#Tantangan2U Korban Oleh Ramdziana Challenge

0
0
Deskripsi

Tema: Dua Pilihan
Foto oleh Thirdman dari Pexels

Wanda menatap foto-foto yang bersandar di meja kerja pribadinya. Di antaranya, dua foto yang mulai bebercak. Terlihat tua sekaligus paling antik di antara foto dan barang lain.

Jarinya mengetik cepat, seolah sedang diburu tenggat waktu pekerjaan yang harus selesai malam itu juga, sembari melayangkan pikiran pada satu dua titik bahasan.

Wanda memang begitu, semasa kuliah ia populer sebagai mahasiswi paling aktif sekelas. Ratu multitasking, kata kawan satu geng-nya. Sudah biasa sang Ratu mengetik gesit tugas sembari membahas film yang ia tonton sebelumnya.

Tak! Tak! Tak!

Tabel-tabel ketikan terus bertambah. Mata Wanda berpindah dari monitor ke foto, foto ke monitor, dan seterusnya. Baru kali ini ia terganggu dengan situasi seperti ini, situasi saat memfokuskan pikiran pada dua hal secara bersamaan, dan menentukan dengan tepat sebelum harus mengambil keputusan.

Kedua pilihan itu membuatnya makin rapuh dan sengsara. Memori sekelebat membuat Wanda sakit perut dan ingin muntah. Bayangan Reza yang mendesak bahunya hingga membuatnya jatuh tersungkur dan wajah Andi yang terpingkal-pingkal di belakang. Kelebatan dada Reza yang berambut tebal begitu sangat memuakkan. Ditambah suara cekikikan, suara gesper yang dibuka secara tak sabar, dan resleting rok yang dirobek paksa.

Kepalanya hampir meledak. Gang di sebelah minimarket itu menjadi saksi Wanda berjalan seperti orang mabuk. Syok. Terhuyung-huyung. Lalu terjerembab. Dengan tenaga yang masih tersisa, matanya mencoba membuka.

Plak!

Sebuah notes bersampul hitam terlempar dari udara kosong ke bahu Wanda. Suara menggema yang tak jelas. Wanita itu hanya mengingat kata "buku", "tulis", "nama", "mati", dan "alasan". Sejak itu, ia memikirkan arti kata-kata tersebut, mencoba terus memahami sampai setengah mati.

Reza pasti akan menikahinya. Begitu janji keluarga Reza yang datang ke rumah. Wanda hanya dapat mendengarnya dari balik kamar. Terus menangis. Sesenggukan di balik selimut. Harga dirinya tercabik-cabik habis. Orang tuanya seperti tak punya daya melawan ayah Reza, sang empu kuasa di tanah kelahirannya.

Dalam redup ruangan kantor, jari Wanda yang sempat lincah di atas papan ketik mulai melambat. Dia sudah memutuskan. Yakin. Dia tahu, orang-orang tak akan marah kalau tahu pilihannya. Kenapa harus memilih kalau saja bisa fokus kepada diri sendiri? Toh, tak ada yang peduli.

Wanda meraih notes hitam dari saku jaketnya. Hanya beberapa detik tangannya gemetar lalu berubah kokoh penuh tekad saat memegang pena.

"WANDA SORAYA."

"SERANGAN JANTUNG."

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Kategori karya
Cerpen

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai syarat dan persetujuan? Laporkan