Konflik Batin (cerpen fiksi)

(Gambar Socio Plath by blackswanbirth)


Babak 1

Seorang pria berkacamata berbentuk lingkaran datang memasuki ruangan. Ia langsung duduk di kursi. Badannya hadir di sana, pikirannya jauh entah kemana.

Perempuan yang sudah berada di ruangan itu bertanya, “Pagi sekali kamu datang ke sini.”

Sang pria tak menjawab.

“Baiklah.” lawan bicaranya sadar tidak ditanggap, ia kembali bertanya, “Apa yang ingin kamu ceritakan hari ini?”

“Masih sama.”

“Masih sama?”

“Iya.” Pria ini mengalihkan mukanya, menghindari tatap mata.

“Kenapa?”

“Karena saya masih belum bisa melupakan beliau.”

Perempuan itu berkata, “Dan itu seharusnya bukan masalah. Justru itu adalah hal yang baik.”

“Tapi, saya masih merasa bisa menyelamatkan beliau.” ucapnya, dengan nada sedikit meninggi.

Perempuan ini memajukan badannya, “Kamu tahu, kamu tidak bisa membalikkan waktu dan mengubah segalanya.”

Pria ini akhirnya menatap wajah lawan bicaranya, “Seandainya saya bisa memilih.”

“Pilihan apa?” tanya perempuan, kembali bersandar ke kursinya. “Pilihan antara kamu dan beliau?”

“Iya.” tatapnya tajam. Kacamata melingkarnya, memantulkan sedikit cahaya.

Perempuan itu bertanya, “Lalu, kamu akan pilih yang mana?”

“Tentunya, aku pilih mengorbankan diriku sendiri.” jawabnya, tegas. “Dan membiarkan beliau hidup sehat.”

Perempuan ini menghembuskan nafasnya,“Tapi, tidak bisa, kan? Kamu tahu sendiri itu tidak mungkin.”

Ia melanjutkan, “Karena kenyataannya, kamu yang hidup sehat dan Ibumu yang tiada. Lagipula, kejadian itu adalah suatu kecelakaan.”

“Kecelakaan yang tidak diinginkan.” potong pria, cepat.

Perempuan menimpali, “Tidak ada yang menginginkan kecelakaan. Tidak ada yang menginginkan kejadian buruk menimpa kamu dan Ibumu.”

Pria berkata pasrah, “Jadi?”

“Ikhlaskan. Doakan.” Ucap perempuan, perlahan.

Lawan bicaranya mengulangi dua kata tersebut, “Ikhlaskan… Doakan…”

Sang perempuan menutup, “Itu yang kamu bisa lakukan sekarang.”

 

Babak 2

“Ayo cepat! Kita harus buru-buru!” kata seorang pria di atas motor.

“Baiklah, tunggu sebentar. Aku harus mengecek dulu sudah lengkap belum barang bawaan kita.”

“Sudah, pasti lengkap.” kata pria di atas motor. “Kamu sudah mengecek ketiga kalinya.”

Selesai mengecek isi kantong celananya, pria yang lebih muda ini menaiki motor tersebut. Duduk di belakang, dengan berpegangan handle motor belakang.

Motor melaju kencang. Gas ia tarik semaksimal mungkin. Semuanya disalip. Motor, mobil, truk.

“Perlu, ya, secepat ini?” tanya orang di belakang.

“Tentu saja ini perlu. Kita harus sampai ke lokasi secepat mungkin, kalau ingin segera sampai di rumah sakit.” jawabnya, sambil menancap gas.

Mendekati rambu lalu lintas di suatu perempatan. Rambunya menunjukan hijau dengan tersisa 2 detik terakhir. Tak ingin memperlambat motornya, ia malah ingin mengejar waktu hijau yang tersisa.

Saat ia menerobos melewati garis zebra cross, hijau sebenarnya sudah berganti merah.

Motor dari arah sebelah kiri dan kanan, sudah berjalan. Jalan sudah terkepung banyak motor, tetapi ia tetap memaksa maju.

Sampai di ujung perempatan, ia berkelok tajam menghindari satu motor.

Ia berhasil lolos dari perempatan itu. Kakak terus mengencangkan motornya, sedangkan adik menengok ke belakang.

Ternyata, lolosnya mereka, tidak berlaku dengan motor lain.

Tergeletak satu motor di tengah-tengah keramaian.

Sepertinya, gara-gara ada penerobos tadi, pengendara motor ini kaget dan kesulitan mengendalikan motornya. Motornya terjatuh. Ia dan orang di belakangnya terpelanting ke samping.

Motor lainnya, masih melaju seperti biasa, tak sanggup menghindari kecelakaan itu.

Salah satu motor menabrak orang yang jatuh tadi.

Adik ternganga.

Bola matanya membesar melihat peristiwa ini.

Pengendara motor yang selamat dari keramaian itu, bangkit dan melepas helm. Kacamata melingkar tidak berhasil menutupi matanya yang gelisah.

Ia mendatangi Ibunya.

Beberapa ada yang mencoba membantu, beberapa hanya diam melihat. Termasuk pengendara motor yang mengebut tadi. Kakak terus fokus mencapai tujuannya, tidak peduli dengan sekitarnya.

“Mas… Itu di belakang ada kecelakaan.” bilang si Adik.

“Ibu kita juga habis kecelakaan, kita harus fokus ke sana dulu.” jawabnya, sedikit teriak.

Kakak kembali memacu motornya. Sedangkan adiknya, kembali menengok ke belakang dengan konflik besar di batinnya.

 

 

Blog: http://www.aldypradana.com

Twitter: https://twitter.com/aldypradana17

Medium: https://medium.com/@aldypradana17

Instagram: https://www.instagram.com/aldy_pradana17/

IG Arsenio Sneakers Store: https://www.instagram.com/arsenio.store.id/

Tokopedia: https://www.tokopedia.com/arseniostoreid 

Podcast (spotify): https://open.spotify.com/show/5FmhDoeNOY1gEnpP6ARsdz?si=dj7VyLYORUuQ8dbDv-bIPQ

SoundCloud: https://soundcloud.com/aldypradana17

Youtube: https://www.youtube.com/c/AldyPradana17

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai termin Karyakarsa? harap laporkan.