Kawan-kawan bisa unduh dan gunakan untuk poster, wallpaper HP/ PC, disain kaos, stiker, logo/ maskot komunitas, dll.

Konsep Seni:  

Ken Angrok, dengan gaya relief, duduk merenung sambil mengelus kerisnya, menyesali dosanya membunuh Empu Gandring. Latar belakangnya muram, mendung berwarna merah darah menyala, gambaran kutukan yang kelak akan menimpa dirinya.

File: 

  • file utama, 400g0x5000px, 400 dpi (PSD)
  • preview (JPG)
  • wallpaper HP 1080x1920px (JPG)
  • B/W tanpa background (transparan PNG)
  • Berwarna tanpa background ( transparan PNG)

Warna yang dipakai 7, flat, untuk memudahkan disain disablon pada kain/ kertas.

Narasi:

Pada sebuah kesunyian malam, setelah berhasil menaklukan Dahanapura dan menjadi penguasa baru, Angrok bersemadi, mengingat kembali apa yang telah ia perbuat hingga sampai tahap ini. Tetiba ia teringat akan jasa kerisnya sekaligus empu pembuatnya.

Persona seorang Ken Angrok (Ken Arok) sangat menarik untuk dipelajari. Kisah hidupnya yang diliputi mitos menjadi tanda tanya besar apakah sosok ini benar-benar tokoh sejarah yang nyata atau sekedar tokoh legenda seperti halnya Sangkuriang, Bandung Bandawasa, Joko Tarub, dll. Silang pendapat diantara para sejarawan sendiri sangat tajam. Ada yang sangat ekstrim menganggap kisah ini sekedar dongeng belaka karena Pararaton hanya sampah produk propaganda penjajah, namun tidak sedikit yang mendukung dan mempelajarinya sambil menelorkan teori-teori dan kesimpulan baru.

Satu-satunya sumber pemberitaan tentang Ken Angrok yang lengkap dengan mengesampingkan kaidah subyektifitas maupun obyektifitas adalah Pararaton. Pararaton merupakan naskah Jawa pertengahan yang merupakan hasil pengumpulan rekaman tradisi lisan yang penyalinan naskahnya selesai ditulis antara tahun 1600 dan 1613.

Naskah Pararaton pertama kali dipublikasikan oleh JLA Brandes dan NJ Krom yang berupa naskah-naskah lontar dalam Verhandelingen Bataviasch Genotschap van Kunsten en Wetenchapen bagian LXII.

Sebagai sumber sejarah, Pararaton memiliki kelemahan yaitu:

  1. Memiliki banyak unsur mitos. Perlu disadari bahwa hakikat uraian dalam bentuk mitos merupakan hasil tafsiran pengarang Pararaton sesuai dengan kepercayaan yang hidup dalam masyarakat penafsirnya. Penafsir pararaton tidak dapat melepaskan diri dari sistim kepercayaan masyarakatnya sewaktu ia hidup dalam alam lingkungan kepercayaan agama Hindu yang masih tebal (Muljana, 1965) pada masa itu.
  2. Penulisan angka tahun yang meragukan. Beberapa catatan tahun terjadinya suatu peristiwa berbeda dengan sumber lain yang dianggap lebih sahih, yakni Negarakretagama yang kalau dibandingkan dengan Pararaton, disusun tidak terlalu lama dari waktu terjadinya peristiwa tersebut. Hal ini sebagaimana diterangkan di awal barangkali merupakan kesilapan saat kisah-kisah yang terkandung dalam Pararaton masih disampaikan turun-temurun secara lisan.

Sebagai generasi muda, ada baiknya kita berangkat dari pandangan bahwa Pararaton adalah salah satu heritage yang membuktikan kekayaan khasanah budaya leluhur yang perlu dilestarikan. 

Benar atau salah, ia merupakan mahakarya susatra agung buah pikiran cendikia pada masanya.