← Kembali

Mengakui Ketidaktahuan Untuk Menerima Kenyataan

Wahyu Saputra

Mengeluh seperti menjadi hal yang biasa bagi kita ketika menghadapi sebuah kenyataan baru, tetapi bagaimana jika tidak ada baik atau buruk di dalam sebuah kenyataan?

Batas Eksklusif

Kehidupan memang tidak selalu sejalan dengan apa yang kita skenariokan. Masa depan yang kita harapkan sebagai tempat yang tenang, aman, dan nyaman, bisa saja berakhir dengan kenyataan pahit yang mengecewakan.

Ya, begitulah kehidupan. Dia memang selalu bisa menemukan cara untuk memberi pukulan terkerasnya untuk kita. Dia juga tidak peduli dengan perasaan kita meskipun kita tidak mau menikmati rasa sakit dan bersikeras menghindari ketidaknyamanan.

Di keadaan seperti itu, akan mudah bagi kita untuk membagi sifat peristiwa yang terjadi ke dalam dua kategori: baik dan buruk.

Tetapi, apakah baik dan buruk itu bisa kita terapkan dalam melihat sebuah kenyataan dalam hidup?

Dalam kuliahnya tentang Taoisme yang berjudul Swimming Headless, Alan Watts, seorang filsuf Inggris yang memopulerkan filsafat timur kepada audiens barat, menceritakan kisah yang bisa memberi gambaran bagaimana seharusnya kita bersikap saat kenyataan datang.

Suatu ketika, seekor kuda milik petani Cina kabur. Malam itu, semua tetangganya datang untuk bersimpati. Mereka berkata, “Kami sangat menyesal mendengar kudamu kabur. Ini sangat disayangkan.”

Petani itu berkata, “Mungkin.”Hari berikutnya kuda yang hilang itu kembali dengan membawa tujuh kuda liar dan pada malam hari semua orang kembali dan berkata, “Oh, bukankah itu keberuntungan. Pergantian peristiwa yang hebat. Anda sekarang memiliki delapan kuda!”

Petani itu berkata, “Mungkin.”Keesokan harinya putranya mencoba untuk mengistirahatkan salah satu kudanya dan saat menungganginya, ia terlempar dan kakinya patah. Tetangga kemudian berkata, “Ya ampun, itu buruk sekali.”

Petani itu menjawab, “Mungkin.”Hari berikutnya petugas wajib militer datang untuk merekrut orang-orang menjadi tentara, dan mereka menolak putranya karena kakinya yang patah. Lagi-lagi semua tetangga datang dan berkata, “Tidakkah itu luar biasa?”

Petani itu berkata, “Mungkin.”

Para tetangga petani tersebut seperti mencerminkan sikap kita ketika melihat kenyataan.

Ketika hal itu dianggap sebagai sesuatu yang “baik”, kita tenggelam dalam perasaan yang bisa melupakan, mengecoh dan membuat ceroboh dalam memutuskan sesuatu.

Sebaliknya, ketika hal itu dianggap sebagai sesuatu yang “buruk”, kita dengan mudah menyalahkan Tuhan, keadaan atau orang yang kita anggap bertanggung jawab atas hal itu semua.

Kita sebenarnya dilumpuhkan oleh kriteria kita sendiri.

Dalam sudut pandang yang lebih luas, kita akan bisa melihat bahwa ini semua adalah tentang bagaimana kehidupan menyajikan sesuatu untuk kita—perlakuan orang lain terhadap kita, keuangan, kesehatan, atau juga hubungan.

Memang akan lebih mudah jika kita langsung memberi penilaian—baik atau buruk—tentang apa yang terjadi. Sayangnya itu bukanlah hal yang seharusnya kita lakuan.

Alan Watts menjelaskan alasan itu dengan masuk akal bahwa seluruh proses alam adalah proses terpadu dari kompleksitas luar biasa, dan sangat mustahil untuk mengatakan apakah sesuatu yang terjadi di dalamnya baik atau buruk — karena kamu tidak pernah tahu apa yang akan menjadi konsekuensi dari nasib buruk atau kamu tidak pernah tahu apa yang akan menjadi konsekuensi dari nasib baik.

Mengakui ketidaktahuan kita tentang apa yang akan dibawa kehidupan untuk kita akan membuat kita bisa lebih menerima kenyataan.

"Hidup adalah permainan dadu," kata Arthur Schopenhauer, "Bahkan jika kamu tidak menjatuhkan angka yang kamu suka, kamu masih harus memainkannya dan memainkannya dengan baik."

Apakah itu berarti segala hal yang terjadi di kehidupan kita ini bersifat acak? Atau sebenarnya merupakan urutan yang tidak kita ketahui?

Setiap orang akan memiliki sudut pandangnya sendiri-sendiri.

Tidak masalah jika mereka mempercayai yang pertama, kedua, atau bahkan memiliki definisinya sendiri, karena poin terpentingnya bukan di sana.

Di dunia yang tidak pasti ini, kita terkadang memang sangat sulit memahami apa yang terjadi. Membuat kotak sebatas hitam dan putih atau melihat sesuatu yang terjadi secara statis bukanlah solusi yang memperbaiki. Poin terpenting yang harus kita perhatikan adalah kita harus menyambut kontradiksi yang terjadi di kehidupan kita dengan tidak melibatkan banyak perasaan negatif.

Menyambut di sini bukan tentang berdiam diri di tengah badai dan mengatakan, “Ini cerita kehidupanku dan aku menerimanya.” Ini adalah tentang berdiri setelah terjatuh atau berjalan setelah tersandung. Kita mengusahakan perubahan ketika sesuatu terjadi, bahkan dengan cinta yang kita miliki.

Menurut Friedrich Nietzsch, formula kejayaan dalam menjadi manusia adalah amor fati — mencintai takdir. Kita tahu itu bukanlah suatu perkara yang mudah, tetapi jika kita memberi waktu kepada diri sendiri untuk berpikir, sesuatu yang terjadi, memang seharusnya terjadi.

Mengeluh tentang kenyataan dalam hidup hanya mengartikan bahwa kita menyangkal kebenaran yang terjadi. Dan, kita tidak mendapatkan apa-apa dari itu. Perubahan yang benar-benar kita cari adalah ketika kita bisa membentuk realitas, bukan realitas yang membentuk kita.

Mahatma Gandhi mengatakan, “Kita hanyalah cermin dunia. Semua kecenderungan yang ada di dunia luar dapat ditemukan di dalam diri kita. Jika kita bisa mengubah diri kita sendiri, kecenderungan di dunia juga akan berubah. Ketika seseorang mengubah sifatnya sendiri, demikian pula sikap dunia berubah terhadapnya.”

Untuk memudahkan apa yang dimaksud Gandhi, kita bisa membayangkan diri kita di depan cermin dengan raut wajah yang sedih. Sekarang, bagaimana cara untuk mengubah raut wajah yang ada di cermin? Apakah kita mengubah cerminnya? Atau mengubah wajah kita yang ada di dalam cermin? Tentu saja tidak. Untuk mengubah raut wajah yang di dalam cermin, kita hanya perlu mengubah raut wajah kita sendiri terlebih dulu.

Realitas juga seperti itu. Dia tidak bisa kita ubah sebelum kita mengubah diri—mengubah apa yang kita percayai atau mengubah sudut pandang yang kita miliki.

Merangkum penjelasan di atas: mengontrol persepsi akan melahirkan sebuah tindakan. Tindakan itulah yang kemudian berakhir menjadi realitas.

Masih ingat saat kamu putus cinta? Ketika kamu merasakan perasaan sedih yang mendalam, atau juga kekecewaan yang besar, di sanalah realitas membentuk diri kita. Padahal, untuk mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik, kita harus bisa membentuk realitas kita sendiri yang ditentukan dari bagaimana reaksi kita ketika hal itu terjadi.

Aku tidak mengajakmu untuk berpura-pura tidak terjadi apa-apa karena itu adalah bentuk kebohongan diri. Poin yang ingin aku sampaikan: merasakan perasaan negatif adalah mode pasif. Kita harus bisa mencukupkannya sebelum bereaksi tentang apa yang terjadi.

Kepercayaan dan sudut pandang yang sudah tertanam terlalu dalam hanya akan membuat kita semakin sulit menerima kenyataan karena kita memfokuskan diri pada satu hal saja. Contohnya, jika kita memfokuskan diri bahwa berakhirnya suatu hubungan adalah sesuatu yang buruk, kejadian itu akan terus terlihat buruk.

Lain halnya jika kita berhenti memfokuskan diri untuk melihat sisi tersebut dan mengalihkannya pada hal yang lain. Artinya, kesempatan melihat hal baru yang lebih menenangkan juga akan terbuka lebar.

Menerima semua yang terjadi tanpa adanya pelabelan “baik” dan “buruk” dan mengesampingkan perilaku impulsif akan memberikan kita ruang untuk tidak menyalahkan apa pun dan siapa pun. Karena pada dasarnya semua tanggung jawab akan kembali kepada diri kita sendiri.

Sebarkan di media sosial

Kolom Komentar