InstaStory

Esai yang membahas InstaStory. Dimodifikasi sedikit dari tulisan yang pernah terbit di akbaryoga.com pada 2018.

Batas Khusus Pendukung

—2018

Pada suatu malam jahanam di sebuah kedai kopi daerah Jakarta Selatan, Agus—salah seorang teman saya—mendadak jengkel ketika ponselnya kehabisan baterai. Apalagi meja yang kami tempati enggak tersedia stopkontak, dan kami berdua juga lupa membawa charger maupun power bank. Alhasil, keadaan itu membuat wajah Agus semakin tak sedap dipandang. Saya lantas berniat untuk meminjamkan ponsel saya kepadanya. Mulut Agus rupanya jauh lebih lincah dan seakan-akan dapat mendengar suara hati saya, sebab dia tiba-tiba bilang, “Yog, pinjem HP lu bentar buat buka Instagram.”

Saya pun memberikannya begitu saja tanpa takut dia akan berbuat macam-macam. Tak lama setelahnya dia malah berkata, “Anjing!” yang dilanjutkan dengan tawa. Sehabis mendengar umpatan dan tawanya itu, saya jadi deg-degan dan berpikir yang bukan-bukan. Barangkali dia diam-diam membuka DM dan membaca beberapa percakapannya.

“HP lu kok enggak ada InstaStory-nya, sih?” katanya dengan nada mengejek.

Bedebah. Dia tadi tertawa ternyata menghina ponsel saya. Tapi mau gimana lagi? Kenyataannya memang begitu. Saya menjawab begitulah keadaan ponsel saya, iPhone 4, yang sudah ketinggalan zaman. Hanya bisa untuk mengunggah foto dan video saja di Instagram. Belum terdapat fitur InstaStory, Live, Boomerang, mutilple photos/videos, dan seterusnya (apakah ada lagi fitur lainnya?).

Dia kemudian bertanya lagi, kenapa saya enggak ganti gadget baru yang lebih canggih? Saya langsung gantian bertanya untuk apa segala ganti selama ponsel yang saya pakai ini masih berfungsi dengan baik? Kalau ganti HP cuma biar ada InstaStory-nya, sih, saya merasa belum butuh. 

“Beneran lu selama ini enggak pernah bikin InstaStory?” tanya Agus. 

“Selama ini lu pernah lihat gue update atau enggak?” 

Dia menggelengkan kepalanya dan mengembalikan ponsel saya. Agus juga heran dengan sikap saya yang bisa-bisanya betah menggunakan ponsel butut (ponsel yang menurutnya tak ada fitur InstaStory). Saya sendiri juga bingung kenapa dia begitu memprioritaskan fitur yang awalnya milik SnapChat itu. Sampai-sampai orang terlalu gaul pun menyebut InstaStory menjadi SnapGram. 

Sejauh ini, saya menggunakan Instagram cukup untuk melihat dan menyimpan foto-foto sekalian berlatih menulis ringkas di caption. Saya jarang menonton maupun mengunggah video. Lebih-lebih fitur InstaStory yang memang enggak saya butuhkan. Jadi, saya oke-oke aja dengan keadaan ponsel tersebut.

Namun, entah mengapa masih ada saja beberapa teman yang nge-tag saya di InstaStory. Bagi yang belum mengetahui atau lupa dengan keadaan ponsel saya, sepertinya masih bisa saya maklumi. Tapi bagi yang sudah tahu dan jelas-jelas mengingatnya bagaimana? Kadang-kadang saya jadi jengkel sendiri. Maksud mereka tuh apa, sih? Mau menghina saya? Menyuruh saya ganti ponsel?

Lama-lama saya jelas jadi curiga kalau salah satu di antara mereka itu ada yang bekerja di divisi pemasaran perusahaan gadget. Ya, lagian buat apa gitu? Sudah tau saya enggak ada InstaStory, tapi masih aja nge-tag melulu. Anehnya, seiring bergesernya hari saya mendadak jadi penasaran juga terhadap story-story itu. Saya jadi bertanya-tanya, apa yang sebetulnya ingin mereka sampaikan dalam suatu gambar ditambah teks ataupun video sepanjang 15 detik tersebut? Setelah 24 jam padahal video itu juga akan hilang, kan? Apa karena sifat yang enggak permanennya itu, ya? Ah, entahlah.

Pikiran saya malah terbawa jauh dari persoalan itu. Saya justru jadi teringat akan video Instagram pada masa awal-awal yang durasinya hanya 15 detik. Kala itu ada banyak akun yang begitu kreatif membuat video-video keren dengan durasi yang cukup singkat. Kalau enggak salah itu merupakan tahun IndoVidGram sedang jaya-jayanya. Saya sendiri pun pernah membuat video lucu-lucuan dan timelapse agar di-repost oleh mereka. Sayangnya, enggak ada satu pun video saya yang tembus. Sebagian video itu juga telah saya hapus, sebab mendadak jijik sewaktu menonton ulang. 

Kembali ke persoalan InstaStory, saya jadi terkenang ketika suatu hari pacar saya—yang kini telah jadi mantan—merekam makanan yang kami berdua pesan, dan dia dengan diam-diam juga merekam saya yang sedang lahap menyantap makanan itu. Saya lalu menoleh dan bertanya, “Kamu ngapain InstaStory segala dah? Mau pamer lagi pacaran?” 

“Dih, kamu kenapa, sih?” 

“Ya, aku nanya buat apaan segala direkam?” 

Dia pun terdiam. Saya melanjutkan berbicara dan menjelaskan kalau kebahagiaan saat ini enggak perlu dibagikan kepada orang lain. Simpan saja untuk berdua. Memangnya masih butuh pengakuan orang lain lagi? Apa, sih, untungnya mengumbar kemesraan? Dan kalimat-kalimat lainnya yang rasanya enggak perlu saya tuliskan di sini. 

“Aku ngerekamnya juga enggak setiap kita jalan kali.” 

“Tetep aja kamu norak! Mau pamer, kan?” 

“Terserah!” 

Kami kemudian bertengkar. Suasana menjadi beku. Rasa makanan yang aslinya lezat itu mendadak hambar. Saat mengetikkan kalimat barusan saya nyesek juga, sih. Saya merasa menyesal, berusaha berpikir ulang, serta bertanya-tanya mengapa bisa-bisanya sejahat itu kepadanya.

Pada hari lainnya, salah seorang teman bloger juga ada yang menandai saya. Ketika itu kami memang habis kopdar bersama teman-teman bloger regional Jabodetabek. Apesnya, setiap kali ada InstaStory yang masuk ke DM, tulisannya selalu begini: Update your app to see this story.

Astagfirullah. Apa yang mau saya perbarui lagi kalau iOS sudah mentok? Ponselnya mesti saya jailbreak gitu? Saya malas utak-atik dan takut meledak. Akhirnya, saya bersikap masa bodoh deh soal cerita itu. Tapi enggak tahu kenapa tetap masih ada sedikit rasa penasaran dan tanda tanya di hati. Apa yang coba dia perlihatkan dalam cerita tersebut?

Berhubung saya enggak pengin susah tidur cuma gara-gara InstaStory sialan itu, jadilah saya meminjam ponsel ibu saya. Kebetulan ponsel beliau memang lebih canggih dan terdapat Instagram (yang ada fitur InstaStory). Ngomong-ngomong, ini kenapa ibu saya terkesan lebih gaul dan keren daripada saya, ya? Tapi tenang saja, ibu saya enggak segaul itu. Adik sayalah yang mengunduh Instagram di gadgetnya. Kalaupun suatu hari beliau mempunyai akun Instagram dan mengikuti akun saya, saya pasti akan langsung blokir agar beliau tidak mengetahui sisi lain saya yang memang tak ingin dilihat oleh keluarga. Durhaka-durhaka deh.

Saya tersenyum seusai melihat InstaStory salah seorang kawan bloger itu. Kalau tak salah, dia menampilkan foto dengan tambahan teks yang menunjukkan perasaan bahagianya sehabis kumpul-kumpul bersama teman bloger. Saya tentu merasa bahagia karena bisa membuat orang lain bahagia. Secara enggak langsung, saya termasuk salah seorang yang membuatnya bahagia pada hari itu, kan? Oke, ini mah saya yang kepedean. Terus, bagaimana kalau dia juga tetap bahagia tanpa adanya saya?

Sejujurnya, saya berpikir kalau InstaStory itu enggak penting sama sekali. Tapi setelah menuliskan cerita tentang InstaStory ini, perlahan-lahan pikiran itu semakin bergeser. Ternyata bagi sebagian orang InstaStory bisa menjadi penting untuk menunjukkan perasaan mereka pada saat itu juga. Setiap orang memiliki hak untuk berekspresi, sehingga saya enggak perlu lagi menghakiminya yang macam-macam. Setiap orang pun berbeda dalam mengutarakan perasaannya. Mungkin saya kurang cocok dan enggak membutuhkan InstaStory, sebab saya lebih nyaman mengungkapkan perasaan dengan menulis. 

Curhat di Twitter merupakan cara termudah bagi saya untuk mengungkapkan perasaan pada saat itu juga. Ya, meskipun belakangan ini kicauan saya lebih sering berakhir di draf. Seenggaknya, saya jadi mendapatkan pemahaman baru akan InstaStory ini. Ke depannya, saya akan mencoba untuk lebih menghargai InstaStory.

Jika nanti ada teman, pacar, atau siapa pun itu yang menandai saya dalam InstaStory-nya, saya enggak perlu kesal-kesal lagi dan akan bersikap lebih peduli. Saya pun berusaha untuk menontonnya. Mungkin saya juga akan memahami apa yang dia rasakan dalam ceritanya tersebut. Dan berhubung sekarang laptop atau PC sudah bisa menampilkan InstaStory, saya jadi enggak perlu repot-repot meminjam ponsel ibu saya.

Akhir kata, saya hanya ingin meminta maaf kepada siapa pun yang pernah saya sindir maupun sakiti dalam urusan InstaStory ini. Terkadang yang norak bagi kita, mungkin bisa menjadi sebuah arti, makna, atau hal yang berharga bagi orang lainnya. Semoga saya enggak lalai lagi dalam melihat lewat sudut pandang lain.

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Kategori karya
Esai

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai general.terms? laporkan