Gadis Noken

4
2
Deskripsi

 

Papua. Aku menatap pemandangan dari balik jendela pesawat. Aku berkerenyit ngeri. Semuanya hutan. Dimana-mana hutaaan! Ah, rasanya aku terdampar ke Jaman Flinstones!

Pesawat mendarat mulus lalu berhenti di ujung landasan.

Beberapa bule bertepuk tangan sukacita.

Fiuh, Ah, Aku sampai juga. 

Di lobi bandara, aku tergugu. 

Aku terdampar. Dipaksa berpisah dengan sahabat-sahabatku sejak SD. Harus mengikuti Papa bertugas di ujung dunia ini, hiks. 

Melihat suasana bandara, aku langsung ingin menjerit-jerit histeris. Ingin segera memesan tiket kembali ke Jakarta. Aku...

Aku rindu sekolahku yang rindang pepohonannya walau letaknya di jantung ibukota. Aku kangen mal dan TIM. Juga sanggar tari yang kuikuti, Kafe tempat aku nongkrong bersama sahabat-sahabatku. I hate this town. 

“Anak-anak, Papa dimutasi ke Papua menjadi kepala cabang kantor disana. Kalian siap-siap ya,” kata Papa tenang namun bak disambar geledek rasanya bagiku.

“Papuaa? Horee!” Adikku girang. 

 “Aku tinggal disini saja, Pa..aku sudah kelas X, sebentar lagi ujian nasional. Lebih baik aku kos, aku janji tiap hari menelpon ponsel Mama dan Papa, kita chatting lewat Skype..pakai web kamera..” bujukku melirik Rendra jengkel.

Dalam hal ini, aku tak punya sekutu. 

Rendra, anak kelas 8 iitu memang berjiwa avonturir. Penulis favoritnya saja Gol A Gong. Ia selalu ingin bertualang ke tempat baru dan menuliskannya di blog. Hadeh. Beda dengan aku yang sudah beradaptasi. Susah akrab dengan orang hingga sahabatku hanya bisa dihitung jari sebelah tangan. 

Papa menggeleng. “Mana mungkin Papa dan Mama tenang bekerja dan tinggal disana kalau kamu kos disini? Tidak, kita adalah keluarga. Semua harus ikut..”

            Tangisku pecah. “Ayolah, Pa..kan ada nenek di Bandung, aku akan pulang tiap hari Sabtu..plis, Pa..”

         “Maafkan Papa, Nak..tapi keputusan sudah bulat. Kamu bisa kos  kalau mahasiswi, kemasi barangmu ya..”

          This is it. Lemas sekali kakiku. Aku baru saja menikmati indahnya masa SMA. Diterima di sekolah favorit lalu Papa tiba-tiba datang menjatuhkan bom untukku. Mama tak mampu berbuat apa-apa. Tidak adil!

 

***

“Itu Danau Sentani,” tunjuk Pak Win, supir kantor yang menjemput di Bandara Sentani.

Amazing! Aku ingin teriak tapi gengsi. Aku kan lagi ngambek? Papa pernah mengajak kami berlibur ke Singapura, Thailand dan Hongkong. Tapi, tak ada yang seindah ini. Aku sedikit menyukai Papua. But, I miss my Jekardah!

Kami sampai di kota Abepura yang ramai. Lagi-lagi aku merasa di negeri antah berantah. Tak lama kemudian, Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar. Rumah dinas selama Papa ditugaskan menjadi kepala cabang oleh perusahaan.

          “Kita sudah sampaaaai! ” kata Papa tersenyum cerah. 

Riang banget dan cenderung lebay. Kontras dengan hatiku yang gloomy. Kami berkeliling di setiap ruangan. Papa menunjuk sebuah kamar yang bakal jadi kamarku. Ah, aku rindu kamar lamaku!

            “Tenang, kamar ini bakal dicat biru muda seperti kamar lamamu. Nanti Papa pesankan rak di tukang kayu untuk menyimpan tas-tas koleksimu. Kamu googling saja modelnya. Papa yakin kamu bakal kerasan disini..” Papa seperti bisa membaca pikiranku. 

            Akhirnya aku mendapatkan rak idamanku. Tapi terlambat. Tetap saja tidak sama. 

***

             Pagi di Abepura.   Aku menyusuri jalanan menuju sekolah. 

             Udaranya segar. Pepohonan dikiri-kanan. Sebulan di sini, aku merasakan semangat baru. Aku lebih memilih jalan kaki atau naik sepeda lipatku daripada diantar Papa. Aku suka menikmati pagi sambil melamun, menghirup udara segar. 

            Sekolahku, SMAN 1 berada agak di perbukitan. Kita harus berjalan agak menanjak untuk sampai disana. Jika tak diantar Papa, aku naik taksi. 

            Oops, jangan bilang aku sok gaya ya. Taksi disini sebutan untuk angkot. Hanya duduknya nggak berhadapan kayak lazimnya angkot. Kursi diatur seperti mobil biasa dan taksi yang laris diperebutkan anak-anak sekolah adalah taksi dengan musik paling jedag-jedug dan ekstrem sound sistemnya. Berisik gilaaa!.

              Untuk menghibur diri, aku memakai koleksi tasku berganti-ganti setiap hari ke sekolah. Bukannya pamer, tapi bag is my passion. Semangatku bangkit lagi kalau menyandang tas favoritku.

Hehe. Jangan ketawa ya. Anak SMA sepertiku penggila tas. Tenang, aku nggak kayak tante-tante sosialita yang mengagungkan brand kok. Aku suka segala macam tas kecuali yang KW, eww. Aku suka produk yang unik keluaran distro. Langka en punya statement.

            Aku suka berburu tas lokal seperti buatan Tanggulangin. Cool! Ada juga tas etnik manik-manik dari Dayak dan Toraja oleh-oleh Papa kalau tugas di daerah. Love it. Tapi, tas bermerek seperti Coach dan Fossil aku punya. Bukan beli sendiri sih. Hadiah dari Mama pas aku ulang tahun atau nilai raporku cemerlang. Tas sandang Zara kudapatkan dengan menabung uang jajan selama 5 bulan! 

Nyaris setengah tahun tanpa jajan! Untung, aku punya penghasilan menulis cerpen dan mengirimnya ke majalah. Jadi, aku masih bisa nafas, hihi. Mama mengomeliku karena pengorbananku untuk membeli tas extremely lebay katanya. Aku nyengir saja.

“Biasa aja kalau koleksi sih, yang hebat tuh yang bisa memproduksi!”

“Ih, Mama, kalau nggak ada yang koleksi. Produsen tas nggak ada artinya dong! Nggak laku!” 

Mama menjawil pipiku gemas. “Ih, kamu pinter jawab ya!”

Bisa dibilang, Hidupku di Papua ceria ketika mengenal Agnes. Teman sebangkuku Agnes Mano, namanya. Ia gadis manis dan bawel banget. Perawakannya tinggi dan berisi. Atlet banget dah. Aku keliatan kecil banget di sebelahnya. Bodiku kan kurus dan pendek. Kubayangkan kalau aku sampe membuat Agnes marah. Wah, penyet aku!

          Dengan cepat, kami akrab. Habisnya, dia Miss Chit-chat. Ngobrool terus. Bahkan saat sedang di kelas. Ibu Lali, guru Matematika beberapa kali menegur kami. Bahkan, Pak Yoseph guru Sejarah sampai melempari kami dengan gumpalan kertas,“

         “Eh, kalian tra bisa diam ka? Pi sana keluar sudah!”`

         Waa..kami diusir! *anak baik-baik shock.

Agnes mengajakku mengelilingi kota ini. Kami berfoto narsis di Polimak, bukit dimana orang bisa memotret keindahan Jayapura dari atas. Sering dibilang Jayapurawood untuk menyaingi Hollywood, hihi. Tapi aku agak stres dibawa kesana. Tinggi boo! Tapi teteup..fotonya kuposting di akun Facebook dan Path, haha.

Oh iya, Agnes dan aku punya satu kesamaan. Kami sama-sama bag maniac! Kalau aku tiap hari ganti, Agnes sebaliknya. Setiap hari ia membawa noken sebagai tas sekolah.

Do you know noken? Noken itu tas rajut khas Papua. Aku pertama kali melihatnya ketika melintasi Danau Sentani. Seorang ibu tua membawa sayur-mayur banyak sekali di dalam sebuah tas rajut. 

Ya, tas rajutnya besaar dan cara membawanya aneh. Bukan dijnjing atau jadi ransel atau disandang di bahu layaknya perempuan. Nggak. You know what? She carry her bag on her forehead! Di dahi! Cool!

            “Itu tas khas Papua, Non..dirajut dari serat kulit kayu, alami..handmade..hanya orang Papua yang boleh membuatnya. Tasnya multifungsi, biasa dipakai untuk membawa hasil panen, hadiah untuk tamu, atau upacara adat, Non!” kata Pak Win.

            Oh, noken. Malamnya, aku googling di laptop dan menemukan banyak sekali artikel tentang noken. Tapi, aku tidak tertarik. Noken tidak seglamour tas etnik Toraja atau Dayak yang penuh manik-manik berwarna-warni. Noken terlalu plain. Look old with their shabby colour. 

            “Itu namanya alami, sayang..” kata Mama ketika kami berbincang tentang noken.

            Aku mengedik. Tapi, Agnes berpendapat lain. Dia penggemar noken sejati! Tiap hari ia membawa peralatan sekolahnya dengan noken. Padahal, noken itu kan mirip jaring dan berlubang-lubang ya. Kelihatan dong seluruh barang bawaannya? Mengundang pencuri *halah emang bawaan anak sekolah apaan sampai mengundang maling? Hihi.

Saat kami pergi berenang di Tirta Mandala, kolam renang di Jayapura. Aku memakai tas renangku yang kiyut dan berwarna pink. Kolam renangnya ajaib lho. Bersebelahan persis dengan laut, airnya pun bukan air biasa. Tapi air asin! Wow…langka! Mata pedih sih kena airnya tapi nggak sabar pulang ke rumah, posting cerita dan fotonya di Path dan pamer pada teman-temanku di Jakarta!

Agnes bawa apaa? Yak, tentu saja noken jadi tas renangnya. Ia hanya menambahkan kresek untuk menaruh baju renangnya yang basah. Pergi les di rumah Ibu Sitepu? Sama saja. Noken itu disandangnya di bahu. Kami berputar-putar di Kotaraja Dalam naik sepeda, noken itu ditaruh di keranjang sepeda untuk membawa minuman dan kotak bekal. Bahkan ketika ia mengajakku ke Kampung Kayu Pulo di Jayapura, dia pakai tas itu!

Oalahh..aku sudah berganti tas 17 kali dalam berbagai event, Agnes still with her noken! The one and only, noken! Aww..aww..

            Oh, jangan bilang Agnes nggak mampu beli tas sekolah kayak yang aku dan anak-anak pakai. Orangtuanya mampu kok. Ayahnya kepala dinas sebuah Instansi pemerintahan. Kenapa dia ngefans banget pada noken bulukan ya? 

            “Nez, gue bingung kenapa lo ngefans banget sama tuh noken!”

            Dia langsung memeluk tasnya curiga. “Sa tau kau suka tas, kau mo ambil sa pu noken hah?”

            Aku bergidik. “Noken bau terasi, tarada mo!”

            “Noken ini serbaguna ko tau tidak! Asli karya Papua, asli Indonesia! Ko tahu ada 250 suku disini dan semuanya bikin noken. Mending sa pu tas biar bau terasi. Daripada kau pu  tas, merek luar negeri semua. Ko bikin kaya orang bule saja. Ko tau, Lintang noken ini asli bikinan sa pu nene. Dia anyam sendiri dengan tangannya, dia cari dan bikin benang dari serat kulit kayu pohon nawa atau pohon manduam. Dibikinnya penuh cinta dan hormat pada tradisi!”

Aku gelagapan.

“Kau tau sekarang orang Papua tra mau bikin noken lagi. Gengsi. Tra modern. Sa pu nene jago bikin. Trada duanya,” Agnes berapi-api.

            Aduh, gua disemprot! Hihihi…*kembangkan payung, halangi gerimis dari bibir Agnes.

            Sore itu, Aku dan Agnes sedang berjalan-jalan di sepanjang Pantai Dok 2 di Jayapura. Kalau di Jakarta, mau main ke pantai harus perjalanan ke Ancol dulu. Macetnyaa. Apalagi kami tinggal di Jakarta Timur. 

          Kalau disini, pengen ke pantai ya mlipir saja! Kotanya terlatak di pinggir pantai kok. So romantic! Buat  muda-mudi yang lagi pacaran itu, hihi kami yang jomblo sejati sih…bengong. 

Mama ada perlu ke pertokoan dan kami ikut. Aku mengunyah jagung bakar dan dia meminum teh botolnya. What I love most about Papua, alamnya komplet. Mau pegunungan atau pantai ada. Hasratku akan pantai terpuaskan disini. Tinggal sebut mau pantai dimana, kita bisa ciao deh. Ada Pantai Base-G, Pantai Holtecamp, Pantai Hamadi. Dengan cepat, aku melupakan kota kelahiranku. Hihi. Bukannya berkhianat, tapi aku dimabuk Papua! 

            “Ko tau filosofi noken? Bukan sekedar tas. Noken itu cerita sa pu Nene, Yakoba..adalah simbol perdamaian, kesuburan..juga kedewasaan. Kalau ko cewek Papua dan tra bisa merajut noken sendiri. Ko tra bisa dibilang dewasa..”

            Aku terbelalak. Beneran nih? This plain bag kaya filosofii? Tas Fossilku apa ya filosofinya? My Michael Korss? My Toraja Bag? Kudu digoogling nih!

            “Ko bisa tidak bikin noken?” godaku.

            “On the way. Sa pi belajar sama sa pu Nene, Lintang. Suatu hari, sa pasti bisa..sa bakal bawa noken mendunia. Orang Papua tra malu lagi bawa noken keluar Papua, tra malas bikin noken..noken tra punah..” matanya menyala-nyala. 

            Sumpah, hatiku bergetar mendengar kata-kata Agnes. Bara semangatnya menghangatkan hati. Membekas lama setelah percakapan kami sore itu. Sungguh, Aku ingin punya semangat itu…

            “Kalau begitu, temani sa ke Pasar Hamadi, sa pengen beli noken..biar tra dicurigai mau curi ko punya..”

            Agnes terbahak. “Kalau perlu sa traktir ko noken, my sister…”

            “Asyiik! Selamat deh uang sakuku!”

            “Abis itu kita ke seafood belakang ruko pasifik permai ya! Ko traktir sa makan ikan! Sa kangen sambalnya!”

            Seafood dan Papua. Pikiranku menerawang ke deretan tenda fastfood. Yumiii. Dan dompetku yang tipis. Aduuh!

Aku menepuk jidat. “Yaa..sama aja boong!”

***

                Sejak itu, kami menggila. Aku jatuh cinta pada noken. Agnes menularkan kecintaannya dengan semena-mena, hehe. Aku dan Agnes semangat belajar tentang tas tradisional satu ini. Aku banyak belajar dari internet. Karena agak susah menemukan buku tentang noken. Aku pun blogwalking, mampir di web wisata, membaca banyak artikel. Tapii yang paling dahsyat ya belajar dar masternya langsung, bo! Dari Nene Yakoba! Jreeng!

              Ketika Agnes belajar merajut pada Nene, aku ikut ke rumah Nene di Sentani. Sambil mengobrol, kami merajut benang. Sumpee, susah! Bagi Nene dan Agnes sih nampaknya gampang. Tapi aku yang lola aka loading lama ini, minta ampun! Aku paling nggak bakat deh craft-craft an gitu. Nyerah. Bukannya jadi tas tapi malah jadi segumpal benang kusut persis kayak rambut kribo Agnes haha. Aku penggembira saja, deh.

              Kalau lagi beruntung, kami datang pas Nene Yakoba bikin papeda! Horeee! Itu tuh masakan khas Papua yang terbuat dari sagu. Penampakannya kayak lem, agak sulit makannya abis lengket! Sebagai pelengkap, ada ikan tongkol masak kuning dan sayur kangkung tumis. Yummii! Dashyat! Kata Papa, mirip-mirip kapurung masakan khas Makassar terbuat dari sagu juga. 

           Kata master eh nene, satu noken kecil bisa dibuat seminggu sedangkan yang besar bisa makan waktu berbulan-bulan. Noken bisa dipakai membawa apa saja dari sayur-mayur, beras, baju dan buku sampai gendong bayi! Alamaak!

           “Ko tau, sekarang perajin noken tinggal yang tua-tua saja..kalian penerus Nene…”

           “Sapa tau noken bisa masuk butik internasional ya Nene? Harrods? Marks and Spencer?”

           “Ah ko pu impian rendah sekali sudah. Sekalian kita buka butik Noken di New York..” Agnes terbahak.

            “Aamiin..kita bikin butik sendiri ya, Nez!”

           “Berees..kita pi bikin noken lebih modern tapi tetap etnik, asli Papua, Lintang!”

***

             Kejadian itu lebih dari 12  tahun lalu.

            Disinilah aku, menjadi tuan rumah acara pembukaan butik Noken Art yang ke-16 di Manhattan, New York. Pagi ini kubaca berita, Noken ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO. Ah, Agnes pasti girang tapi tak berlebihan. Karena menurutnya jalan untuk melestarikan noken masih teramat panjang. Noken nyaris punah di Papua.

            Puzzle impian kami mulai terangkai. Aku dan Agnes memiliki Noken Art, Inc yang berpusat di Jayapura. Butik-butik kami tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar dan ada pula di Singapura, serta Hongkong dan hari ini di New York. Amerika Serikat. Yang tak terbayangkan akan aku pijak tanahnya hari ini. Kami bekerjasama dengan 100 perajin asli Papua. Memiliki karyawan 150 orang. Kami bekerja sama memberdayakan diri. 

            Aku menyentuh sebuah noken di display butik yang ditata dengan nuansa etnik yang eksotis dan chic. Berbeda dengan butik lain di pertokoan ini yang penataannya mewah. Noken koleksi kami dengan warna yang lebih ramai dan cantik, tapi masih tetap terbuat dari kulit kayu pohon melinjo dan awana, dan masih dibuat hand made berdasarkan ajaran Nene Agnes dulu di daerah rumahnya sekitar Danau Sentani. Almarhumah Nene Yakoba.

             Sebentar lagi para tamu undangan berdatangan. Makanan dan minuman telah siap disajikan. Perwakilan KBRI sudah hadir sejak tadi. Mereka berkeliling mengagumi butik kami. Aku melayangkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Hari ini, ceplosan Agnes menjadi nyata..       

             “Ah, ko pu impian rendah sekali. Sekalian kita buka butik Noken di New York sudah..” timpalnya dengan mata berbinar.

             Senyuman lebarnya, kulit hitam manisnya dan seringai jahilnya masih terbayang di pelupuk mataku. Kita berhasil, Agnes. We did it, hooray! 

             Tapi, aku tak mampu tersenyum.

              Selepas SMA, kami merantau ke Yogya. Agnes kuliah jurusan senirupa. Dan aku desain grafis. Kami menyewa rumah kecil dan mulai meniti impian. Rumah kontrakan adalah workshop kami. 

           Diantara sibuknya kuliah, aku dan Agnes sering mengobrol di teras, menyesap secangkir kopi. Sambil melayangkan pandangan ke halaman rumah yang berbatasan dengan sawah. Ada kandang sapi tetangga yang menguarkan bau tahi segar, hihi. Kami memilih tinggal di pinggiran Yogya yang asri.

          Sambil mengobrol, aku mencoret-coret desain logo calon butik kami. Mencoba menggambar desain noken yang futuristik. Agnes ngerumpi soal kampus, berita-berita tv sambil merajut nokennya. Sering kuledek ia makin mirip Nene Yakoba. 

         “Ah, Nene Yakoba dulu bunga desa lho..kayak aku sekarang!”

         Aku terbahak, melemparnya sempak *eh.

          Kami merintis Noken Art sambil memendam rindu pada tanah Papua yang dangerously beautiful. Keluargaku sudah balik ke Jakarta nan sesak. Tapi, aku malah bercita-cita tinggal di Jayapura. 

          Seusai kuliah, aku dan Agnes kembali ke Papua. Kami mendirikan butik pertama Noken Art disana yang banyak dikunjungi wisatawan. Agnes menikah dengan teman SMA kami, Markus. Aku menjalin hubungan dengan Adrian, anak sahabat Papa. Ia mendukung cita-cita aku dan Agnes memperkenalkan Noken. 

         “Anak kita kelak pasti bangga pada mama dan tantenya, pejuang noken!”

   Aku tertawa. “Ya, agar anak kita tambah bangga, gimana kalo ko jadi pejuang koteka?” 

        Ketika Agnes hamil anak ketiga, ia menderita pre eklamsia. Tekanan darahnya mendadak melonjak tinggi. Dan saat melahirkan, nyawanya tak tertolong. Ia meninggalkan kami.

          Putri ketiganya, Dona berhasil selamat. 

          Kini, Markus dan anak-anaknya tinggal bertetangga dengan kami. Umi, Paul dan si bungsu Dona bersahabat dengan anakku, Danar. Anak keduaku baru berusia dua tahun dan kuberi nama Agnes. Aku dan Markus bersama-sama mengelola Noken Art, Inc.

          Untuk mengenang gadis manis yang punya impian besar. Pandangan mataku kini benar-benar buram. Basah. Seperti New York senja ini. 

          Agnes, aku sangat merindukanmu….

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai syarat dan persetujuan? Laporkan