"Puspabangsa" - Episode 1 (prolog, bab 1, 2, 3)

"Puspabangsa" adalah sebuah novel yang terdiri dari 42 bab, 1 prolog, dan 1 epilog. Dalam versi berseri (khusus di KaryaKarsa), novel ini akan dirilis dalam 9 episode, dengan setiap episode berisi beberapa bab sekaligus.

Episode akan dirilis per pekan dan terbagi menjadi dua bagian: cuma-cuma dan berbayar.

Di Episode 1 ini akan terdapat konten: prolog, bab 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. 

Konten prolog, bab 1, 2, 3 tersedia cuma-cuma!

Selamat membaca!

Batas Khusus Pendukung

Prolog

Kemalangan adalah teman setia malam. Seperti saat itu. Saat bulan separuh menggantung di langit dan lolongan anjing terdengar sesekali. Para penghuni gedung masih lelap di balik pintu-pintu dan jendela-jendela berterali besi mereka, tak ingin peduli dengan kegaduhan yang terdengar dari salah satu unit apartemen. Mereka tahu kemalangan menular.

Kompleks pemukiman ini tua dan kusam, terlebih dalam cahaya remang. Dinding-dindingnya lusuh, cat terkelupas di sana-sini. Jemuran menggelayut di pagar-pagar balkon, unit-unit pendingin udara, antena televisi, pipa air dan gas merayap di sisi-sisi bangunan. Poster-poster propaganda dan coretan grafiti memenuhi koridor dan tangga.

Fajar tiba di Krawang. Kawasan ini bukan sektor agraris, tak ada ayam jantan yang siaga berkokok dari kandang. Ini pinggiran sektor industri. Hanya gemeretak gir besi, cuitan cerobong uap, dan raungan mesin terdengar di kejauhan. Derau dari salah satu unit masih terdengar. Di sebuah ruangan yang diterangi lampu redup seorang lelaki berjuang untuk tetap sadar. Bayangan kematian menggelayut di pundak siap merenggut napas.

Unit apartemen itu tidak terlalu besar, hanya ada sebuah ruang tengah yang menyatu dengan dapur, dua buah kamar tidur, dan sebuah kamar mandi di belakang. Di dekat pintu masuk tergeletak beberapa kantung plastik belanjaan yang belum sempat dibereskan. Aroma bunga bercampur dengan bau keringat dan asap kretek. Seorang lelaki terduduk terikat ke kursi. Napasnya tersengal, wajah remuk lebam, tubuh lunglai ke depan tertahan tali. Darah bercampur keringat dan liur mengalir, menetes ke kaos yang ia kenakan. Ia mencoba terus bernapas dengan sisa-sisa semangat, tak sanggup bahkan untuk menggerakkan jemari.

Ada sesosok lelaki lain di sana, berdiri di tengah ruangan. Dengan jemari bergetar lelaki jangkung itu menyelipkan sebatang rokok di bibirnya. Rasa manis dari kertas salut meresap di lidah. Ia menghisap asap rokoknya dalam-dalam. Langkahnya gegas. Pengaruh psilosaibin membuat tubuhnya sulit dikontrol. Indranya mengindra yang tiada, benaknya terserak-serak, mulutnya meracau. Tanpa peringatan, kepalan tangannya meluncur deras ke rahang si lelaki yang terikat di kursi. Sebutir gigi terlempar ke lantai. Darah memercik ke taplak meja makan.

Si perokok mengambil dompet yang tergeletak di atas meja makan lalu mengeluarkan selembar kartu.

"Aku tahu kalian merencanakan sesuatu," dibacanya nama yang tertera di kartu itu, "Anji."

Yang diajak bicara bergeming.

Si perokok mendekatkan mulutnya ke telinga Anji yang terkulai lemas. Ia berbisik, "ada orang di sini yang berusaha mendekati Konsul."

Bibir Anji bergetar. Entah karena menarik napas atau berusaha mengucapkan sesuatu. Namun hanya desah pelan yang dapat keluar.

Si perokok berlutut di depan sanderanya dan berkata, "aku tahu di mana temanmu bekerja. Aku akan datangi dia sebentar lagi. Jadi aku sarankan supaya kau menceritakan rencana kalian."

"Ampun... Tuan...," susah payah Anji menyebutkan dua kata itu, dengan tengkorak retak dan mulut berkumur darah.

"Apa rencana temanmu?" si perokok bertanya.

Anji hanya menggeleng pelan.

"Kenapa kau melindungi dia?"

"Ia... tak tahu apa-apa."

"Lantas mengapa dia membahas jadwal kegiatan Konsul di telegram?"

"Saya... tak tahu." Anji mulai kehabisan napas dan tenaga.

"Maksudmu ini semua cuma kesalahpahaman? Pesan itu tak sengaja terkirim dari teleponmu?"

Anji mengangguk lemah.

"Kalian para penghuni kerak-kerak negeri, semuanya pembohong."

Si perokok membenamkan ujung kretek yang membara ke paha Anji. Kulit yang terbakar berdesis. Anji mengejang tegang, matanya terbelalak. Mulutnya menganga namun tak ada suara yang keluar. Sebuah pukulan mendarat di wajah Anji. Dan satu pukulan lagi. Lalu berkali-kali. Lelaki itu baru berhenti saat Anji terjatuh ke lantai.

Batang rokoknya yang entah keberapa sudah hampir habis saat perhatiannya tertuju pada kebisingan dari luar. Ia mengintip melalui lubang intai. Tidak ada apa-apa di luar selain koridor kosong. Ia lalu melangkah ke dapur yang berada di samping pintu masuk dan menyingkap tirai penutup jendela. Di bagian bawah kompleks, di area terbuka yang terhubung ke gerbang masuk, terlihat beberapa orang berjalan beriringan. Di bawah lampu penerangan jalan ia dapat mengenali pakaian yang mereka kenakan: seragam terusan para buruh industri. Itu para pekerja sif malam yang baru pulang. Jantungnya berdegup lebih kencang. Di Sunda Kelapa , ia tak tersentuh. Tetapi sendirian di kawasan kelompok rendah, di tengah-tengah sektor industri, ia tahu keselamatannya rapuh. Bila warga mengetahui apa yang telah ia perbuat, mereka akan bertindak beringas. Polisi pun tak akan peduli. Mereka terlalu sibuk menangani kasus-kasus yang terjadi setiap hari di sektor industri untuk peduli pada orang hilang. Apalagi bila yang hilang adalah warga kelompok tinggi yang cukup tolol untuk memantik kemarahan warga kelompok rendah, tepat di tengah sarang mereka.

Lelaki itu berjingkat ke belakang unit apartemen yang sempit dan gelap. Ia meraba-raba mencari kunci slot pintu belakang. Ia dapat merasakan angin bertiup melalui selah pintu yang keropos saat membukanya perlahan. Engsel berdecit lemah. Di sisi belakang unit apartemen terdapat balkon sempit berlantai kasa baja. Sebuah tangga besi menjulur tak jauh dari tempatnya berdiri, menjulur dari lantai paling atas hingga dasar. Pintu-pintu darurat di belakang gedung terhubung dengan tangga besi itu. Ia tak mungkin turun melalui jalur biasa, risikonya terlalu besar.

Tanpa pikir panjang ia melompat.

Bagai dikejar setan ia menuruni tangga besi. Dan begitu kakinya menyentuh dasar gedung ia segera berlari melintasi tanah kosong. Ia menoleh ke arah bangunan apartemen, tak ada manusia yang terlihat. Hanya sebuah gedung kumuh yang mencuat di antara hamparan rerumputan tinggi.

Lelaki itu berlari ke arah area daur ulang logam di sebelah kompleks pemukiman. Bau besi berkarat dan petrikor terbawa udara. Tanah masih lembap oleh gerimis sore sebelumnya. Di antara tumpukan-tumpukan tinggi besi tua yang berbaris-baris bagai tebing berdinding tajam, beberapa mesin derek menjulang tinggi. Capit-capitnya besar. Kaki-kakinya tertanam menembus bumi. Sebuah penghancur raksasa berdiri kokoh di samping mesin derek.

Lelaki itu menatap mesin-mesin di sekelilingnya dengan rasa ngeri. Benaknya belum bebas dari halusinasi. Ia pun kembali berlari. Terus berlari. Di antara genangan air di balik tumpukan logam ia lenyap. Lenyap bersama malam yang memudar.  Lenyap meninggalkan korbannya yang sekarat di sebuah ruangan pengap.

1

Dua hari sebelumnya. Selasa, 17 September 1996.

Ufuk timur semburat merah. Malam masih menyelimuti sebagian wilayah imperium yang membentang dari Teluk Benggala hingga Latangai, Teluk Tonkin hingga Rote. Pesawat-pesawat tempur membelah langit Metro Sunda Kelapa. Deru mesin jet mengelegar seolah hendak menyapa kota yang tak pernah terlelap ini. Di pencakar-pencakar langit di Zona Bisnis Utama, lampu-lampu menyala sampai pagi. Jalan-jalannya tak pernah lenggang, selalu ada yang melintas, dari senja ke senja.

Satya mengeluarkan piranti tablet dari dalam tas. Layar sentuh menutupi sebagian permukaannya. Di bagian kanan layar terdapat tiga buah tombol, berjajar dari atas ke bawah, masing-masing berlabel: Berita, Rekan, Kitab. Di bawah layar sentuh terdapat layar yang lebih kecil berwarna merah tua. Satya menyalakan tablet dan menekan tombol Berita. Layar tablet terisi tajuk-tajuk utama dari konten yang ia unduh malam sebelumnya. Satya membaca tajuk satu persatu. Yang pertama adalah warta kemenangan batalion Garda Darat menahan gempuran negeri-negeri sekuler di benua. Selanjutnya warta keberhasilan lembaga intelijen menumpas sel-sel separatis di Kepulauan Timur. Dan terakhir adalah berita pembangunan infrastruktur sipil dan agraris di berbagai distrik. Satya mengklik tombol Dukung di bawah setiap tajuk di layar. Setiap ia melakukan hal tersebut, angka yang terpampang di layar merah bertambah satu.

Ia berhenti di bawah lampu lintas dan menyalakan sinyal penyebrangan pejalan kaki. Sambil menunggu sinyal menyala, Satya kembali menatap tabletnya. Ia meramban tajuk-tajuk liputan khusus. Ia melewati artikel panduan hidup bagi remaja menurut agama. Ia membuka artikel mengenai kapal selam nuklir terbaru Garda Laut yang menjadi bagian dari armada Samudera Teduh. Satya menekan tombol Rekan di tablet. Layar tablet kini berisi senarai paragraf-paragraf singkat dilengkapi foto-foto profil. Ia membaca sekilas. Tidak ada yang aneh. Seperti biasa berisi pesan-pesan patriotik dan nasihat-nasihat religius. Mulai dari pujian akan kedigdayaan imperium hingga tentang keluhuran ajaran Nusantaragama. Menjelang Hari Jadi Republik seperti saat ini, isi layar Rekan lebih ramai dari biasanya. Demikian pula jumlah dukungan di setiap isi. Satya membaca beberapa tulisan para pesohor jagad maya; orang-orang dengan skor tinggi di jejaring. Mereka begitu fasih menuliskan puja-puji bagi negara dan agama.

Lampu hijau untuk pejalan kaki menyala, Satya mematikan tablet dan menjinjingnya. Ia menyebrang dari arah stasiun menuju taman besar di depan gedung kantornya. Trotoar masih lembap, genangan air di sana-sini. Beberapa ekor burung camar mencari remah-remah di antara pepohonan. Di sisi barat taman terdapat area yang diisi kios-kios pedagang. Pagi ini baru satu yang menunjukkan aktivitas, sebuah kios sinkronisasi data.

Seorang lelaki paruh baya tengah sibuk di kiosnya. Satya berjalan mendekat dan melambaikan tangan.

"Pagi, Tuan Satya." sapa sang penjaga kios lantang.

"Selamat pagi, Pak Cokro."

"Pagi sekali hari ini datangnya. Ada banyak tugas, tuan?" tanya si pengelola kios sambil mengawasi pengunduhan data terbitan pemerintah di hari itu.

"Tidak juga, Pak. Ingin berangkat lebih pagi saja. Semangat perayaan Hari Jadi Republik," jawabnya berbasa-basi. "Waktu saya kecil di Sumatera dahulu, perayaannya tak semeriah ini."

"Pilot-pilot Garda Udara tampaknya tak sabar ingin mempertontonkan kehebatan mereka." Cokro menengadahkan kepala. Jalur uap dari mesin jet masih membekas di langit Sunda Kelapa.

"Semalam saya lihat promenad juga mulai ramai oleh pelancong."

"Ya, pawai perayaan tahun ini sepertinya akan lebih ramai dari biasanya. Tuan juga mau datang untuk menonton?"

"Sepertinya tidak, Pak Cokro. Saya harus bersiap-siap untuk rencana ke luar kota."

"Oh ya, rencana Tuan Satya setelah mengundurkan diri dari kantor bukan?"

"Tidak mengundurkan diri, Pak. Sekadar cuti agak lama."

"Benar, benar. Saya lupa terus. Kapan, kalau saya boleh tahu, Tuan?"

"Mulai Senin depan, Pak."

"Aha! Sebentar lagi. Tahniah!"

Cokro menyalakan mesin kasir tunai. Sikap lelaki itu bersemangat dan berpembawaan riang, salah satu alasan Satya tak pernah bosan mampir di kios itu. Sebenarnya Satya jengah dengan panggilan Tuan, akan tetapi itu kelaziman dalam etika percakapan warga kelompok rendah ke yang lebih tinggi. Satya memutuskan untuk membiarkan Cokro memanggilnya seperti itu, menghindari kecanggungan.

Beberapa bulan sejak tinggal ke Sunda Kelapa, Satya rutin menyambangi kios Cokro. Apakah untuk percakapan singkat seputar para filsuf Nusantara atau statistik Liga Kasti Nasional. Lelaki paruh baya itu pensiunan guru yang lama mengabdi di Semenanjung. Pengalaman hidupnya di sana menarik perhatian Satya. Apalagi bila Cokro bercerita tentang pengalamannya selama dasawarsa enam puluhan. Sejauh yang Satya ketahui, itu masa orang tua kandungnya bermukim di Semenanjung.

"Tuan Satya masih penasaran dengan identitas orang tua kandung?" tanya Cokro membuyarkan lamunan.

Satya hanya tersenyum simpul.

"Maaf bila saya lancang, tapi ada baiknya Tuan mengunjungi Semenanjung selama cuti, mencari tahu lebih banyak."

"Saya cuma ingin rehat sejenak, Pak. Sudah lama tidak pelesir," jawab Satya, mencoba menghindari pertanyaan lanjutan. Satya mengerti arah pembicaraan Cokro. Ia sering menceritakan hasratnya untuk menelusuri jejak masa kecil, mencari tahu tentang orang tua kandungnya.

"Tentu, tentu. Tidak baik terus-menerus bekerja tanpa jeda. Tuan harus sesekali berlibur, berkelana, melihat dunia. Selagi masih muda," ujar Cokro dengan senyum mengembang.

Satya mengangguk setuju. Ia mengambil tabletnya dari dalam kotak saat lampu sinkronisasi selesai menyala. "Iya, Pak. Saya ada rencana mengunjungi Sulavesi dan Kepulauan Timur. Sebelumnya mungkin singgah dahulu ke rumah orang tua angkat di Sumatra."

"Saya sudah lama saya tak keluar dari pulau ini. Mungkin sudah puluhan tahun. Saya ikut senang mendengarnya, Tuan."

Satya menyodorkan beberapa lembar rupiah dan Cokro menyimpannya di dalam mesin uang tunai.

"Ini kembaliannya, Tuan," ujar Cokro sambil menyodorkan beberapa keping koin.

"Terima kasih, Pak."

"Terima kasih kembali, Tuan Satya. Semoga harimu menyenangkan."

"Sama-sama, Pak. Sampai jumpa, besok. Salam Merdeka," ujar Satya berpamitan.

"Salam Merdeka. Paradewata memberkati," sahut Cokro.

Satya berjalan menjauhi kios. Baru beberapa langkah, dari arah samping seseorang menghentak tubuhnya. Tak terlalu keras, namun cukup membuat Satya terkejut. Perempuan itu kehilangan keseimbangan lantas memeluk erat Satya. Kulitnya terang dan pucat, dengan kuku-kuku bercat merah. Satya mencoba melihat wajah perempuan itu namun terhalang rambut panjang hitam kecoklatan. Wangi parfum dan kibasan rambut membuat Satya sedikit kehilangan fokus.

"Maaf, aku tidak melihat Tuan di sana," perempuan itu berkata. Perlahan ia melepas pegangannya.

Seorang perempuan dengan gaun malam pendek dan syal putih panjang menutupi kerahnya yang rendah. Ia mengenakan sepatu hak tinggi berwarna merah saga, seperti kuku tangannya. Pulasan pemerah di bibir terlihat pudar.

"Maaf, nona. Saya juga tidak melihat kamu berjalan ke arah saya," jawab Satya. Ia mengulurkan tangan, berjaga-jaga sekiranya perempuan itu masih limbung.

"Tidak, saya yang salah. Sekali lagi saya mohon maaf," ujar perempuan itu. Ekspresinya datar. Matanya merah. Ia merapikan gaun dan rambutnya. Satya terdiam, memperhatikan dengan seksama. Ia baru sadar dengan sikapnya saat perempuan itu menatap balik. Satya seketika membuang pandangan ke arah taman.

Cokro yang melihat kejadian itu dari balik kios berseru, "baik-baik saja, Tuan?"

"Tidak apa-apa, Pak," jawab Satya. Perempuan itu menatap ke arah Cokro. Ia hanya melirik sedikit ke arah Satya.

"Kamu tidak apa-apa?" giliran Satya yang bertanya ke perempuan itu.

"Maaf, saya sepertinya sedikit mengantuk. Saya baik-baik saja, terima kasih atas perhatian Tuan. Permisi."

Perempuan itu kembali berjalan. Satya menatapnya menjauh. Rambut panjang itu terkibas bersama setiap langkah, sesekali memantulkan sinar mentari yang mulai meninggi.

Terdengar langkah Cokro mendekat.

"Anda tidak apa-apa, Tuan Satya? Maafkan pramuria itu. Kini mereka semakin tak tahu sopan santun pada kelompok tinggi," ujar Cokro yang terlihat sedikit jengkel, malu akan kelancangan seseorang dari kelompoknya.

Perempuan itu sudah melangkah terlalu jauh untuk mendengar gerutu Cokro. Satya hanya tersenyum kecut dan berharap lelaki tua itu tak menyadari kalau ia tak dapat berhenti menatap perempuan itu.

"Tidak apa-apa, Pak. Saya yang salah," jawab Satya. "Mari, Pak".

Satya berjalan ke arah yang berlawanan. Ia melihat ke belakang, berharap perempuan tadi menoleh. Namun perempuan itu sudah jauh, berjalan memasuki gerbang Stasiun Kotalama, sama sekali tak menoleh balik.

Gedung-gedung di zona bisnis menjulang mencakar langit. Satu gedung berdiri paling tinggi. Begitu tinggi hingga sulit melihat puncaknya dari dasar. Bergaya brutalis didominasi baja dan kaca hitam, di bagian bawahnya terdapat gerbang dengan dinding-dinding marmer yang memanjang di kedua sisi, dialiri air deras, bagai air terjun tak berujung. Satya melangkah masuk melewati pintu kaca di tengah gerbang. Seorang petugas keamanan berdiri di samping mesin pendeteksi logam. Satya menyodorkan kartu pekarya yang dijepitkannya di saku kemeja. Petugas itu tersenyum ramah dan membukakan palang pengaman. Satya menyusuri aula raksasa di dasar gedung ke salah satu lorong elevator. Deru air terjun menggema deras.

Seseorang menepuk pundak Satya.

"Hei, kamu. Tak biasanya datang sepagi ini." Seorang gadis dengan kemeja putih ketat dan rok selutut berwarna biru tua telah berdiri di sebelah Satya. Aroma mawar dan sitrus menerpa indra penciumannya.

"Pagi, Ceri. Ada lembur di divisiku," jawab Satya dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

"Sepertinya aku harus memajukan alarm pagiku esok." Perempuan itu menatap Satya lekat, sesekali memilin ujung rambutnya yang panjang.

Lampu petunjuk posisi elevator bergerak lambat. Begitu pintu terbuka, Satya dan Ceri berjalan masuk bersama pengantre lainnya.

"Satya, akhir pekan ini kamu bakal datang ke acara kantor di Pulau Seribu?"

"Sepertinya tidak. Aku akan keluar kota sesta depan."

"Wah, kamu kok tidak kasih tahu aku?" ujar Ceri dengan nada merajuk.

"Maaf," jawab Satya. "Aku lupa menampilkannya di status jejaring."

"Tak apa," Ceri menggamit lengan Satya. "Asalkan kamu tak lupa unggah foto-foto liburanmu ya. Kan ku beri suka sebanyak-banyaknya," ujarnya bersemangat.

Lampu penunjuk lantai menunjukkan angka empat belas. Elevator melambat perlahan hingga berhenti. Satya melangkah keluar ke koridor lantai ruangannya.

"Nanti kita makan siang sama-sama ya. Aku tunggu di kantin." seru Ceri dari dalam elevator.

"Siang ini aku sepertinya sibuk."

"Baiklah. Besok siang?"

"Ya, boleh," jawab Satya enggan. Dia selalu sulit mengatakan tidak pada perempuan, walau telah mengalami banyak kerumitan sebagai akibatnya. Satya melambaikan tangan bersamaan dengan pintu elevator yang menutup.

Di depan Satya terlanjau koridor bercabang dua. Dinding dan langit-langitnya berwarna putih, lantainya terselimuti parket kayu coklat muda. Ia berjalan ke ujung koridor yang memampang papan petunjuk bertuliskan Departemen Arsip Genomik. Satya berdiri tegak di hadapan pendeteksi retina yang tertambat di dinding. Berkas laser lemah memindai bola matanya. Berselang satu detik, lampu di atas piranti berubah dari merah ke biru. Terdengar suara desis gas akibat perbedaan tekanan udara saat pintu ruangan membuka.

2

Rabu, 18 September 1996.

Di sudut-sudut persimpangan yang remang, kupu-kupu malam berkeliaran mencari pelanggan, menawarkan aset mereka pada mata-mata liar yang dahaga akan kulit dan kehangatan. Aspal yang basah oleh gerimis memantulkan sinar dari lampu-lampu mobil. Binar-binar oranye dan merah membelah malam. Kota semakin ramai.

Yasmina berjalan gegas menghiraukan mata-mata yang melirik dan menatap. Ia mengenakan gaun hitam dan seuntai selendang sutra bermotif paisley. Di pundak tergantung tas kecil dengan gesper keemasan, rambut panjangnya terikat ke atas. Di penyeberangan ia berhenti. Berdiri di belakang sepasang muda-mudi yang tengah asik dalam obrolan. Perempuan itu sesekali melirik ke arah mereka.

Perempuan itu berbelok ke arah jalan bertehel batu di samping gedung. Berjalan melalui jalan samping, ia sampai di pos keamanan area parkir, sebuah kubus berukuran dua kali dua meter dengan kaca pleksi besar. Di dalam ada seorang penjaga. Yasmina tersenyum padanya. Penjaga yang tengah sibuk mengamati tablet itu melirik ke arah Yasmina dan melambaikan tangan. Yasmina kembali menyusuri sisi gedung, memasuki area parkiran di belakang di mana berderet-deret mobil mewah buatan Yuropa terparkir. Di sisi barat gedung terdapat pintu masuk pekerja, sebuah pintu besar di tengah teras tinggi berundak beton dengan pagar baja. Tiang-tiang dengan kamera pengawas menjulang di kedua sisi teras. Seorang lelaki berbadan besar berdiri tepat di depan pintu. Sebatang rokok menyala terselip di antara jemari.

Sebuah plang bertuliskan Hanya Trabalhadora Klab terpampang jelas di atas pintu besar itu. Salah satu kamera pengawas berputar, memfokus ke arah Yasmina yang berjalan mendekat. Terdengar suara gir mekanis dan katup lensa kamera.

"Ola, Ina. Selamat malam," lelaki berbadan besar itu menyapa dengan ramah.

"Malam, Hansa," jawab Yasmina dengan senyum lebar.

"Cuaca cerah ya," balas pria itu kikuk.

"Ya, untungnya. Yo tak bawa payung. Malam ini banyak klien?" Yasmina balas bertanya.

"Biasalah. Langganan yang itu-itu lagi, burjes dari zona bisnis. Tadi ada bosia yang bilang ke yo kalau nanti malam ada tamu penting. Orang kampat."

"Serius ose?"

"Tapi yo tahu bosia satu itu, el suka karang-karang cerita. Cari perhatian."  Lelaki besar itu terkekeh, bahu lebarnya bergerak naik turun sambil berjalan menuju sebuah kotak di samping pintu. Ia memasukkan kombinasi angka di kunci elektronik dan mengaktifkan kotak komunikasi. "Omong-omong, yo tak lihat ose dari segunda kemarin. Ose sakit?".

"Tidak, cuma masih letih dari festa klien di akhir pekan."

"Tentu, tentu. Yo dengar festa anak senator itu lanjut sampai pagi. Di atas jung pesiar di laut Karimun. Seru pastinya, ya?" ujar Hansa sambil menoleh ke arah Yasmina yang merespon dengan senyum tipis.

Hansa berbicara melalui kotak komunikasi sambil menatap salah satu kamera. Terdengar suara logam mekanikal dari balik tembok. Pintu terbuka.

"Biasa saja, Hans. Cuma tugas."

"Tentu ada keasyikan sedikit, kan?"

"Nosorang cuma barang dagangan saja buat elorang, Hans," jawab Yasmina ketus.

"Maaf, Na," keceriaan di wajahnya pudar. "Ose cuma punya mimpi pesiar ke tempat seperti itu," balasnya kikuk.

Lelaki besar itu mengeluarkan secarik kertas lusuh dari dompet lalu memperlihatkannya ke Yasmina. Potongan halaman majalah. Iklan parfum dengan latar pantai putih dan laut biru. Mata Hansa berbinar melihat gambar itu.

"Tidak. Yo yang minta maaf."

Yasmina tahu orang-orang seperti dia dan Hansa tak akan mungkin menginjakkan kaki di tempat liburan kelompok tinggi atas keinginan sendiri. Akan tetapi perempuan itu tak pernah merasa beruntung dapat berkunjung ke tempat-tempat itu. Di sana ia hanya pelengkap. Perangkat tamasya kelompok tinggi. Retakan tipis menggaris di hati Yasmina, ia paham arti mimpi bagi warga kelompok rendah.

"Tak apa, Na. Yo kadang suka lupa diri."

"Sampai nanti. Terima kasih, Hans. Semoga kapan-kapan ose juga bisa ke sana," Yasmina mengecup pipi lelaki itu sambil merangkulnya erat.

"Ah, ose hanya hibur-hibur yo saja. Yo tahu takkan bisa kesana. Yo paham," balas Hansa. Sinar matanya yang lembut membuat hati Yasmina trenyuh.

"Ose tunggu saja, Hans. Nanti yo akan kawini petinggi negara, el bakal kasih yo uang banyak. Ose akan yo bawa ke tempat ini. Yo janji," ujar Yasmina sambil menggengam tangan Hansa yang masih memegang kertas itu.

Lelaki besar itu tersenyum. "Ose orang baik, Ina."

"Ose juga, Hansa. Yang terbaik di seluruh negeri," balas Yasmina terkekeh. Matanya menatap mata Hansa, yang segera ia alihkan ke arah lain. Yasmina tak ingin lelaki itu salah paham. Ia mengerti jikalau laki-laki di depannya menyukainya. Dan ia pun senang dengan perhatian dan perlindungan yang diberikan Hansa. Namun ia tahu siapa dirinya. Apa dirinya. Menjadi lebih dari sekadar teman hanya akan menebar duri di dalam hati.

"Yo masuk dulu ya, Hans. Takut telat."

"Tentu, tentu. Sudah malam," balas Hansa sambil mengangguk. "Oh iya, Ina, yo hampir lupa."

Yasmina berhenti lalu berpaling.

"Ada pesan dari cik buat ose."

"Pesan apa, Hans?"

"Cik pesan ingin secepatnya ketemu ose. Ada perubahan jadwal. Beliau berangkatnya dipercepat jadi dini hari ini. Ose temu cik dulu ya kalau bisa," ujar Hansa.

Yasmina menganggukan kepala. Perempuan belia itu berjalan masuk ke dalam gedung. Pintu besi menutup di belakangnya. Ia berjalan menyusuri lorong temaram. Suara musik menggema menjalar di dinding.

Terdapat sebuah ruangan khusus bagi penghibur di ujung lorong. Luas dan nyaman, dihiasi patung-patung dan tanaman tropis. Ada beberapa sofa, meja rias, dan barisan loker di salah satu sisi, sementara di sisi terluas terdapat kamar mandi komunal. Selapis uap dari pancuran masih menggantung di lantai. Tidak ada perempuan lain di sana, para penghibur lain telah berada di aula utama. Yasmina melucuti seluruh pakaiannya. Kulitnya yang langsat berpendar keemasan tersiram cahaya, dadanya mulai lembap oleh bulir-bulir keringat.

Ia membuka loker pribadinya dan menyimpan pakaian yang telah terlipat rapi di rak atas. Di bagian bawah tergantung beberapa gaun malam dan pakaian dalam sutra, hasil pemberian para pelanggan yang memujanya atau yang sekedar mengharapkan perhatian dari seorang perempuan muda. Setiap gaun yang ada di situ harganya lebih mahal dari apa yang dapat dikumpulkan seorang penghibur seperti Yasmina seumur hidupnya. Ia kenakan gaun yang paling hitam. Gaun malam berhias payet mengkilap dengan bahu terbuka, memperlihatkan rajah kecil berbentuk capung di bahu kirinya. Yasmina mengambil sebotol parfum, selundupan asal Panamerika, hadiah dari seorang pejabat di kementrian pendidikan. Bulir-bulir atsiri beraroma mandarin dan koreander membalur kulit.

Jam dinding di atas pintu menuju aula utama menunjukkan pukul setengah dua belas. Yasmina melangkah masuk. Musik dansa menerjang gendang telinga, menemani para pengunjung larut dalam irama, birahi, dan etanol, melupakan sejenak beban hidup di dalam oase tak bertuhan. Suaka hedonisme yang bebas dari kuasa Nusantaragama. Tempat jiwa-jiwa dahaga bergumul dalam gelap, dalam irama.  Tempat keringat, ludah, dan nafsu bercampur. Menguap, menyublim, menghablur. Yasmina berharap malam ini tak ada pelanggan yang mengajak tidur.

3

19 September 1996. Sektor pemukiman industri Epsilon. Prefektur Krawang.

Kawasan industri Distrik Priangan, sekeping dari habitat masif yang menyelimuti pulau Jawa. Pemukiman padat yang didiami puluhan juta warga, menyebar bak cendawan mengelilingi zona-zona manufaktur. Ekosistem ribuan gudang dan kilang, menara-menara listrik yang menjulang puluhan meter, pipa-pipa raksasa penghantar diesel dan petrol. Krawang adalah prefektur yang terjalin oleh jejaring besi dan beton, memanjang dari laut Jawa di utara hingga pegunungan Priangan di selatan.

Matahari pagi memancarkan sinar di antara lapisan awan tipis. Udara panas menjalar di sela-sela tembok-tembok sektor residensial. Tomo Hanafi Serunai, agen senior Komite, keluar dari sebuah unit apartemen. Ia menyalakan sebatang rokok. Dia tidak suka bau darah. Dan udara di dalam unit itu dipenuhi aroma anyir. Tomo menghirup dalam-dalam asap cengkeh dari kreteknya.

Di lantai bawah beberapa orang aparat berjaga-jaga. Ada lima unit mobil polisi terparkir di jalan-jalan sempit sekitar komplek apartemen. Para penghuni komplek apartemen tak terlalu memedulikan keberadaan mereka. Namun kehadiran agen Komite di pemukiman kelompok rendah menarik perhatian warga.

"Kopi yang Anda minta, Agen Khusus."

Seorang agen muda menghampiri Tomo dengan segelas kopi. Tomo mengenakan kemeja putih lengan pendek, celana katun dan dasi hitam. Sebuah kartu tanda pengenal menempel di saku kemeja. Ia mengenakan sepatu kulit hitam yang tersemir mengkilat.

Sesekali ia menyeruput kopi dan menghirup rokok kreteknya. Beberapa penghuni apartemen melongokan kepalanya melalui jendela dan pintu. Beberapa dari warga kompleks bahkan belum pernah melihat agen Komite sebelumnya. Semua memalingkan wajah saat beradu mata dengan sang agen.

Saat kantor pusat meneleponnya, Tomo segera berangkat. Lima puluh menit perjalanan dari rumahnya di kaki gunung Salak melalui Ototrek Jawa. Ia tiba di Krawang sebelum pukul tujuh. Sudah lama Tomo tidak menerima panggilan mendadak seperti ini. Tidak sejak kasus pembunuhan seorang anggota kabinet di kawasan perjudian di laut lepas Distrik Ternate. Tomo merasakan gairah yang sudah lama tak ia rasakan.

"Agen Khusus Tomo, suatu kehormatan Anda sudi membantu kami di tempat kumuh seperti ini." Seorang perwira polisi menyapa saat melihat Tomo mendekat. "Ada urusan apa Komite di tempat ini?"

Tomo melirik.

"Kalau saya boleh tahu tentunya,"  sambung perwira itu.

"Saya hanya menjalankan tugas. Sama seperti anda," jawab Tomo dengan suara datar. Ia kembali menghisap kretek di tangannya. "Apa yang sudah didapatkan regu forensik anda, Detektif?"

"Korban seorang pria, bernama Anji Subandi. Usia duapuluh tujuh tahun, warga kelompok satu. Bekerja di zona hiburan di sektor manufaktur. Perkiraan sementara waktu kematian antara pukul tiga pagi hingga lima pagi," jawab Karina, detektif kepolisian prefektur Krawang. Sebenarnya ia enggan membagi hasil penyelidikan, namun wewenang Komite berada di atas kesatuannya.

"Tidak ada saksi sama sekali?" tanya Tomo.

"Tidak ada yang melihat atau mendengar apapun. Kalaupun ada, saya rasa mereka tidak akan mau mengatakan apa-apa."

"Sidik jari atau sampel genetik?" tanya Tomo.

Karina menyerahkan sebuah map. "Regu kami sudah membawanya ke lab. Kantor Anda akan segera menerima hasilnya. Untuk sementara, ini yang kami punya."

"Siapa yang pertama kali menemukan korban?" Tomo membuka map. Isinya berkas identitas korban serta foto-foto yang diambil regu forensik.

"Salah satu tetangga. Perempuan, usia limapuluh tiga. Dia bilang hendak mengantarkan rantang berisi makanan. Sebagian penghuni komplek adalah pelanggannya, seperti halnya korban. Dia bilang pintu depan tak terkunci. Saat di dalam dia melihat jasad korban. Dia kemudian menelepon sambungan bantuan darurat."

"Regu kalian sudah memeriksa dia?"

"Ya, sesuai prosedur. Dia bersih dan kami lepaskan untuk saat ini."

"Beritahu anak buahmu untuk menunjukkan rumah perempuan itu pada agen ini," ujar Tomo sambil menunjuk ke seorang agen Komite.

"Kenapa? Kalian tidak percaya dengan penyelidikan kami?" tanya Karina.

Tomo bergeming.

Karina menatap lekat Tomo sembari memanggil salah seorang petugas polisi. Ia memberi perintah pada petugas tersebut untuk mengantar si agen ke kediaman saksi.

"Ada ciri-ciri motif pencurian?" tanya Tomo.

"Tidak ada. Kami juga menemukan dompet korban dan sejumlah perhiasan di dalam lemari," jawab Karina.

"Di berkas tertulis korban memiliki rekan serumah. Kalian sudah menemukan keberadaannya?" tanya Tomo lagi sambil menyeruput kopi di cangkirnya.

"Rekan serumahnya terlihat meninggalkan rumah sore kemarin. Menurut warga dia bekerja di kawasan yang sama dengan korban."

"Sama-sama penghibur?"

"Ya. Tapi data yang baru kami terima menginformasikan bahwa sejak lima bulan lalu dia bekerja di sebuah tempat di Metro Sunda Kelapa. Menurut jadwal, dia seharusnya kembali pulang sekitar pukul delapan. Kami sudah menyiapkan beberapa petugas di stasiun dan sekitar kompleks apartemen."

"Kalian sudah menemukan identitasnya?"

Karina mengambil selembar berkas. "Yasmina Rasyid, usia duapuluh tiga tahun. Kelompok Satu. Orang tuanya buruh agraris di Boroneo, transmigran asal distrik Priangan. Yatim piatu di usia enambelas. Ditempatkan di sebuah panti asuhan di Semarang. Sempat menjadi pramusaji di dermaga armada Garda Laut. Pindah ke Krawang awal tahun lalu."

"Pramusaji. Tentu saja," gumam Tomo. "Kondisi korban saat ditemukan?"

"Korban mengalami trauma dari hantaman benda tumpul. Berulang kali. Pola lebam pada tubuhnya memperlihatkan benturan oleh kepalan tangan. Kecil kemungkinan kekerasan dilakukan rekan sekamarnya, tapi kami tidak menutup kemungkinan tersebut. Dan tidak tertutup dia ada di belakang motif."

Tomo menghabiskan kopi di gelas. Ia menghisap dalam-dalam kretek lalu membuang puntungnya. Tomo melangkah ke arah lorong tangga apartemen, berjalan menuju lokasi perkara. Ia memasuki unit apartemen.

Daun pintu terali besi terpasang di bagian luar daun pintu utama yang terbuat dari kayu. Tidak ada tanda-tanda kerusakan di sana. Pita kuning kepolisian menandai lokasi bercak darah. Ruang tengah dipenuhi bendera-bendera kecil ini. Di meja makan, sofa, televisi, vas bunga. Di lantai terdapat jejak merah darah, memanjang dari kursi kayu yang tergeletak patah, menuju pintu dapur.

Beberapa orang polisi tengah mengambil foto dan sampel sidik jari di sekitar dapur. Di tengah-tengah ruangan, tertutup terpal regu forensik, tergeletak mayat korban. Darah kental menggenang di area kepala. Gagang telepon menggelantung di sebelah kulkas.

"Anggota kami tengah memroses log panggilan dari telepon itu," terdengar suara Karina dari ruangan sebelah.

Tomo berlutut di dekat mayat korban. Ia mengangkat penutup mayat.

Mayat dalam kondisi telungkup. Kelompak matanya setengah terbuka. Wajah membengkak akibat penganiayaan berat. Terlihat jauh berbeda dengan wajah di berkas profil korban.

"Penyebab kematian?" Tomo bertanya sambil matanya terus memerhatikan keadaan di sekitar mayat.

"Pendarahan masif di rongga dada. Salah satu tulang rusuknya patah dan menembus sebuah lobus paru-paru kanan."

Tenggelam oleh darahnya sendiri, pikir Tomo.

Tomo berjongkok di sisi mayat. Ia memerhatikan keganjilan pada lebam-lebam di wajah. Sebuah pola yang hampir mirip, berulang di beberapa tempat di sekitar kepala korban. Samar-samar membentuk pola uliran sepanjang buku jari. Tomo memanggil pemotret dari regu forensik dan memerintahkannya untuk mengambil foto di beberapa titik spesifik di kepala korban.

"Apa yang Anda cari, Agen Khusus?" tanya Karina penasaran.

"Hanya sebuah firasat, Detektif. Tidak penting."

Terdengar suara notifikasi dari tablet milik Tomo. Ia membaca pesan singkat yang ada di layar. Tak lama kemudian, dari pinggir balkoni, ia memberi isyarat kepada agen Komite yang ada di bawah untuk segera naik.

Karina melihat dari dalam saat Tomo berbisik-bisik dengan para agen Komite lainnya. Karina menyadari situasi yang akan terjadi.

Tomo berjalan mendekati lalu berkata, "Letnan Karina Wirakusuma, dengan ini Komite mengambil alih penyelidikan."

Tomo dan agen-agen lain memperlihatkan sekeping lencana baja hitam dengan ornamen emas. Beberapa baris kalimat dengan aksara yang berbeda-beda terpatri di sekelilingnya. Semuanya  berarti satu: Mandat Nusantaragama.

"Harap segera menyerahkan semua berkas yang kalian miliki. Termasuk salinannya. Setelah itu Anda dapat memerintahkan para petugas kepolisian agar secepatnya meninggalkan lokasi. Dengan ini Komite mengambil alih operasi."

"Selamat bertugas," hanya itu diucapkan Karina. Ia paham percuma mendebat Tomo dan melawan Mandat Nusantaragama sama saja mencari masalah.. Ia memberi isyarat kepada para petugas kepolisian yang masih ada di lokasi untuk segera keluar dari kompleks apartemen.

Tomo memasuki salah satu kamar di apartemen lokasi kejadian. Di dinding kamar terpampang beberapa pigura berisi foto-foto korban dalam beberapa acara dan pesta. Beberapa helai gaun malam tergantung rapi di sudut kamar, berwarna-warni dengan bahan yang bersinar saat tertimpa cahaya.  Di lantai terdapat tumpukan pakaian sehari-hari. Sebagian sudah terseterika rapih, sebagian lagi menggunduk begitu saja. Tiga buah wig terpajang rapi di atas meja rias panjang. Berbagai macam kosmetik berderet di pinggirnya. Tomo mengalihkan perhatiannya pada buku-buku di sebuah rak kecil. Ia mengambil sebuah novel dengan sampul yang terkelupas di sisinya. Di bagian depan terdapat lukisan seorang pria dengan tubuh bak Adonis dan seorang perempuan muda dengan rambut coklat berombak terurai panjang. Lengan sang perempuan putih bak pualam, menggenggam erat lengan berotot sang kekasih. Buah dadanya menyembul merah jambu hanya tertutup oleh sehelai kain tipis. Di bawah tertulis nama penulisnya, Barbie Cartland. Tomo tahu nama tersebut. Seorang penulis asal Panamerika yang buku-bukunya kerap diselundupkan para pelaut. Penulis yang ada di dalam senarai pengawasan Komite guna memastikan generasi muda Nusantara tak teracuni dekadensi seksual masyarakat Poros Barat. Tetapi para penyelundup, seperti juga remaja, tak pernah kehabisan akal. Sebuah buku lain menarik perhatian Tomo. Sebuah buku kecil berjudul La Femme Révolté, karangan Albertine Camus, tokoh intelektual gerakan bawah tanah keturunan Frensa di dasawarsa enampuluhan. Kala itu pemerintah Yuropa menghabiskan waktu bertahun-tahun mencarinya karena dianggap sebagai pentolan kelompok teroris anti-Nazi. Polisi rahasia Yuropa akhirnya berhasil menghabisi sang filsuf menggunakan bom yang disimpan di dalam mobil. Hidupnya berakhir di persembunyiannya di sebuah kota pantai laut Adriatik. Buku itu tak terlarang di Nusantara. Tetapi fakta bahwa sebuah cetakannya berada ribuan kilometer dari Yuropa, di sebuah kawasan pemukiman buruh, cukup mengejutkan Tomo.

Jemari Tomo kembali menelusuri tumpukan. Tiba-tiba tangannya berhenti di sebuah buku. Darahnya berdesir saat melihat sebuah buku, biografi seorang tokoh subversif, buronan negara paling dicari pasca Perang Konsolidasi. Penulis manifesto penentang keberadaan Nusantaragrama. Orang yang kedapatan memiliki manifesto itu akan segera berurusan dengan Komite. Tuntutan penistaan agama akan segera dikeluarkan dan hidup orang tersebut dapat dipastikan berakhir. Berurusan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan si penulis sama berbahayanya.

"Agen Tomo, apakah ada benda yang harus saya bawa sebelum proses penyucian?" tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu kamar.

"Ya. Bawa tablet milik korban dan pastikan regu peretas segera menyelidiknya." Tomo mengambil tablet yang terselip di antara buku dan menyerahkannya kepada sang agen muda.

"Siap."

"Juga dua buku ini," ujar Tomo sambil menyerahkan buku Camus dan Cartland.

"Ada lagi, Agen Tomo?" tanya si agen muda sambil memasukkan barang-barang tersebut ke sebuah koper aluminium.

"Tidak, itu saja."

"Siap, saya laksanakan." Sang agen muda melangkah keluar.

Tomo menyelipkan sebuah buku ke dalam kantung plastik hitam, yang lalu segera ia masukkan ke dalam tas pribadinya.

Kamar yang terletak di sebelah kamar korban berbeda dengan kamar sebelumnya. Kamar ini terasa sepi dan dingin. Nyaris steril.

Di sana ada sebuah lemari pakaian besar, sebuah tempat tidur kecil, dan sebuah meja rias dengan bufet kecil di bagian bawahnya. Di tengah kamar terdapat sebuah meja rendah di atas sehelai karpet tipis bermotif Parsi. Beberapa buah bantal besar tergeletak di karpet. Tidak ada foto atau lukisan sama sekali di kamar ini. Bahkan tidak hiasan kecil pun. Tomo merasa sedang berada di dalam ruangan pasien infirmari psikiatri.

Rahasia senang bersembunyi di dalam kesunyian, pikir Tomo.

Ia membuka salah satu laci di meja rias. Tidak ada yang aneh, hanya beberapa kosmetik dan peralatan yang dibutuhkan pekerja hiburan malam.

Terdengar ketukan di pintu kamar. "Regu Penyucian sudah tiba, Agen Khusus," seru seorang agen Komite.

"Apakah kamar ini sudah diperiksa?" balas Tomo.

"Sudah, Agen Khusus. Barang-barang mencurigakan sudah kami bawa."

"Baiklah."

Tomo menutup laci dan melangkah keluar.

Beberapa orang agen Komite telah berada di ruang tengah. Mereka memakai kostum seluruh-badan berwarna putih, menutupi seluruh bagian kepala dan hanya menyisakan sedikit area terbuka untuk wajah. Bagian mulut tertutup masker. Kacamata besar transparan berwarna merah tembaga menutupi mata, satu-satunya bagian tubuh yang masih samar-samar terlihat. Masing-masing menjinjing sebuah koper besar berwarna oranye. Layar kain besar putih telah terpasang di sekeliling unit apartemen. Proses penyucian akan dimulai.

Tomo menyalakan mesin mobilnya. Warga yang berkerumun di jalan serentak menepi. Sedan hitam mengkilat besar itu tampak mencolok di sektor pemukiman kelompok rendah yang kumuh. Di aspal halus jalur Ototrek, Tomo menginjak pedal gas dalam-dalam. Ia memacu kendaraannya hingga kecepatan maksimum. Alunan Ritt der Walküren berkumandang di dalam kabin. Para pengemudi lain hanya melihat sekelebat mobil hitam Komite meluncur di jalur khusus. Tomo merasa bergairah akan kasus ini namun sekaligus gelisah. Bagai berdiri di pesisir menatap badai di cakrawala. Sedan hitamnya melesat masuk ke jalur bermarka Bandar Suci.

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Kategori karya
NovelSerial

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai general.terms? laporkan.