Kidung Kahuripan: Kemelut Perang Saudara di Akhir Pemerintahan Raja Airlangga

Airlangga memerlukan waktu yang lama, mulai tahun 1021 hingga 1035 untuk memerangi pihak-pihak yang menentangnya. Ia mengalahkan Hasin (?), Wuratan, Wengker,  Lewa, raja wanita dari daerah Tulung agung sekarang, dan terakhir Wurawari.

Setelah melewati masa konsolidasi yang panjang tersebut barulah sejak 1035 sampai dengan 1042 Airlangga dapat menikmati masa keemasan pemerintahannya, yang menurut prasasti Kamalagyan (1037) berpusat di Kahuripan.

Prasasti Gandakuti (964 Śaka/ 1042 Masehi) mengabarkan bahwa raja Airlangga telah memilih kehidupan sebagai pendeta, berarti turun tahta.

Tidak lebih dari sebulan setelah mengeluarkan prasasti Gandakuti, raja mengeluarkan Prasasti Pamwatan (1042) yang memberitakan tentang pusat kerajaan yang baru yaitu Dahana (Dahanapura) yang diperintah oleh Airlangga didampingi putra mahkota Sri Sanggramawijaya Dharmaprasadottunggadewi.

Masih pada tahun yang sama, 1042, raja mengeluarkan prasasti yang lain yaitu prasasti Pandān. Prasasti ini dikeluarkan oleh raja Airlangga bersama Rakryan Mahamantri i Hino Sri Samarawijaya Dharmasuparnawahana Tguh Uttunggadewa.

Adanya dua putra mahkota disebut pada dua prasasti yang dikeluarkan pada tahun yang sama menimbulkan dugaan telah terjadi kemelut politik internal kerajaan.

Tampaknya raja Airlangga menghadapi dilema perang saudara antara anaknya, sang pewaris tahta dengan putra Dharmmawangsa Tguh yang masih hidup pada waktu bencana pralaya tahun 1016, atau bisa juga perebutan kekuasaan terjadi antara anak-anak dari Airlangga. Hal terakhir bisa saja terjadi karena putra mahkota yang sudah dipersiapkan ternyata mengundurkan diri dan memilih menjadi pendeta seperti disebut di dalam naskah-naskah sastra.

Baca selengkapnya di tautan ini.

Sila unduh file PSD desain Airlangga Jejaka beresolusi tinggi yang bisa diaplikasikan untuk T-shirt !