Leuweung Sarebu Lelembut - Part 4

12
31
Terkunci
Deskripsi

Part 4 – Kerangkeng Sukma 

Spoiler :

 

“Jalu lelaki tidak berguna! Setelah Abah Amar mati dan Ibu kamu mati! Seharusnya kamu yang bertanggung jawab untuk leuweung sasar bukan pergi! Manusia tidak guna! Akan ada yang membalas kelakuan kamu Jalu! Ayo habisi aku!” ucap lelaki itu dengan lantang wajahnya sudah dekat dengan Budi.

Bahkan Budi merasa aneh, lelaki yang jauh lebih muda usianya itu bisa mengetahui hal paling menyakitkan untuk dirinya, ucapannya barusan membuat gejolak dalam diri Budi meledak...

1 file untuk di-download

Unlock to support the creator

Choose Your Support Type

Paket
120 konten
Akses 30 hari
1,000 (IDR 100,000)
Post
1 konten
Akses seumur hidup
150 (IDR 15,000)
Berapa nilai Kakoin dalam Rupiah?
Sudah mendukung? Login untuk mengakses
Kategori karya
Leuweung Sarebu Lelembut
Selanjutnya Leuweung Sarebu Lelembut - Part 5
17
18
Part 5 – Tumpas DalangSpoiler :“An–anak itu pasti sudah mati Jalu, dan sosok wewe gombel sudah menemukan penerusnya!” ucap Karni terbata-bata sambil berusaha berbicara jelas.“Akan aku perlakukan sama seperti ini, siapapun yang berani berbuat didalam leuweung sasar!” bisik Budi dengan dingin, dekat telinga Karni.“Ib–ibu dari anak itu akan menjadi wewe gombel selanjutnya Jalu, dan leuweung sasar akan jadi tempat abadi!” jawab Karni di ujung nafasnya, karena semakin ditekan bagian lehernya itu oleh tenaga sisa Budi.“Arrgggghhh!!!”Teriak Karni semakin kencang, bersamaan dengan pisau Budi mengarah tepat di tangannya yang berusaha menutupi luka dibagian perut Karni.“Ini belum seberapa, ganjaran ringan untuk penghianat yang bersekutu dengan Sugik dan wewe gombel” ucap Budi sambil mendengar suara nafas Karni yang tidak tenang sambil menahan sakit.“Am-ampunnnn!!!”“Arrrgghhhhhhhh!!!”Pisau itu sudah kembali menusuk perut Karni, tepat meneruskan sisa tusukan ketika berada didalam leuweung sasar, namun kali ini darah memancar bukan hitam lagi melainkan merah, membuat Budi langsung menganggukan kepalanya yang sudah bercucuran keringat sambil memastikan Karni sudah tidak bernyawa di tangannya. Bahkan tubuh Budi yang berada di belakang Karni yang sudah tidak bernyawa itu, langsung didorongkan ke depan agar pisau itu semakin dalam bersarang di perut Karni.“Bruggg!!!”Seketika tubuh Budi berguling kesamping pandangan matanya tepat ke arah langit malam ini yang gelap, bersebelahan dengan tubuh Karni tengkurap perlahan darah itu semakin keluar banyak dari samping perut, dengan kepala yang sudah menyentuh tanah.…
Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai syarat dan persetujuan? Laporkan