2042020

Sebagai ganti sekian lama nggak lanjutin 25, satu cerpen gratis yang bisa dibaca. Kalau suka silakan disebar ya! \(w)/

Batas Khusus Pendukung

Satu demi satu barang dimasukkan. Kamar ini seperti kastil yang terbuat dari kardus. Wanginya menusuk. Kombinasi antara apek dari baju yang terlalu lama digantung dan penyemprot ruangan yang berlebihan.

Empat bulan setelah work from home, Farhan menelepon ibu penjaga kosan. “Kantorku masih nyuruh kerja dari rumah. Nggak tahu sampai kapan. Kayaknya sayang, deh, kalau barangku harus tetep di situ sementara nggak aku tempatin.”

Sudah lama Farhan tidak mendengar suara penjaga kosannya itu. Biasanya, logat betawinya terasa kental. Tipikal ibu-ibu muda yang suka heboh sendiri. Tapi tampaknya sekarang baterainya lagi abis. “Ditambah kamu, udah ada enam orang lho yang pergi.”

Farhan membiarkan ibu penjaga kosan bicara lagi.

“Eh, kamu tadi bilang sayang?”

Farhan gak tahu mau dibawa ke mana arah pembicaraan ini. Di telepon, dia bilang, “He eh, Mbak.” Padahal dalam hati: Max-ud anddha?

“Kamu bener sih,” katanya. Bikin Farhan lega. “Masih muda, harus bisa tentuin prioritas. Kita semua, kan, nggak mau kondisi kayak gini.” Dia kemudian cerita tentang kondisi anaknya yang sakit dan betapa beruntungnya dia dan suaminya punya tabungan.

Minggu depannya, Farhan kembali ke kamar untuk beres-beres kenangan. 

Ia naik ke kasur, mengambil satu plastik besar bekas laundry di atas lemari. Di dalamnya terdapat sprei dan sarung bantal dan guling berwarna biru. Ia memasangnya ke kasur yang sedang telanjang. Sekarang, kamar itu sudah seperti sebelum ia tempati. Ruangan tiga kali empat meter dengan kasur bersprei biru di lantai dan lemari pakaian di dekat pintu.

Bedanya, lantai kamar yang tadinya bersih sekarang berisi tumpukan kardus, karpet bulu abu-abu, dan meja IKEA yang dibeli Farhan tiga minggu setelah menetap. Farhan duduk bersila di karpet. Memandangi sekitar. Ada perasaan aneh menyusup ke dadanya. Seperti perasaan ketika bertemu anak kucing lucu di tengah jalan. Kamu mengelusnya, membalas ngeongnya, memotret dan memasukkannya ke Instagram story, lalu kamu sadar kalau waktu itu tiba: kamu harus kembali ke duniamu lagi. Meninggalkan si kucing di jalan seperti kamu tidak pernah menemuinya sama sekali.

Handphone Farhan bunyi. Kabar yang ditunggu datang juga. Ia mengalungkan kartu akses, kemudian mengantongi kunci dan bergegas turun.

Biasanya, kejadiannya selalu berawal dari luar gerbang. Tangan Farhan masuk ke sela besi hitam setinggi dua meter itu. Jarinya berusaha menekan kartu ke mesin kontak di tembok belakangnya. Setelah melakukannya, dia akan bilang, “Bayangin kalau kartu aku jatuh ke dalem. Untung aku terlalu hebat.”

Kemudian alarm akan berbunyi jika pintu dibuka lebih dari lima belas detik. Alarm itu seharusnya membuat penghuni merasa aman, tetapi tidak dengan Farhan. Alarm itu mengerikan. Di kepalanya, gerbang itu seperti pintu clothing store dan waktu yang dibutuhkan sampai alarm berbunyi adalah langkah kaki pramuniaga yang datang sampai bertanya, “Mau cari apa, Mas?”

Farhan adalah tipikal orang yang melarikan diri ketika pramuniaga mendekat. 

Maka, gerakan Farhan selalu di-fast forward setiap ia membuka pintu. Ia menarik selot, menjulurkan tangannya ke sela gerbang, menempelkan kartu akses di mesin kontak, mengeluarkan tangannya kembali, mendorong pintu sebelah kiri dan masuk, lalu menutup pintu ke belakang tanpa berbalik badan. Semua gerakan tersebut dilakukan kurang dari lima belas detik. Lengkap dengan kalimat, “Bayangin kalau kartu aku jatoh ke dalem. Untung aku terlalu hebat.”

Biasanya, Adel selalu heran dengan perilaku ini. Tetapi dia tidak pernah betul-betul menanyakannya. Kalau mood-nya sedang baik, ia akan menanggapi pernyataan mahanorak itu dengan, “Kalau jatoh, aku pura-pura gak kenal kamu ya.”

Tapi, itu biasanya.

Kali ini Farhan datang dari dalam. Sementara Adel di luar gerbang. Setelah empat bulan, mereka akhirnya bertemu lagi. Melihat Adel terhalang gerbang, perasaan asing menyeruak. Seperti ketika entah dari mana, kamu kembali bertemu kucing kecil lucu yang sewaktu berangkat kamu ajak ngobrol tadi. Apakah ini kebetulan? Apakah ini takdir?

Pip. Bunyi alarm aktif ketika gerbang dibuka dengan kartu akses. Mereka berdua belum bicara.

“Bayangin kalau kartu aku jatoh ke dalem. Untung aku sekarang di dalem.” Farhan tertawa sendiri setelah menyelesaikan kalimatnya.

Adel cuma senyum kecil. Kayaknya malu deh punya mantan begitu.

Lalu Farhan ikutan nyengir. Dia memberikan kode dengan tangannya agar Adel naik tangga duluan. Sementara Farhan berjalan di belakang. Di tembok sebelah tangga, terdapat berbagai kertas khas kos-kosan. Mulai dari satu HVS penuh berisi peraturan dan pembayaran, informasi password wifi, sampai tulisan: “SIAPA YANG MINJEM MANGKOK GUE? KALO UDAH DIPAKE JANGAN LUPA DICUCI!”

Setelah melewati lantai dua, kita sampai di lorong ini. Pintu berjejer dari kanan ke kiri. Biasanya, di lorong ini, Farhan menyalip Adel dan berjalan ke kiri. Mengarah ke pintu bertuliskan 204. Tidak terlalu ujung, tapi juga tidak pas di depan tangga. Setelah pintu dibuka, Farhan menyuruh Adel untuk memasukkan sepatunya. Pertengkaran tentang tempat menyimpan sepatu yang benar bagi anak kos selalu memulai pertemuan mereka.

Tapi, itu biasanya.

Adel masih belum ngomong apa-apa sampai Farhan membuka pintu bertuliskan 204.

“Sorry ya kalau bikin kaget.” Farhan duduk di karpet. Adel mengikuti. Wajah Adel tampak seperti ingin bicara sesuatu, tetapi tidak tahu cara mengutarakannya. “Mau minum apa? Kebetulan, lho, di sini lagi nggak ada apa-apa.”

“Kamu dari kapan sampai sini?” tanya Adel, menunduk ke arah karpet. Menghindari kontak mata.

“Sebentar.” Farhan berdiri dan naik ke kasur. Ia membuka jendela yang ada di belakangnya. Supaya ada aliran udara dan berharap aura canggungnya tersapu angin keluar. “Wait. Aku pipiw dulu ya.” Dia kemudian menyalakan AC dan masuk ke kamar mandi.

Di depan cermin, Farhan membangsat-bangsati dirinya. Apa ada yang salah? Kenapa suasananya begini? Farhan bertanya ke diri sendiri. Ia menyalakan keran lalu membasuh muka. Dalam hatinya, dia tahu. Memang ada yang salah. Dan tidak ada yang perlu dibenarkan lagi.

Keluar dari kamar mandi, Farhan membuka kardus bertuliskan “ALAT MAKAN”, merogoh dua gelas, dan mengisinya dengan aqua botol.

“Kamu kenapa tiba-tiba pakai hoodie gini?” tanya Farhan.

“Kamu sampai sini jam berapa?” Adel juga nanya.

“Ummm. Semalem, sih. Masih belum rela aku sebetulnya. Tapi, gimana lagi. Sorry, ya, kalau berantakan banget. Maksud aku biar sekalian. Aku mau beresin semuanya.”

Adel mengangguk.

Farhan butuh sesuatu untuk menghilangkan keheningan. Itulah kenapa dia suka musik, atau suara-suara tv di jarak jauh. Keheningan selalu membuat suara dalam kepalanya berteriak lebih kencang. Dan itu membuatnya tidak nyaman. Farhan mengambil gelas, meminum beberapa tegukan. Kayaknya cuma itu cara yang bisa dia lakukan untuk sekarang. 

Farhan berdiri, berjalan ke depan lemari melewati Adel.

Adel berbalik badan. “Kalau kita balikan gimana?”

Telinga Farhan mengunyah kalimat barusan. Teksturnya liat dan susah ditelan.

Farhan menggeser kardus menjauhi lemari supaya pintunya tidak terhalang. Di dalam lemari terdapat kardus Indomie soto ayam. Dia mengangkatnya, menendang pintu lemari agar tertutup, lalu membawa kardus itu ke kasur sebelah Adel.

“Han.”

“Iya?”

“Jangan diem aja dong.” Adel memperhatikan kardus soto mie di sebelahnya. Di depannya ada tulisan namanya: Adel. Pikirannya lalu terbang ke mana-mana. Tadi malam, Farhan hanya mengabari kalau ia minta ketemuan. Dia ingin ngobrol. Tapi, Adel tahu, apa maksud dari ngobrol itu. Adel memang tidak pernah benar-benar menyampaikan alasan mengapa ia meminta putus dua bulan lalu.

“Coba deh kamu buka,” kata Farhan.

Adel berdiri, mencoba mengangkatnya. Ketika diangkat, Adel merasa ada sesuatu yang bergerak di dalamnya. Seperti dua benda plastik yang berbenturan. Agak berat, tetapi ia masih sanggup memindahkannya ke karpet tanpa mengeluarkan keringat.

Tangannya membuka bagian atas kardus dan masuk. Mengambil benda paling atas.

“Ini?”

Adel meletakkan beanie abu-abu di sebelahnyayang ia beli tahun lalu. Ia tahu, isi kardus ini adalah barang-barang pemberiannya.

Adel membuka bagian atas kardus lebar-lebar. Dugannya benar. Ada jam mario bros, pot berbentuk Groot, dan sebuah hoodie PULL&BEAR warna biru. “Kamu mau balikin ini semua? Poster-poster ini juga? Semua yang pernah kamu tempel di tembok ini? Kenapa, Han?”

“Kamu inget gak beanie itu?”

“Kamu jawab aku. Kenapa?”

 “Itu kan pas kita pertama kali main ice skating di Mall Taman Anggrek. Yang kamu bujuk aku dengan, ‘Tenang aja, ini gampang kok. Cuma tinggal jalan kayak biasa aja’ tapi endingnya aku malah jadi pemeran utama Happy Feet yang bisa gerak-gerakin kaki tanpa meluncur maju. Pake acara diketawain anak kecil pula. Abis dari sana kita mampir ke toko cookies karena kamu bilang katanya teman kamu, ada kue yang dibekuin pakai nitrogen cair, terus kita makan sambil pura-pura jadi naga karena bisa ngeluarin asap dari mulut.”

Mata Adel berkaca-kaca, belum bisa mencerna sepenuhnya apa yang terjadi. “Iya. Abis itu karena aku kedinginan, kita beli ini di Uniqlo.”

Adel menatap Farhan. Mata bertemu mata. Dia mendorong kardus itu. “Ini aku kasih semuanya buat kamu. Aku ikhlas. Kamu jangan kayak gini dong.”

“Bukannya ini yang orang normal lakuin kalau mereka putus? Mereka hilangin tagged foto yang berkaitan sama pacarnya di Instagram, mereka hapus semua foto bareng di feed, dan ini. Bukannya nggak ngehargain, tapi aku nggak mau di suatu siang entah lagi ngapain, lalu ngeliat beanie ini, atau sweater ini di lemari baju, atau entah gimana tiba-tiba pot ini dipakai si ibu di rumah, lalu aku keinget kamu. Keinget sakitnya. Keinget kita akhirnya kayak gini.”

“Kamu boleh buang ini, atau bakar, atau kamu apain terserah aku gak peduli. Aku tahu kamu sedih. Tapi kalau kamu ngembaliin ini, kamu cuma ngoper sedihnya ke aku.” 

Mereka diam.

Farhan memasukkan kembali beanie itu ke kardus. Suasananya nggak enak.

“Aku kira maksud kamu ngobrol—”

Adel tidak sanggup melanjutkan. Matanya panas. Dia menarik ingus, lalu melanjutkan dengan terbata-bata, “Aku kira kita mau ngobrolin lagi. Kita kayak gini gara-gara nggak ketemu. Aku kira kamu mau ngobrolin lagi.”

“Pandeminya yang salah, atau kitanya yang kalah?”

Adel membuka tangannya, meminta peluk. Tapi Farhan bingung meresponnya. Air mata mulai turun di pipi Adel.

Ternyata, ngobrol langsung memang beda rasanya.

Pertemuan terakhir mereka dirayakan dengan suapan Egg Mayo Yoshinoya di Kota Kasablanka. Dengan Adel yang gemas karena Farhan nggak jago pakai sumpit. Dengan Farhan yang bilang kalau ia akan tinggal bersama ibunya selama pandemi. Dengan Farhan yang tenang-tenang saja dan menganggap perpisahan ini sebagai ajang latihan LDR. Dengan Adel yang lebih khawatir kehilangan karcis parkir ketimbang yang terjadi di masa depan.

Kemudian mereka pulang, lalu berpisah.

Pada awalnya, Farhan merasa inilah hubungan dua orang dewasa. Hubungan yang profesional. Hubungan yang tidak mengganggu satu sama lain. Hubungan yang tidak menye-menye seperti abg. Hubungan yang tidak perlu saling mengabari satu sama lain. Sampai, begitu ia sadar, semuanya sudah berbelok terlalu jauh. 

Hari itu, selepas Zoom meeting, Farhan berniat untuk video call Adel, tetapi dia menolak. Adel yang dulu suka mengirim foto dadakan, sekarang susah sekali diajak bertukar foto. Setelah merayu, akhirnya mereka sepakat video call malamnya. Farhan akan menemani Adel kerja lembur.

“Ini udah seminggu lebih loh kamu kayak gini.” Farhan meletakkan laptopnya di atas kaki, duduk selonjoran dengan kaki masuk ke selimut.

“Ya abisnya gimana.”

“Udah jam sebelas loh.”

“Ya aku tahu.”

“Kamu tapi sadar, kan, jam kerja kamu udah gak teratur. Semuanya kecampur-campur dan gak ada batas. Emangnya nggak bisa banget ya digimanain gitu?”

“Kamu bukannya semangatin aku kok malah begini sih? Kalau nggak mau nemenin ya matiin aja.”

Adel mengetik sesuatu, suasananya jadi gak enak.  

Pada akhirnya, video call ditutup dan Adel masih bekerja. Sementara Farhan tiduran dan overthinking. Kalau suntuk begini, Farhan biasanya buka Twitter untuk mencari hiburan. Twitter memang tempat yang paling pas untuk mendapatkan stok meme terbaru, yang biasanya dia kirim dan tertawakan bersama Adel. Di antara berbagai twit yang muncul malam itu, dia menemukan satu twit yang di retweet 232 orang: “Sesibuk-sibuknya orang akan nyediain waktu luang kalau dia tertarik. Sebanyak-banyaknya waktu luang tetap gak punya waktu kalau nggak tertarik. Camkan.”

Lalu Farhan ketiduran sambil memegang handphone. Sampai dia bangun pagi harinya, tidak ada notifikasi dari Adel.

--

Tentu saja percakapan itu bukan satu-satunya yang mereka punya. Pot Groot itu, misalnya. Dikirimkan Adel sebagai surprise pakai Gojek. Lucunya, si Abang ojek nggak cuma ngasih kiriman pot, tetapi juga kertas kosong yang disobek dari buku. Saat ngasih, Abangnya bilang, “Maaf ya mas, tadi saya nggak sempet nulis.” lalu si Abang nunjukin chat Adel bertuliskan “Jangan lupa dirawat! Love you!” buat Farhan. 

“Nanti mas tulis aja sendiri biar bagus,” kata Abang ojek di depan pagar.

Lah, gimana.

Atau hoodie PULL&BEAR biru yang dibeli di Kemang Village sebelum nonton Joker tahun lalu. Itu bukan hari yang spesial bagi mereka. Mereka gak kebagian tiket pukul tujuh malam, dan akhirnya memutuskan untuk keliling dahulu. Sepanjang melihat-lihat, mereka sepakat untuk menyebut mal itu dengan Kemvil, dan bukannya Lippo Mall Kemang. Bagi mereka, Kemvil terdengar lebih catchy dan simpel. DIbandingkan Lippo Mal Kemang yang kepanjangan.

Seperti pasangan pada umumnya, mereka masuk ke berbagai toko. Lalu di dalam PULL&BEAR, Adel memilih-milih hoodie biru karena katanya, Farhan terlalu sering pakai hitam.

“Soalnya aku males. Kalau isi lemari aku warna-warni, nanti abis mandi malah bingung mikirin pakai baju apa,” bela Farhan.

Lalu Adel membawa hoodie biru ke kasir. Dia bilang, “Ya udah, ini satu-satunya yang beda. Kalau kamu mau yang berwarna, pakai ini. Gak ribet kan kalau pilihannya cuma satu?.”

Sebetulnya, barang-barang di dalam kardus itu tidak terlalu spesial. Itu cuma sekumpulan barang-barang biasa yang dibeli di hari biasa. Bukan barang yang memperingati apapun di hubungan keduanya. Barang-barang yang, kalau dicampur dengan benda yang ada di rumah manusia pada umumnya, tidak akan kelihatan bedanya. 

Namun, kadang hal-hal sepele justru terasa istimewa. 

Kaus Farhan basah karena pipi Adel. Dia mengelus rambutnya. Tidak ada suara kecuali Adel yang menarik ingus. Pikiran keduanya melayang-layang di kamar. Kamar itu seperti kastil yang terbuat dari kardus. Mudah penyok dan hancur. Tapi, mereka tetap pemiliknya.

Adel melepas hoodie, lalu memasukkannya ke kardus.

Selain membuang, ternyata ada cara lain untuk membereskan yang berantakan: merapikannya saja.

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Kategori karya
Cerpen

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai termin Karyakarsa? harap laporkan.