Horor Di Balik Dinding Penjara Koblen, Kesaksian Veteran Grijzenhout

14
11
Deskripsi
Penjara Koblen 2019. Foto : Akhmad Khusaini

Dibelakang BG Junction, sebuah salah satu pusat perbelanjaan Surabaya terdapat sebuah bangunan mirip benteng berbentuk kotak, dikelilingi dinding kokoh dengan parit dan menara pengawas disetiap sudutnya. Sebuah plakat kuningan yang menandakan bahwa bangunan ini merupakan salah satu BCB / Bangunan Cagar Budaya kota Surabaya tertempel di dinding sisi timur. Keterangan pada plakat itu menuliskan bahwa komplek ini dibangun pada tahun 1930, dengan keterangan...

Penjara Koblen 2019. Foto : Akhmad Khusaini

Dibelakang BG Junction, sebuah salah satu pusat perbelanjaan Surabaya terdapat sebuah bangunan mirip benteng berbentuk kotak, dikelilingi dinding kokoh dengan parit dan menara pengawas disetiap sudutnya. Sebuah plakat kuningan yang menandakan bahwa bangunan ini merupakan salah satu BCB / Bangunan Cagar Budaya kota Surabaya tertempel di dinding sisi timur. Keterangan pada plakat itu menuliskan bahwa komplek ini dibangun pada tahun 1930, dengan keterangan singkat : "Tempat para heitasan ( tentara Jepang ) ditawan. Tempat ini juga ditawan para pejuang kemerdekaan oleh Belanda pada masa pendudukan 1946-1948"

Penjara ini memang menyimpan memori kengerian masa perang yang tidak banyak kita ketahui. Mari kita telusuri satu demi satu.

1942-1945

Pada masa pendudukan Jepang. Catatan dari Frank Samethini menyebutkan bahwa Jepang membangun tujuh kamp penampungan untuk menawan warga sipil Indo dan Belanda. Sebuah dokumen palang merah menyebutkan diantaranya : Jaarmarkt ( kini kawasan THR, depan TMP Kusuma Bangsa ), Darmo, Coen Boulevard ( komplek sekolah kristen ), Tanjung Perak , Hogere Burgere School ( kini SMA Komplek Wijaya Kusuma ) dan Penjara Koblen. ( lihat: Frank, Samethini, The Sky Looked Down: Surabaya 1941, Vanity Publication, NSW 2006 )

 

Oktober 1945

Pada tanggal 6 Oktober 1945 para pimpinan PRI ( Pemuda Republik Indonesia ) mendapat tantangan berat dalam tugas menjaga ketertiban. Sebuah kerumunan rakyat kampung yang luar biasa besarnya terjadi di luar markas PRI Simpang Club ( kini Balai Pemuda ). Mereka marah karena PRI terlibat dalam memenjarakan kembali orang-orang Jepang. Mereka menuntut kesempatan balas dendam. Segelintir pimpinan PRI bergegas menuju penjara Bubutan / Koblen yang tidak jauh dari situ. Mereka menyaksikan sebuah kerumunan rakyat lainnya yang sedang marah menghadapi sekelompok kecil personil pemerintah yang kebanyakan adalah anggota KNID.

Sudirman hadir disana dan juga Bambang Suparto, Doel Arnowo, dr Angka Nitisastro, Bambang Kaslan, dr Suwandhi, Sumarsono,Hardjadinata dan lain-lain. Sementara wakil PRI dan KNID membicarakan kemungkinan arah tindakan yang akan dilakukan, sejumlah kecil gerombolan tersebut berhasil menembus penjagaan PRI yang mengamankan penjara. Beberapa orang Jepang diseret dibawah todongan pedang kedepan kerumunan rakyat lalu dieksekusi. Kerumunan massa berteriak-teriak ketika menyaksikan para pembunuh menghadapi para pemimpin , masih dengan pedang berlumuran darah dan memerintahkan para pemimpin menjilat darah tersebut. Dengan ketakutan beberapa orang melakukan hal itu sementara yang lainnya menyingkir. Pada saat keadaan makin genting , saat penjara tersebut seolah-olah akan diruntuhkan, satu unit pasukan PRI bersenjata lengkap menakut-nakuti kerumunan agar bubar. Mereka menjaga dengan resiko besar bagi diri mereka sendiri agar tak ada lagi tawanan Jepang yang jatuh ketangan rakyat. ( lihat : Frederick, William, Pandangan dan Gejolak, Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi Indonesia ( Surabaya 1926-1946), Gramedia, Jakarta 1989...hal 296 )

Pada 15 Oktober 1945 terjadi pertempuran di kota Semarang dimana terjadi clash antara pejuang Indonesia melawan pasukan Jepang. Berita ini dengan cepat masuk ke Surabaya dan berbuntut pada insiden 16 Oktober. Terdorong selebaran-selebaran dan spanduk raksasa bertuliskan " Singkirkan Jepang sebelum mereka membantai kita di Surabaya juga!" kerumunan besar kembali berkumpul didepan penjara Bubutan. Disana kembali para tawanan Jepang diseret keluar dan dieksekusi sebagaimana terjadi sepuluh hari sebelumnya. Selama beberapa hari kedepan dimana situasi Semarang juga tetap memanas, setiap ada kesempatan, kelompok orang Surabaya melakukan balas dendam berdarah terhadap Jepang. ( lihat : Frederick, William, Pandangan dan Gejolak, Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi Indonesia ( Surabaya 1926-1946), Gramedia, Jakarta 1989...hal 311 )

Dalam pertempuran tiga hari di penghujung Oktober 1945, kejadian pada tanggal 28 di penjara Koblen dapat  kita baca dari  catatan drg Barlan dan Bung Tomo. drg Barlan menuliskan :

"Kontak senjata terjadi setelah ada berita tentang tahanan Jepang yang dipersenjatai oleh Sekutu. Penduduk di sekitar berjaga-jaga. Serangan dilakukan pada 28 Oktober pagi oleh pemuda API dengan bantuan Polisi Istimewa. Para penyerang mendapat perlawanan dari serdadu India dan Jepang yang bertahan didalam penjara. Untuk melumpuhkan perlawanan,telah diusahakan pembakaran. Akan tetapi karena komplek penjara terlalu luas tidak banyak hasilnya. Juga pelemparan granat tidak merubah keadaan. Dengan mendobrak pintu belakang dengan didahului mobil lapis baja, para penyerang berhasil masuk. Ditengah penjara itu terdapat perumahan yang dikelilingi tanah yang tidak rata. Keadaan ini dimanfaatkan penyerang karena dapat terlindung dalam gerak majunya. Orang-orang jepang dan India akhirnya angkat tangan. Selain Jepang dan India terdapat pula orang-orang kulit putih yang diduga Belanda" ( lihat : Barlan Setiadidjaja, 10 November 1945 Gelora Kepahlawanan Indonesia, Yayasan Dwi Warna, Jakarta 1991...hal 369 )

Sedangkan Bung Tomo menuliskan dalam memoarnya tentang pertempuran di Koblen :

"Ketika rakyat sedang mengepung penjara Koblen yang digunakan berlindung oleh pasukan Gurkha. Granat tangan dilemparkan kedalam gedung tersebut. Namun tidak lama kemudian sebagian dari granat itu dilemparkan kembali keluar dinding rumah penjara yang tinggi dan meledak ditengah-tengah rakyat. Ternyata sebagian pasukan rakyat belum mengerti cara penggunaan granat tangan. Mereka menyangka granat itu akan meledak dengan sendirinya ketika terbentur tanah atau benda keras lainnya. Banyak granat yang dilemparkan tanpa dicabut pin nya lebih dahulu sehingga banyak yang dikirimkan kembali". ( lihat: Sutomo, Pertempuran 10 November 1945, Kesaksian & Pengakuan Seorang Aktor Sejarah. Visimedia, Jakarta, 2008, hal 130 )

 

Bagaimana kondisi penjara Koblen setelah pertempuran Surabaya berakhir dan Belanda menguasai penuh kota setelah mendapat serah terima dari Inggris ? 

 

Belanda, Awal Musim Gugur 2013 

Marjolein van Pagee berangkat dengan kereta api menuju Amsterdam. Kali ini ia berangkat sendiri tanpa saya. Veteran yang akan kami dokumentasikan kesaksiannya kali ini bernama Grijzenhout. Ia mengaku memiliki pengalaman traumatis di Penjara Koblen dan bersedia diwawancara dengan satu syarat : tanpa kehadiran saya, seorang penulis Indonesia. Alasannya yang beliau kemukakan melalui telefon : "saya masih sangat trauma dengan semua peristiwa itu, saya tidak akan sanggup bertatap mata dengannya". 

Veteran Grijzenhout saat wawancara dengan Marjolein van Pagee

Sebuah alasan singkat, terdengar sederhana tapi mengusik rasa penasaran yang cukup dalam. Tuan Grijzenhout menyambut dengan ramah dan mulai memperkenalkan diri. Dia berasal dari unit Marinir dan ditugaskan di kota Ngawi. Ia mulai bercerita bagaimana serangan pejuang atas patroli pasukan Belanda terjadi terkadang begitu intens, tetapi kadang juga tidak ada kejadian apapun selama beberapa minggu.

Suaranya mulai tercekat dan mulai mengatur nafas ketika menceritakan bagaimana ia diperintahkan menembak mati seorang tawanan yang terluka dan bagaimana mereka meninggalkan begitu saja para pejuang yang luka berat agar mati dengan perlahan dan menyakitkan. Ia melihat bagaimana kawan-kawannya merampas segala yang dipunyai pejuang yang sekarat untuk kepentingan pribadi mereka, sekedar mencari suvenir atau kenang-kenangan.

"Belanda tidak bisa menutupi ini, apa yang salah adalah salah. Saya pribadipun merasa bersalah. Bisa saja saya menolak ( untuk berperang ) tapi mereka tentu akan memasukkan saya kedalam penjara. Saya ingat suatu hari kami berpatroli dari Ngawi atau Gucialit dan menangkap dua pejuang, salah satunya berusia sama seperti saya...sekitar 20 tahunan atau mungkin lebih muda..."

Tuan Grijzenhout terdiam sesaat, ia menunduk, matanya kini mulai berkaca-kaca. Ia mengatur nafas dan kembali melanjutkan cerita.

"Saya sampaikan padanya, kalau kita sudah sampai di dekat pos, akan kutepuk punggungnya dan itu tandanya dia harus lari. Ia sungguh melarikan diri dan saya terus menembak kearah langit agar pos mengira saya menembakinya. Jika sampai ditangkap, mereka pasti akan menemui ajal. Mereka ini berjuang untuk kemerdekaan. Kami ini seharusnya sudah tidak ada urusan dengan Indonesia. Kenapa kita harus memaksa orang-orang baik-baik ini untuk kembali tunduk berlutut dibawah Belanda? Indonesia sudah merdeka sejak pendudukan Jepang berakhir. Tidak seharusnya saya turut melakukannya...tidak seharusnya saya turut melakukannya..."

Dalam sebuah kontak senjata di Ngawi, prajurit Grijzenhout tertembak di kaki kanan dan bagian dada. Setelah pulih dari luka, ia ditugaskan di Surabaya sebagai penjaga penjara Koblen, bukan lagi sebagai unit tempur. Kota Surabaya memberikan perasaan lega baginya, suasana kota yang aman karena telah jatuh sepenuhnya kedalam kontrol Belanda, kehidupan kota yang sibuk, tidak ada kontak senjata. Ada hal lain yang ia syukuri sebagai seorang petugas penjara, ia bisa berteman dengan para pejuang yang ditawan, saling berbicara menjalin persahabatan dengan para petarung Republik sedikit banyak mengobati perasaan bersalah dalam hatinya. Grijzenhout juga kerap memberikan jatah makan dan minum ekstra untuk para tawanan yang sebagian besar berasal dari unsur tentara pelajar dan korps mahasiswa.

Tapi diluar itu, ia juga mengalami guncangan emosi yang cukup keras. Di penjara Koblen itulah para tawanan yang kurang beruntung dibariskan membelakangi dinding, berhadapan dengan regu tembak. Dengan satu aba-aba, suara letusan yang bersahutan akan tersambung cepat dengan adegan tubuh-tubuh manusia yang bergelimpangan tak bernyawa. Dan ini bukanlah sebuah peristiwa yang hanya terjadi satu atau dua kali, eksekusi berjalan hampir seperti sebuah rutinitas. 

"Didalam penjara Koblen, kami memiliki satu regu tembak. Kami tidur di ranjang susun, saya tidur diatas dan orang yang tidur dibawah adalah salah satu personil regu tembak itu. Suatu malam saya terbangun dan terpikir untuk menghajar dia. Saya begitu marah dan membencinya, pasukan tembak keparat !  Tapi niat itu saya urungkan, suatu hari saya turun mengambil sepatu dia dengan penuh amarah lalu melemparnya".

"Setiap pejuang kemerdekaan pasti dinyatakan bersalah, pada akhirnya mereka semua akan berakhir dihadapan regu tembak di penjara Koblen. Pernah suatu ketika saya berdiri dibelakang ketika eksekusi itu dilaksanakan dan itu membuat saya hampir menjerit. Orang-orang itu bukan pelaku kriminal, mereka berjuang untuk kebebasan bangsa, kebebasan yang kami renggut dengan paksa"

Tuan Grijzenhout kemudian masuk kedalam kamar dan kembali keluar membawa beberapa lembar foto hitam putih. Dinding tinggi memanjang khas penjara Koblen tampak sebagai latar dari foto-foto itu. Satu foto menampakkan Grijzenhout muda berpose berdua dengan seorang tawanan Indonesia.

"Dia sahabat saya. Saya tak pernah lagi tahu tentang kabarnya. Jika masih ada peluang mencarikan info tentangnya, bantulah saya..."

Foto Grijzenhout muda dengan kawannya seorang pejuang Indonesia.

Kami merespon permintaannya dengan mengupload foto itu di media sosial, sekalipun mendapat banyak tanggapan positif, sayangnya informasi itu tak pernah kami dapatkan. Ada hal menarik saat merekam kesaksian veteran Grijzenhout, tiba-tiba saja ia menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ia menyanyi dengan nada yang sempurna walaupun terdapat beberapa kesalahan dalam pelafalan lirik. 

Perang itu telah berlalu lebih dari setengah abad lamanya. Beberapa peristiwa dalam masa perang itu tertancap begitu dalam bagi mereka yang melaluinya, menjadikan sebuah trauma-trauma tersendiri. Atau sekedar potongan-potongan kenangan yang abadi. Pada akhir perang, pasukan Belanda dipaksa untuk angkat kaki dari Indonesia. Diangkut truk dan kereta api menuju pelabuhan-pelabuhan besar dimana kapal-kapal laut menanti mereka.

Disepanjang jalur rel kereta api, di tiap stasiun perhentian. Nampak pemuda-pemuda dan anak-anak kecil yang dengan riang dan lantang menyanyikan lagu kebangsaannya. Lagu yang selama ini dilarang keras untuk dinyanyikan kini bebas dikumandangkan kapanpun, dimanapun. Sebuah rangkaian kereta api yang membawa pasukan Belanda adalah sasaran yang tepat untuk menumpahkan kegembiraan ini, dimana setengahnya tentu adalah ejekan. Mereka menyanyikannya dengan lantang disertai lirikan mata dan senyum merendahkan. Bagi beberapa serdadu, nyanyian yang terus terdengar sepanjang jalan hingga pelabuhan ini akan terus terkenang dalam kepala. 

Grijzenhout mungkin hanya satu diantaranya. Ia harus meninggalkan negeri tropis dimana di lubuk hati terdalam, ia mencintai pula penduduknya. Ia mencintai persahabatan yang ditawarkan, kepingan kenangan akan Ngawi, Penjara Koblen dan wajah-wajah pejuang Republik yang berakhir di hadapan regu tembak Koblen akan terus menemani sisa hidupnya. 

Wajah-wajah yang pernah berucap senyum terimakasih menyambut uluran tangan Grijzenhout yang sekedar memberi porsi makan sedikit lebih banyak. Wajah-wajah petarung yang takkan pernah bisa ia lupakan...

Grijzenhout berfoto bersama para tawanan di dalam komplek penjara Koblen. Foto milik Grijzenhout, penulis memperkirakan foto diambil ketika mendekati masa pengakuan kedaulatan.

 

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Selanjutnya Tragedi Bandara Cililitan, Sosok Westerling Dimata Seorang Prajurit Suriname
8
10
Film de Oost yang mengisahkan kekejian Westerling rupanya cukup menggemparkan. Mengutip artikel dari erasmusmagazine , putri si tukang jagal yang bernama Palmyra Westerling menulis surat terbuka, memprotes bagaimana sosok ayahnya digambarkan dan mengajak untuk memboikot film tersebut. Diluar itu, kritik datang dari komunitas Indo Belanda, bahkan organisasi para veteran perang dari Maluku yang bernama Maluku4Maluku mengajukan laporan pada Kepolisian Belanda dengan alasan penghinaan kepada kelompok tertentu dan ujaran kebencian.   Kita seringkali dihadapkan pada kesaksian sudut pandang dari Indonesia dan Belanda, bagaimana dengan kesaksian dari sudut pandang lain? Perlu diketahui bahwa dalam perang kemerdekaan di Indonesia, terlibat pula prajurit-prajurit muda dari Suriname di pihak Belanda.  Tujuh tahun sebelum film de Oost diluncurkan, saya bersama dua kawan peneliti, Marjolein van Pagee dan Max van der Werff mewawancara salah seorang dari veteran Suriname yang mengaku melihat langsung kekejian Westerling. Veteran ini bernama Iwan Dompig, beliau tinggal di Rotterdam sisi timur. Mengendarai mobil kecil milik Max, kami meluncur ke apartemen narasumber.Begitu pintu dibuka, saya dikejutkan wajah yang nampak familiar. Tuan Iwan Dompig memiliki ciri fisik khas orang Indonesia. Lebih kurang seabad yang lalu Belanda mengirimkan orang-orang Indonesia menuju Suriname sebagai buruh industri gula, dijejal-jejalkan didalam kapal laut. Mengenakan kemeja batik, beliau tersenyum dan mempersilahkan kami untuk masuk. Ruangan apartemen itu tak terlalu luas, sebuah sepeda statis terpajang ditengah ruang tamu. Dari bermacam dekorasi yang terpajang maupun tergantung pada dinding di ruangan itu, dapat disimpulkan dengan mudah bahwa masa muda Iwan Dompig setidaknya melalui dua perang besar : perang kemerdekaan di Indonesia dan perang Korea.Membuka percakapan. Foto: dokumentasi pribadiKami bertiga duduk di ruang tamu, suguhan minuman mulai dikeluarkan tuan rumah beserta beberapa lembar foto. Diantara foto-foto itu terdapat gambar istrinya yang telah tiada dan foto masa mudanya saat bertugas sebagai prajurit angkatan udara. Marjolein mulai menyetting kamera dan posisi tripod. Tuan Iwan Dompig memulai kisahnya, pertama datang di Indonesia, ia ditugaskan di Bandara Cililitan. Saya ingat saat itu hari Minggu dan sedang bersantai, tiba-tiba seorang kawan bernama Cameron mengajak untuk menemani dia mengirim ransum makanan ke salah satu afdeling (bagian) di dalam komplek Bandara Cililitan. Karena memang sedang tidak ada tugas penting maka saya bersedia menemani dia.Kendaraan yang memuat ransum makanan pun berangkat dengan dikemudikan Cameron dan saya duduk di sampingnya, kami berhenti di depan sebuah gedung lalu Cameron turun. Saya tetap duduk di dalam kendaraan seorang diri. Kemudian dari atas balkon gedung tersebut muncul sosok seorang Letnan, saat itu saya sama sekali tidak tahu siapa Westerling, saya juga tidak tahu bahwa logistik beras dan roti yang kami kirimkan itu adalah afdeling nya WesterlingDari atas balkon, si Letnan ini melihat kesibukan sebuah pasar tradisional orang Indonesia yang ada diseberangnya, ia sempat juga melihat kearah saya tetapi saya hanya duduk diam di mobil. Tiba-tiba ia menunjukkan jarinya kearah seorang pemuda Indonesia yang memiliki postur tubuh bagus. Anak buahnya segera bergerak menyeret si pemuda malang tersebut keluar dari pasar, membawanya mendekati gedung. Saat itu tak ada orang kulit putih yang menjadi anak buah si Letnan, semuanya adalah pasukan Ambon, setidaknya itu yang saya lihat. Letnan itu kemudian mendekat, mencabut pistolnya dan dorrr, ia menembak kepala anak muda malang itu begitu saja, tanpa banyak bicara.Peristiwa itu terjadi hingga tiga kali di hadapan mata kepala saya sendiri, darah saya mendidih, saya sangat marah dan berpikir untuk meraih senjata Thompson dan memberondong si Letnan biadab ini.Ketika Cameron kembali, saya sampaikan padanya : Cammy, siapa Letnan ini? dia baru saja mengeksekusi anak-anak muda ituCameron menjawab bahwa itulah si Westerling yang sangat terkenal, kemudian tentara-tentara Ambon itu menyeret mayat para pemuda ke bagian belakang gedung. Saya tidak bisa melihat apa yang terjadi di bagian belakang gedung, tetapi Cameron menyampaikan bahwa terdapat lubang dibelakang gedung untuk mengubur para korban Westerling.Di tahun 1948, Westerling pernah pula berulah dengan mengenakan seragam Perwira Inggris. Ketika perang usai dan nama Westerling begitu tercemar, saya mengajak Cameron untuk bersaksi di depan kamera televisi tentang tragedi yang kami lihat di Cililitan itu, saya ingin menegaskan bahwa saya adalah saksi soerang Westerling bukanlah prajurit militer yang terhormat, ia tak lebih dari seorang pembunuh kotor, seorang kriminil. Sayangnya Cameron tak pernah bersedia dan menganggap semua itu adalah kisah masa lalu dan kini Cameron sudah meninggalDiluar semua kisah ini, Tuan Iwan Dompig juga menceritakan kisah yang ia dengar. Suatu hari Westerling dan anak buahnya memberhentikan sebuah bus yang dikemudikan seorang prajurit. Westerling mengatakan bahwa bus diambil alih olehnya, si prajurit menolak dan mengatakan bahwa bus tersebut sedang dibutuhkan dan perintah tidak bisa dirubah begitu saja. Tanpa banyak bicara, Westerling menembak kaki prajurit malang tersebut. Sayangnya Tuan Dompig sekali lagi menggarisbawahi bahwa kisah ini tidak ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri, ia hanya mendengarnya dari kisah orang lain. Untuk video wawancara Iwan Dompig bisa dilihat pula disini.Penulis memegang foto masa muda veteran Iwan Dompig disamping foto sang istri. Marjolein van Pagee dan Max van der Werff duduk mengapit kami. Foto diambil menggunakan kamera MarjoleinKembali ke film de Oost, peneliti Marjolein van Pagee punmenyampaikan kritik keras. Film ini tidak bisa lepas dari tuntutan hukum dan riset yang dilakukan oleh yayasan K.U.K.B dibawah pimpinan Bapak Jeffry Pondaag, melalui K.U.K.B lah semua kejadian keji masa perang kemerdekaan kembali menjadi sorotan di Belanda.  Dari arsip riset yang dilakukan yayasan inilah tim film de Oost bisa menemui para saksi mata kejadian, orang-orang yang dibantu yayasan K.U.K.B dalam persidangan di Belanda. Semua perkembangan terakhir tentang perdebatan kejahatan perang di Indonesia tidak bisa lepas dari sepak terjang Jeffry Pondaag dan yayasannya yang mengancam negara konstitusional Belanda, yang sayangnya sama sekali tidak disebutkan dalam kredit film. Lebih dari itu, tim film mengirimkan pesan pribadi kepada Jeffry Pondaag bahwa mereka tak mau lagi dikaitkan dengan yayasan K.U.K.B. Video kritikan Marjolein van Pagee terkait film de Oost dan K.U.K.B bisa dilihat disini 
Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai syarat dan persetujuan? Laporkan