya ke mas-mas yang jaga.

“Mas, ini tenda camping-nya dijual?”

“Coba tanya hatimu skali lagiiiiii~”

Lah, malah mas-masnya yang Fiersa Besari.

Sungguh absurd sekali tulisan ini sodara!

Intinya, segala hal ini membawa gue kepada satu kesimpulan: ada yang berubah dengan industri buku.

Gue nggak tahu apakah perubahan ini membawa kabar baik atau buruk. Tapi buat gue begini: buku, adalah salah satu bentuk media hiburan. Form of entertainment. Sama kayak bioskop, langganan lagu di Spotify, Netflix, langganan koran, pentas seni, ikut kelas olahraga, dan berbagai media hiburan lain yang terus bermunculan. Artinya, kompetitor buku semakin banyak. Artinya, pilihan orang untuk menghabiskan uang lima puluh ribu semakin luas. Untuk membeli sebuah buku, kita harus membayar opportunity cost yang beragam.

Dari sisi penulis, masalah yang muncul beda lagi.

Gue coba mulai yang paling basic, image. Seorang penulis bukanlah image yang cukup keren untuk sebuah profesi. Karena output dari penulis berupa tulisan (ya iya tong!), pandangan yang beredar di masyarakat adalah “menulis itu gampang”. Apa susahnya, sih, nulis? Lagipula semua informasi, kan, udah ada. Kalau penulis butuh riset, tinggal buka google, dan masalahnya selesai. Hal ini berimbas pada satu hal: upah yang minim.

Dalam lingkup kerja profesional, posisi penulis bisa dikatakan agak miris. Ketika di awal kita sudah mendapatkan standar upah yang rendah, karir penulis di sebuah perusahaan bisa dengan mudah mentok begitu aja. Kalau itu yang terjadi, nggak ada yang bisa dia lakukan lagi. Bagi anak-anak desain, mungkin ada yang namanya lead designer. Tapi sangat susah untuk menemukan lead writer.

Artinya apa? Udah miskin, susah naek jabatan pula. Huhuhu.

Di sisi lain, jika kamu memutuskan menjadi seorang penulis novel, kamu membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikan satu buku. Bisa 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun. Itupun belum tentu diterima penerbit. Empat tahun lalu gue pernah coba mengirimkan satu naskah ke penerbit. Dan mereka, karena begitu banyak naskah yang masuk, baru bisa memberikan kabar 3 bulan setelah naskah gue kirim.

Dan iya, naskah gue nggak tembus. Mari kita nangis berjamaah.

Belum lagi potongan pajak berlipat yang diterima buku. Pasti ada alasannya mengapa Tere Liye dan Eka Kurniawan sampai sebegitunya tentang hal ini. Dalam writer talk yang dibuat Ernest Prakasa, Raditya Dika bilang, “Sekarang aja buku-buku gue perlu nunggu beberapa bulan sampai royalti gue bisa dicairin. FYI, supaya bisa dicairin royalti buku harus lebih dari 250 ribu perak!”

Terlepas dari buku-bukunya Raditya Dika yang udah lawas, tetap aja kalimat itu bikin calon penulis bergidik.

Dibandingkan profesi lain, penulis juga lebih susah untuk “ngamen”. Seorang penyanyi, misalnya, yang bisa ngamen secara harfiah. Atau desainer yang bisa membuka commission sesuai keinginan pemesan. Buat ngelakuin itu, penulis butuh effort yang lebihNggak mungkin juga kita bilang, “Hari ini lo ulang tahun? Nih, gue tulisin ucapan. Kalo pendek 25 ribu, panjang 50 ribu!”

Yang ada digamparin bolak-balik.

Pasti ada alasannya kenapa penulis masuk ke dalam salah satu profesi yang paling depresif. Kebanyakan penulis merupakan lone wolf. Kehidupan seorang penulis adalah kehidupan seorang penyendiri. Bagi beberapa penulis, bisa jadi proses menulis membuatnya lupa akan hal-hal di sekitarnya kayak makan, atau tidur, atau bersosialisasi. Maka, ada kemungkinan kondisi fisik atau mentalnya terganggu.

Meski begitu, pasti adalah alasannya kenapa penulis tetap ada.

Maka, sebagai penulis, yang gue perlukan hanya memutar otak lebih jauh. (Oke, kayaknya di sini mulai ketahuan deh arah tulisan ini). Dengan adanya platform seperti Karyakarsa ini, penulis diberikan wadah menuangkan karya-karya tulisnya. Di sisi lain, pembaca bisa memberikan dukungan kepada penulis secara langsung. Interaksi antara penulis dan pembaca juga semakin rekat karena ada konten-konten eksklusif yang ditujukan kepada mereka yang memberikan dukungan tersebut.

Sederhananya: penulis diberi kesempatan untuk hidup dari karyanya.

Buat kamu yang belum kenal gue, bisa ikutin aja halaman Karyakarsa gue. Tenang aja. Di sini akan banyak konten yang bisa diakses secara gratis. Buat kamu yang udah tahu siapa gue dan pengin memberikan dukungan, kamu bisa bebas memilih: memberikan dukungan setiap bulan, atau sumbangan lepas, atau sawer seikhlasnya melalui Saweria.

Bantu gue terus menulis dan punya Nintendo Switch lewat dukunganmu!