Saya Menulis Cerpen karena Kangen Mengejek Orang

Beberapa hari yang lalu saya menerbitkan sepuluh cerita pendek di KaryaKarsa. Saya menyebutnya Vol 1. Proses pengerjaannya memakan waktu empat bulan dari awal Januari hingga akhir April 2022. Rasanya? Melelahkan, tetapi juga menyenangkan.

Ini adalah pengalaman baru buat saya, dan dengan begitu ada banyak tekanan dan kecemasan dan pelajaran yang juga baru saya dapatkan. Catatan ini akan membahas hal-hal tersebut.

 

Menulis Itu Susah, Menulis di Internet Lebih Susah Lagi

Ada perbedaan mencolok untuk latensi “umpan balik visual” di aplikasi dan peramban. Misalnya, orang bisa sabar menunggu beberapa menit sebelum bermain Mobile Legends karena tahu penantiannya akan terbayar oleh kualitas grafik 60 FPS. Tetapi di web, jika sebuah blog harus menunggu sepuluh detik untuk memuat, itu hanya akan membuat pengunjung tertawa terbahak-bahak, peduli setan 60 FPS atau bukan.

Hal yang sama berlaku saat membaca. Orang mungkin bisa tahan antara lima hingga sepuluh halaman sebelum menutup buku, tetapi hanya butuh tiga paragraf untuk meninggalkan sebuah laman di web. Itu karena di internet, orang tidak membaca. Mereka memindai. Pernah menemukan artikel di IDN Times yang penulisnya kebanyakan babibu fafifu di bagian pembuka? Persis. Sungguh penulis yang bikin jengkel.

Bagi mereka yang sudah terbiasa menulis artikel, ada satu trik yang hampir selalu berhasil untuk ini. Piramida Terbalik: sampaikan informasi paling penting di awal, taruh detail penting pendukung di tengah, simpan informasi yang tidak perlu-perlu amat untuk dibaca di akhir. Cuma bedanya, di cerpen, dari awal sampai akhir harus penting.

Saya tidak tahu apakah batas toleransi yang rendah ini berlaku juga untuk cerpen, tetapi karena saya menaruhnya di KaryaKarsa dan sudah terbiasa menulis di internet, saya mencoba memakai Piramida Terbalik di beberapa cerpen di Vol 1.

Saya bilang beberapa, tidak semua, karena memang tidak harus melulu seperti itu caranya. Pun tidak cuma itu faktor penentunya. Orang bisa saja melewati suatu bagian karena menurutnya itu terlalu ceramah, atau susunan kalimatnya ruwet, atau terlalu ngalor-ngidul, atau apa pun yang pokoknya tidak berhasil menarik perhatian.

 

Ide + Teknik = Judi

“Apa yang telah terjadi akan terjadi lagi, apa yang telah dibuat akan dibuat lagi; tidak ada yang baru di bawah matahari.” — Ecclesiastes 1:9

Dalam esainya, Neil Gaiman bilang tugas penulis itu bukan mencari ide, melainkan memilah ide. Karena penulis adalah orang yang justru kebanyakan ide. Tetapi kalau kamu merasa kesusahan mendapatkan ide, mungkin kamu harus mendengarkan Jack London: “Inspirasi tidak bisa ditunggu. Kamu harus mengejarnya, kalau perlu dengan pentungan.”

Ide itu murah. Serius. Orang yang pernah membaca The Alchemist mungkin akan bilang “Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi”-nya Eka Kurniawan terinspirasi oleh Paulo Coelho, tetapi orang yang mengenal Syahrazad akan bilang keduanya terinspirasi dari Alf Layla wa Layla.

Pun demikian dengan teknik. Setelah saya membaca One Hundred Years of Solitude, saya pikir yang terpenting dari Garcia Marquez itu bukan tekniknya, melainkan bentuk dan gagasannya. Karena kalau yang terpenting dari Marquez adalah menuturkan takhayul seolah-olah itu benar terjadi, dia sungguh telat dua ribu tahun dari para tukang dongeng di jazirah Arab Saudi. Realisme magis tidak penting. Musa membelah laut dan Yesus menjatuhkan makanan dari langit adalah sebenar-benarnya kisah yang menantang akal sehat.

Jadi saya sepakat dengan Marquez, kita tidak bisa menjadi penulis jika hanya bermodal gagasan. Kita juga perlu tahu bagaimana cara membentuk kemasan. Semua orang bisa mengisahkan sepak terjang seekor Azazil sebelum beliau menjadi Iblis, tetapi hanya orang-orang tertentu yang bisa menahan bokong para pendengar tetap bercokol di tempatnya. Marquez memasukkan hal-hal absurd dengan wajah bata ke dalam novelnya bukan untuk menciptakan dunia sihir, dia melakukan itu supaya kita bisa menerima kesedihan di Macondo.

Dan itu adalah hal yang sulit. Saya pernah nyaris menyerah ketika menulis “Jangan Dulu Tenggelam” karena tidak menemukan bentuk yang tepat. Cerpen ini saya utak-atik tiga kali dengan cara yang berbeda. Pada akhirnya saya meminjam bentuk dari novel ngawur yang dibikin pengarang sableng asal Swedia, sisanya saya anggap judi.

Terkait nukilan Alkitab yang saya kutip di atas, penulis yang beruntung adalah dia yang pembacanya tidak membaca buku-buku yang dia baca. Misalnya, jika mayoritas pembaca Aan Mansyur tidak bisa melacak jejak di “Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi”, berarti dia penulis yang beruntung.

 

Tendensi Berceramah

Ada tiga tipe tukang khotbah. Pertama yang membuatmu mengantuk, kedua yang membuatmu ingin menyumbat mulutnya dengan dua ekor tonggeret, ketiga yang membuatmu ingin menceburkan kepalanya ke bak mandi agar dia bisa berpikir lebih jernih, jangan kepedean, dan mengajaknya berdiskusi perihal beberapa sudut pandang.

Bagaimanapun, hindari menjadi yang pertama. Yang kedua oke karena artinya orang masih mau menyimak ceramahmu, dan yang ketiga lebih baik lagi karena itu berarti ceramahmu berhasil mengajak orang berpikir. Tulisan bagus adalah tulisan yang mengganggu, baik secara emosional maupun intelektual. Sebaliknya, tulisan jelek boro-boro mengganggu, ia hanya bikin kamu menguap. (Jika kamu sering susah tidur dan bingung mau apa, sesekali cobalah baca tulisan teman-temanmu yang menurutmu jelek. Di saya kadang berhasil.)

Persoalannya adalah bagaimana cara tidak menjadi tipe pertama? Saya juga tidak tahu, tetapi saya punya teori rawak yang mungkin benar: alasan kenapa kita jarang mau mendengar pidato karena kita lebih senang mendengar gosip. Jadi jika kamu tidak pandai membual, cobalah mendongeng. Jika tidak bisa mendongeng, cobalah sampaikan wahyu.

“Pada mulanya Tuhan menciptakan bumi dan langit dan gunung ....”

“Maka batu itu menangis karena ingin ikut terbang ....”

“Dan burung-burung menjatuhkan bola api di atas pasukan gajah ....”

Bahasa yang ada di dalam kitab ditulis dengan tingkat keluwesan seorang bocah dalam “Tamasya Pencegah Bunuh Diri” karangan Dea Anugrah bertutur. Itu gaya bercerita yang asyik dan mudah diterima. Bonusnya, di kitab juga ada banyak kisah yang bisa dijadikan bahan ide.

Ada tongkat berubah menjadi ular, manusia bisa bicara dengan hewan, pergi ke langit dalam satu malam, orang mati disalib lalu bangkit dari kubur, wanita mendadak hamil tanpa pernah bersanggama, seorang bapak hendak menyembelih anaknya yang kemudian tiba-tiba berubah menjadi seekor domba—lihat, saya bisa melanjutkan daftar ini selama berhari-hari.

 

Menulis untuk Bersenang-senang

Untuk urusan ini, Ernest Hemingway mungkin tak patut ditiru, tetapi bolehlah Roberto Bolano dianggap yang paling berani dan Charles Bukowski yang paling jujur. Namun di atas segalanya, barangkali cuma Kurt Vonnegut yang paling kurang ajar.

“Jika kamu benar-benar ingin menyakiti hati orang tuamu, dan kamu tidak berani menjadi gay, paling tidak hal yang bisa kamu lakukan adalah terjun ke bidang seni.”

Dua kalimat berikutnya dari omongan Vonnegut yang saya catut adalah bagian kurang ajar yang saya maksud. Dan karena saya juga kurang ajar, saya tidak mau memberitahumu. Sila cari tahu sendiri.

Tetapi begini, saya sepakat dengan Dea Anugrah: selera bisa berubah, keterampilan bisa merosot entah di mana, dan selalu ada pilihan untuk berhenti menulis. Setiap kali saya merasa hampir putus asa karena kata-kata saya mogok di separuh jalan, satu-satunya dalil yang saya ingat adalah titah Margaret Atwood: “Tidak ada yang memaksamu menulis. Kamu sendiri yang memilih itu, jadi berhentilah merengek dan selesaikan pekerjaanmu.”

Bahwa menulis itu susah, ya, saya sepakat. Tetapi tidak perlu terlalu didramatisasi. Penulis adalah makhluk yang kerjanya bertapa di dalam gua untuk merenung sambil menanti hilal itu cuma mitos. Penulis adalah makhluk sosial, mereka butuh rekan. Saya mengerjakan Vol 1 bersama dua first reader dan satu proofreader. Tidak ada editor karena tidak punya teman editor yang sedang menganggur. Editornya diri sendiri.

Lintang Citra dan Nur Halipah, dua sahabat baik saya, sebagai first reader tugasnya menjaga draf di Vol 1 agar tidak ugal-ugalan. Alur kerja kami begini: saya punya premis, saya kembangkan menjadi plot, saya tulis sekitar 600 kata, saya berikan pada mereka. Kalau mereka bilang “menarik”, berarti saya lanjut. Selain dari itu artinya revisi atau mencari premis baru. Tentu saja mereka tidak sekadar jadi tukang seleksi. Mereka juga membantu saya untuk memilih bentuk dan penyampaian.

Nasywa Khairunnisa (kelas dua SMP), adik bungsu saya, sebagai proofreader abal-abal tugasnya mengecek tingkat kerumitan kosakata. Ketika cerpen sudah selesai saya tulis, saya akan memberikannya pada Nasywa. Kalau di tengah baca dia berhenti dan bertanya “mengaktualisasikan itu apa, sih?” berarti harus saya ganti dengan kata yang lebih simpel, misalnya, mewujudkan. Itu di tingkat kata. Di tingkat kalimat, kalau dia bilang “yang ini maksudnya gimana?” berarti kalimat saya masih kacau.

Kalau kamu sedang menggarap cerpen dan ingin mencoba alur kerja seperti di atas, usul saya jangan pilih orang yang mencintaimu. Jangan pilih pacar, gebetan, suami atau istri. Jangan pilih mereka karena mereka pasti bias, kecuali kamu Pandji Pragiwaksono dan istrimu Gamila Arief. Carilah orang yang pandangan dan seleranya kamu sukai, dan kalau bisa yang selalu sedia diajak gontok-gontokan selama beberapa jam. Itu yang paling penting. Gontok-gontokan selama beberapa jam.

 

Jangan Takut Tabrak Aturan

Norman Erikson Pasaribu pernah bikin heboh dunia kepenyairan di pengumuman Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015. Naskahnya, Sergius Mencari Bacchus, berhasil menjadi juara pertama di perlombaan tersebut. Apa yang membuatnya heboh? Orang-orang tidak terima dia menang. Puisinya dianggap kurang bunyi, puisinya dipandang terlalu prosa. Tetapi apa yang membuat dia menang? Norman membawa warna baru.

Banyak orang sering ragu mencoba menulis dengan gaya yang kurang umum, hanya karena ada banyak paus dan santo yang telah menjadikan beberapa gaya sebagai kanon. Misalnya, yang sejak dahulu selalu ramai dibicarakan, bentuk “cerpen curhat” dibilang bukan cerpen. Pemikiran para paus dan santo ini muncul karena mereka menganggap sebuah cerpen harus berasal dari kontemplasi yang mendalam. Mereka mungkin benar, mungkin juga tidak. Tetapi kalau kamu berani menyangkal Tuhan, mestinya kamu lebih berani melanggar aturan.

Penulis itu buruh seni, bukan nabi. Cerpen tidak perlu berisi pesan moral, tidak perlu menolong jiwa-jiwa yang kesepian, tidak perlu menghadirkan “dunia alternatif jika kamu sudah muak dengan duniamu”. Cerpen boleh ditulis dengan gaya yang main-main, boleh ditulis hanya untuk menghibur penulisnya sendiri, boleh juga ditulis karena kangen mengejek orang.

George Orwell punya enam aturan menulis. Lima pertama saya lupa, satu yang terakhir selalu saya laksanakan: “Langgar aturan saya jika itu membuatmu menulis sesuatu yang buruk.”

Di Vol 1 saya bereksperimen dengan banyak bentuk yang belum pernah saya coba. Saya menjadi anak kecil, memakai sudut pandang orang kedua, membangkitkan para naga, menulis fantasi, bermain-main dengan repetisi. Apakah berhasil? Saya tidak tahu, tetapi saya senang. Saya bahkan merayakannya di “Anjing Paling Mungil Menyalak Paling Bising”. Dan saya tipe yang akan memungkinkan segala cara. Jika saya harus membuat sekuntum bunga bisa bicara, saya akan buat ia bicara.

Kalau kamu juga ingin coba-coba bentuk baru tetapi teman-temanmu terlalu bawel dan sok tahu, hal terbaik pertama yang bisa kamu lakukan adalah mengatakan ini: “Aku lagi baca Arthur Harahap dan mau coba menulis seperti dia”. Hal terbaik kedua yang bisa kamu lakukan adalah mencari teman baru. Benar. Pada situasi tertentu, kacang lupa kulit adalah orang-orang yang ingin maju.

 

Yang Fana Adalah Fiksi

Beberapa cerpen saya ada yang berjarak, ada yang dekat, ada juga yang campuran keduanya. Untuk yang berjarak, awalnya, saya takut. Saya takut cerpen-cerpen saya tidak bisa diterima karena barangkali terasa aneh bagi yang membaca. Untungnya saya punya Lintang Citra dan Nur Halipah yang selalu siap memberi kuliah motivasi yang memacu adrenalin, dan tampaknya saya harus membaca ulang The Subtle Art of Not Giving a Fuck.

Saya membuat cerita tentang anak yang pergi ke bulan naik Kijang Terbang, tentang kerajaan tempat para pendongeng berkumpul untuk berbagi kisah, tentang Lembah Merah tempat para keturunan dewa hidup di sana, tentang satu kota yang tiba-tiba diserang zombi, tentang tanah abadi di mana pohon-pohon tidak akan pernah mati karena di tempat itu hanya ada satu hari, dan seterusnya dan sebagainya.

Pertanyaannya adalah kenapa?

Kalau kamu berharap jawaban keren untuk dijadikan takarir di Instagram, maaf, saya tidak punya. Ini bukan mau sok tampil beda atau semacam gerakan melawan arus utama (toh, sudah banyak juga penulis yang lebih tak masuk akal daripada saya), saya hanya merasa saya orang yang tipikal. Saya laki-laki, Islam, heteroseksual, tinggal di Pulau Jawa. Kalau saya menghabiskan sepuluh slot di Vol 1 untuk mengisahkan diri sendiri, saya takut hasilnya cuma keluhan-keluhan klise khas golongan masyarakat kelas menengah ngehek bergelimang privilese.

Memang tidak ada yang salah dengan itu, tidak ada yang melarang pula. Hanya saja saya tidak mau menaburkan garam ke laut. Jadi saya pikir, jika lautnya sudah terlalu asin, ketimbang saya ngedumel sambil menumpahkan kecap pedas dan saus tartar, kenapa saya tidak main ke tambak atau kolam atau sungai? Siapa tahu saya bisa bertemu dengan makhluk-makhluk yang tidak ada di laut. Dan kalau kelak saya sudah benar-benar bosan main air, gampang, saya masih bisa terbang ke langit.

Tidak takut dicap aneh? Setelah dikuliahi Lintang Citra dan Nur Halipah, sudah tidak. Lagi pun seaneh-anehnya fiksi, saya kira masih lebih ajaib dunia nyata. Tak perlu bicara yang jauh-jauh. Di Twitter, kalau kamu mau mengikuti akun-akun yang informatif ketimbang cuma akun bokep, kita bisa dengan mudah menemukan ada bapak memerkosa anak sendiri, suami membacok istri, atau mas dan mbak pegiat sastra mahalucu sibuk ngetweet memaki pelaku pelecehan seksual sambil tanpa malu-malu tetap bikin cerpen yang misogini. Bukankah itu ajaib sekali?

Ya, kawan, yang fana adalah fiksi, keganjilan umat manusia abadi.

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai general.terms? laporkan