

Dibelakang BG Junction, sebuah salah satu pusat perbelanjaan Surabaya terdapat sebuah bangunan mirip benteng berbentuk kotak, dikelilingi dinding kokoh dengan parit dan menara pengawas disetiap sudutnya. Sebuah plakat kuningan yang menandakan bahwa bangunan ini merupakan salah satu BCB / Bangunan Cagar Budaya kota Surabaya tertempel di dinding sisi timur. Keterangan pada plakat itu menuliskan bahwa komplek ini dibangun pada tahun 1930, dengan keterangan...

Dibelakang BG Junction, sebuah salah satu pusat perbelanjaan Surabaya terdapat sebuah bangunan mirip benteng berbentuk kotak, dikelilingi dinding kokoh dengan parit dan menara pengawas disetiap sudutnya. Sebuah plakat kuningan yang menandakan bahwa bangunan ini merupakan salah satu BCB / Bangunan Cagar Budaya kota Surabaya tertempel di dinding sisi timur. Keterangan pada plakat itu menuliskan bahwa komplek ini dibangun pada tahun 1930, dengan keterangan singkat : "Tempat para heitasan ( tentara Jepang ) ditawan. Tempat ini juga ditawan para pejuang kemerdekaan oleh Belanda pada masa pendudukan 1946-1948"
Penjara ini memang menyimpan memori kengerian masa perang yang tidak banyak kita ketahui. Mari kita telusuri satu demi satu.
1942-1945
Pada masa pendudukan Jepang. Catatan dari Frank Samethini menyebutkan bahwa Jepang membangun tujuh kamp penampungan untuk menawan warga sipil Indo dan Belanda. Sebuah dokumen palang merah menyebutkan diantaranya : Jaarmarkt ( kini kawasan THR, depan TMP Kusuma Bangsa ), Darmo, Coen Boulevard ( komplek sekolah kristen ), Tanjung Perak , Hogere Burgere School ( kini SMA Komplek Wijaya Kusuma ) dan Penjara Koblen. ( lihat: Frank, Samethini, The Sky Looked Down: Surabaya 1941, Vanity Publication, NSW 2006 )
Oktober 1945
Pada tanggal 6 Oktober 1945 para pimpinan PRI ( Pemuda Republik Indonesia ) mendapat tantangan berat dalam tugas menjaga ketertiban. Sebuah kerumunan rakyat kampung yang luar biasa besarnya terjadi di luar markas PRI Simpang Club ( kini Balai Pemuda ). Mereka marah karena PRI terlibat dalam memenjarakan kembali orang-orang Jepang. Mereka menuntut kesempatan balas dendam. Segelintir pimpinan PRI bergegas menuju penjara Bubutan / Koblen yang tidak jauh dari situ. Mereka menyaksikan sebuah kerumunan rakyat lainnya yang sedang marah menghadapi sekelompok kecil personil pemerintah yang kebanyakan adalah anggota KNID.
Sudirman hadir disana dan juga Bambang Suparto, Doel Arnowo, dr Angka Nitisastro, Bambang Kaslan, dr Suwandhi, Sumarsono,Hardjadinata dan lain-lain. Sementara wakil PRI dan KNID membicarakan kemungkinan arah tindakan yang akan dilakukan, sejumlah kecil gerombolan tersebut berhasil menembus penjagaan PRI yang mengamankan penjara. Beberapa orang Jepang diseret dibawah todongan pedang kedepan kerumunan rakyat lalu dieksekusi. Kerumunan massa berteriak-teriak ketika menyaksikan para pembunuh menghadapi para pemimpin , masih dengan pedang berlumuran darah dan memerintahkan para pemimpin menjilat darah tersebut. Dengan ketakutan beberapa orang melakukan hal itu sementara yang lainnya menyingkir. Pada saat keadaan makin genting , saat penjara tersebut seolah-olah akan diruntuhkan, satu unit pasukan PRI bersenjata lengkap menakut-nakuti kerumunan agar bubar. Mereka menjaga dengan resiko besar bagi diri mereka sendiri agar tak ada lagi tawanan Jepang yang jatuh ketangan rakyat. ( lihat : Frederick, William, Pandangan dan Gejolak, Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi Indonesia ( Surabaya 1926-1946), Gramedia, Jakarta 1989...hal 296 )
Pada 15 Oktober 1945 terjadi pertempuran di kota Semarang dimana terjadi clash antara pejuang Indonesia melawan pasukan Jepang. Berita ini dengan cepat masuk ke Surabaya dan berbuntut pada insiden 16 Oktober. Terdorong selebaran-selebaran dan spanduk raksasa bertuliskan " Singkirkan Jepang sebelum mereka membantai kita di Surabaya juga!" kerumunan besar kembali berkumpul didepan penjara Bubutan. Disana kembali para tawanan Jepang diseret keluar dan dieksekusi sebagaimana terjadi sepuluh hari sebelumnya. Selama beberapa hari kedepan dimana situasi Semarang juga tetap memanas, setiap ada kesempatan, kelompok orang Surabaya melakukan balas dendam berdarah terhadap Jepang. ( lihat : Frederick, William, Pandangan dan Gejolak, Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi Indonesia ( Surabaya 1926-1946), Gramedia, Jakarta 1989...hal 311 )
Dalam pertempuran tiga hari di penghujung Oktober 1945, kejadian pada tanggal 28 di penjara Koblen dapat kita baca dari catatan drg Barlan dan Bung Tomo. drg Barlan menuliskan :
"Kontak senjata terjadi setelah ada berita tentang tahanan Jepang yang dipersenjatai oleh Sekutu. Penduduk di sekitar berjaga-jaga. Serangan dilakukan pada 28 Oktober pagi oleh pemuda API dengan bantuan Polisi Istimewa. Para penyerang mendapat perlawanan dari serdadu India dan Jepang yang bertahan didalam penjara. Untuk melumpuhkan perlawanan,telah diusahakan pembakaran. Akan tetapi karena komplek penjara terlalu luas tidak banyak hasilnya. Juga pelemparan granat tidak merubah keadaan. Dengan mendobrak pintu belakang dengan didahului mobil lapis baja, para penyerang berhasil masuk. Ditengah penjara itu terdapat perumahan yang dikelilingi tanah yang tidak rata. Keadaan ini dimanfaatkan penyerang karena dapat terlindung dalam gerak majunya. Orang-orang jepang dan India akhirnya angkat tangan. Selain Jepang dan India terdapat pula orang-orang kulit putih yang diduga Belanda" ( lihat : Barlan Setiadidjaja, 10 November 1945 Gelora Kepahlawanan Indonesia, Yayasan Dwi Warna, Jakarta 1991...hal 369 )
Sedangkan Bung Tomo menuliskan dalam memoarnya tentang pertempuran di Koblen :
"Ketika rakyat sedang mengepung penjara Koblen yang digunakan berlindung oleh pasukan Gurkha. Granat tangan dilemparkan kedalam gedung tersebut. Namun tidak lama kemudian sebagian dari granat itu dilemparkan kembali keluar dinding rumah penjara yang tinggi dan meledak ditengah-tengah rakyat. Ternyata sebagian pasukan rakyat belum mengerti cara penggunaan granat tangan. Mereka menyangka granat itu akan meledak dengan sendirinya ketika terbentur tanah atau benda keras lainnya. Banyak granat yang dilemparkan tanpa dicabut pin nya lebih dahulu sehingga banyak yang dikirimkan kembali". ( lihat: Sutomo, Pertempuran 10 November 1945, Kesaksian & Pengakuan Seorang Aktor Sejarah. Visimedia, Jakarta, 2008, hal 130 )
Bagaimana kondisi penjara Koblen setelah pertempuran Surabaya berakhir dan Belanda menguasai penuh kota setelah mendapat serah terima dari Inggris ?
Belanda, Awal Musim Gugur 2013
Marjolein van Pagee berangkat dengan kereta api menuju Amsterdam. Kali ini ia berangkat sendiri tanpa saya. Veteran yang akan kami dokumentasikan kesaksiannya kali ini bernama Grijzenhout. Ia mengaku memiliki pengalaman traumatis di Penjara Koblen dan bersedia diwawancara dengan satu syarat : tanpa kehadiran saya, seorang penulis Indonesia. Alasannya yang beliau kemukakan melalui telefon : "saya masih sangat trauma dengan semua peristiwa itu, saya tidak akan sanggup bertatap mata dengannya".

Sebuah alasan singkat, terdengar sederhana tapi mengusik rasa penasaran yang cukup dalam. Tuan Grijzenhout menyambut dengan ramah dan mulai memperkenalkan diri. Dia berasal dari unit Marinir dan ditugaskan di kota Ngawi. Ia mulai bercerita bagaimana serangan pejuang atas patroli pasukan Belanda terjadi terkadang begitu intens, tetapi kadang juga tidak ada kejadian apapun selama beberapa minggu.
Suaranya mulai tercekat dan mulai mengatur nafas ketika menceritakan bagaimana ia diperintahkan menembak mati seorang tawanan yang terluka dan bagaimana mereka meninggalkan begitu saja para pejuang yang luka berat agar mati dengan perlahan dan menyakitkan. Ia melihat bagaimana kawan-kawannya merampas segala yang dipunyai pejuang yang sekarat untuk kepentingan pribadi mereka, sekedar mencari suvenir atau kenang-kenangan.
"Belanda tidak bisa menutupi ini, apa yang salah adalah salah. Saya pribadipun merasa bersalah. Bisa saja saya menolak ( untuk berperang ) tapi mereka tentu akan memasukkan saya kedalam penjara. Saya ingat suatu hari kami berpatroli dari Ngawi atau Gucialit dan menangkap dua pejuang, salah satunya berusia sama seperti saya...sekitar 20 tahunan atau mungkin lebih muda..."
Tuan Grijzenhout terdiam sesaat, ia menunduk, matanya kini mulai berkaca-kaca. Ia mengatur nafas dan kembali melanjutkan cerita.
"Saya sampaikan padanya, kalau kita sudah sampai di dekat pos, akan kutepuk punggungnya dan itu tandanya dia harus lari. Ia sungguh melarikan diri dan saya terus menembak kearah langit agar pos mengira saya menembakinya. Jika sampai ditangkap, mereka pasti akan menemui ajal. Mereka ini berjuang untuk kemerdekaan. Kami ini seharusnya sudah tidak ada urusan dengan Indonesia. Kenapa kita harus memaksa orang-orang baik-baik ini untuk kembali tunduk berlutut dibawah Belanda? Indonesia sudah merdeka sejak pendudukan Jepang berakhir. Tidak seharusnya saya turut melakukannya...tidak seharusnya saya turut melakukannya..."
Dalam sebuah kontak senjata di Ngawi, prajurit Grijzenhout tertembak di kaki kanan dan bagian dada. Setelah pulih dari luka, ia ditugaskan di Surabaya sebagai penjaga penjara Koblen, bukan lagi sebagai unit tempur. Kota Surabaya memberikan perasaan lega baginya, suasana kota yang aman karena telah jatuh sepenuhnya kedalam kontrol Belanda, kehidupan kota yang sibuk, tidak ada kontak senjata. Ada hal lain yang ia syukuri sebagai seorang petugas penjara, ia bisa berteman dengan para pejuang yang ditawan, saling berbicara menjalin persahabatan dengan para petarung Republik sedikit banyak mengobati perasaan bersalah dalam hatinya. Grijzenhout juga kerap memberikan jatah makan dan minum ekstra untuk para tawanan yang sebagian besar berasal dari unsur tentara pelajar dan korps mahasiswa.
Tapi diluar itu, ia juga mengalami guncangan emosi yang cukup keras. Di penjara Koblen itulah para tawanan yang kurang beruntung dibariskan membelakangi dinding, berhadapan dengan regu tembak. Dengan satu aba-aba, suara letusan yang bersahutan akan tersambung cepat dengan adegan tubuh-tubuh manusia yang bergelimpangan tak bernyawa. Dan ini bukanlah sebuah peristiwa yang hanya terjadi satu atau dua kali, eksekusi berjalan hampir seperti sebuah rutinitas.
"Didalam penjara Koblen, kami memiliki satu regu tembak. Kami tidur di ranjang susun, saya tidur diatas dan orang yang tidur dibawah adalah salah satu personil regu tembak itu. Suatu malam saya terbangun dan terpikir untuk menghajar dia. Saya begitu marah dan membencinya, pasukan tembak keparat ! Tapi niat itu saya urungkan, suatu hari saya turun mengambil sepatu dia dengan penuh amarah lalu melemparnya".
"Setiap pejuang kemerdekaan pasti dinyatakan bersalah, pada akhirnya mereka semua akan berakhir dihadapan regu tembak di penjara Koblen. Pernah suatu ketika saya berdiri dibelakang ketika eksekusi itu dilaksanakan dan itu membuat saya hampir menjerit. Orang-orang itu bukan pelaku kriminal, mereka berjuang untuk kebebasan bangsa, kebebasan yang kami renggut dengan paksa"
Tuan Grijzenhout kemudian masuk kedalam kamar dan kembali keluar membawa beberapa lembar foto hitam putih. Dinding tinggi memanjang khas penjara Koblen tampak sebagai latar dari foto-foto itu. Satu foto menampakkan Grijzenhout muda berpose berdua dengan seorang tawanan Indonesia.
"Dia sahabat saya. Saya tak pernah lagi tahu tentang kabarnya. Jika masih ada peluang mencarikan info tentangnya, bantulah saya..."

Kami merespon permintaannya dengan mengupload foto itu di media sosial, sekalipun mendapat banyak tanggapan positif, sayangnya informasi itu tak pernah kami dapatkan. Ada hal menarik saat merekam kesaksian veteran Grijzenhout, tiba-tiba saja ia menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ia menyanyi dengan nada yang sempurna walaupun terdapat beberapa kesalahan dalam pelafalan lirik.
Perang itu telah berlalu lebih dari setengah abad lamanya. Beberapa peristiwa dalam masa perang itu tertancap begitu dalam bagi mereka yang melaluinya, menjadikan sebuah trauma-trauma tersendiri. Atau sekedar potongan-potongan kenangan yang abadi. Pada akhir perang, pasukan Belanda dipaksa untuk angkat kaki dari Indonesia. Diangkut truk dan kereta api menuju pelabuhan-pelabuhan besar dimana kapal-kapal laut menanti mereka.
Disepanjang jalur rel kereta api, di tiap stasiun perhentian. Nampak pemuda-pemuda dan anak-anak kecil yang dengan riang dan lantang menyanyikan lagu kebangsaannya. Lagu yang selama ini dilarang keras untuk dinyanyikan kini bebas dikumandangkan kapanpun, dimanapun. Sebuah rangkaian kereta api yang membawa pasukan Belanda adalah sasaran yang tepat untuk menumpahkan kegembiraan ini, dimana setengahnya tentu adalah ejekan. Mereka menyanyikannya dengan lantang disertai lirikan mata dan senyum merendahkan. Bagi beberapa serdadu, nyanyian yang terus terdengar sepanjang jalan hingga pelabuhan ini akan terus terkenang dalam kepala.
Grijzenhout mungkin hanya satu diantaranya. Ia harus meninggalkan negeri tropis dimana di lubuk hati terdalam, ia mencintai pula penduduknya. Ia mencintai persahabatan yang ditawarkan, kepingan kenangan akan Ngawi, Penjara Koblen dan wajah-wajah pejuang Republik yang berakhir di hadapan regu tembak Koblen akan terus menemani sisa hidupnya.
Wajah-wajah yang pernah berucap senyum terimakasih menyambut uluran tangan Grijzenhout yang sekedar memberi porsi makan sedikit lebih banyak. Wajah-wajah petarung yang takkan pernah bisa ia lupakan...

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰
