Agama Indomie #CeritadanRasaIndomie

Sial. Tanah ini semakin lama semakin sempit saja. Padahal awalnya terasa luas sampai-sampai membuatku takut bertualang. Kini aku takut pulang.

“Berhenti! Hoi! Penyusup!”

Ada belasan orang yang mengejar kami. Dari jarak sekitar tiga puluh tombak, orang-orang itu terus mengikuti kami hingga sejauh ini.

“Dayang Maya! Cepat!”

Aku menyuruh Dayang Maya berlari lebih lekas karena kecepatan orang-orang di belakang kami sungguh luar biasa. Aku khawatir Dayang Maya terkena lemparan batu mereka.

Sambil tetap berlari, dia menoleh ke arahku. “Di ujung sana jurang, Raden Prastia! Apa kita akan lompat?!”

Tentu saja tidak, bodoh. Aku belum mau mati.

“Hoi! Berhenti! Hoi! Penyusup!”

“Bagaimana, Raden Prastia?!”

Sial. Aku tak tahu ujung jalan ini buntu. Kami sudah semakin dekat dengan bibir jurang. Sejenak kami saling pandang, lalu mengangguk bersamaan. Mati atau tidak urusan nanti. Kalaupun mati, setidaknya aku mati bukan di tangan orang.

“Kau yakin, Dayang Maya?!”

“Ayo lakukan!”

Kami lompat.

Waktu serasa berhenti. Aku menarik napas dalam-dalam. Memejamkan mata. Samar-samar aku masih mendengar teriakan orang-orang yang mengejar kami. Suaranya semakin kabur.

Wuuuuzzz!

Angin menerjang kencang wajahku.

Byaaaaar!

Oh, air? Apakah kami melompat ke sungai? Badanku sedikit kebas, tapi aku bisa merasakan basah. Tapi entah kenapa semuanya gelap.

“Raden Prastia! Hei! Raden Prastia!”

Ah, suara apa itu?

“Raden Prastia! Bangun! Kau berjanji akan menemaniku sampai akhir! Jalan kita belum—”

Apa? Di mana aku? Jalan apa? Sial.

--

Aku terbangun di dalam ruangan. Kepalaku terasa berat dan badanku lemas. Bahkan dalam posisi berbaring ini, kaki-kakiku terasa ngilu. Mungkin ada yang patah. Entahlah. Berapa lama aku tertidur? Harusnya lebih dari dua hari tapi kurang dari seminggu. Aku merasa sangat lapar dan haus. Lebih dari seminggu orang hanya akan haus.

Ah, benar. Aku ingat. Terakhir aku berlari bersama Dayang Maya dan melompat ke jurang. Aku tidak akan berakhir seperti ini jika tidak pernah bertemu dengannya. Sial, sejak awal gadis itu memang selalu membawaku ke mara bahaya.

Dayang Maya, anak sulung Raja Bimasakti, calon penerus penguasa Kerajaan Limawangi, adalah seorang gadis dengan hobi ganjil. Dia sangat senang bertualang untuk menyebarkan ajaran baru, meski dia paham betul risikonya. Dia menyebutnya agama Sila. Kali pertama bertemu dengannya dan mendengar celoteh itu, aku pikir dia sinting.

“Memangnya kau ini siapa? Aulia?”

“Dengar, ajaranku membawa perdamaian. Orang-orang sudah saling berperang sejak dulu. Mau sampai kapan? Seseorang harus berbuat sesuatu.”

“Dengan membuat agama baru?”

Dia tersenyum. “Kau tahu apa yang lebih mematikan dari virus? Gagasan.”

Aku sepakat untuk mengikuti Dayang Maya bukan karena menyukai idenya. Ini misi rahasiaku. Raja Singamala memerintahku untuk menyusup ke Kerajaaan Limawangi dan membunuh Pangeran Turamara, sang panglima perang, adik Raja Bimasakti. Jika pangeran itu mati, kerajaan kami bisa menyerang Limawangi dengan mudah.

Itu tugas sederhana karena rencananya aku akan menyamar sebagai pandai besi dari perantauan, agar kemudian bisa masuk sanggar dan bergabung dengan pasukan perang Pangeran Turamara. Sialnya, di persinggahan aku malah bertemu Dayang Maya, yang mulanya kukira akan mempermudah aksesku. Tapi rajungan, setelah berminggu-minggu mengikuti petualangannya, kenapa kami tidak kembali ke Limawangi? Kenapa dia malah terus bergerak ke Barat Laut?

Kami terus memasuki desa demi desa untuk menyebarkan agama Sila. Kadang-kadang menyenangkan, seringnya bikin pusing, dan sebagian besar mengancam nyawa. Sejujurnya, makin lama aku bersama Dayang Maya, pelan-pelan gagasan yang dibawanya makin terdengar masuk akal buatku. Masalahnya menanamkan ide baru ke benak seseorang tidak pernah menjadi perkara sepele.

Dan datanglah hari petaka itu. Kami sudah bertualang sekitar satu tahun. Sore ketika kami istirahat dan bersiap untuk kembali ke Limawangi, tiba-tiba Dayang Maya berubah pikiran.

“Tunggu. Kita tidak pulang sekarang.”

Aku menyipitkan mata dan menatapnya penuh keheranan.

“Mereka pasti bohong. Kita harus menyusup jika ingin bertemu ketua mereka.”

“Ayolah, Dayang Maya, jangan bikin kerusuhan lagi. Kita nyaris dipenggal kemarin.”

Dia tertawa. “Kau takut?”

“Aku? Takut? Sejak kapan?” sanggahku cepat. “Apa Dayang Maya lupa siapa diriku? Raden Prastia, pandai besi dari Timur, orang yang sudah berkelana selama lima tahun? Jangan remehkan perantau.”

“Anjay, si paling rantau. Berarti kau ikut?”

Bedebah. Ini yang kubenci dari dirinya. Dia pintar memanipulasi orang.

Aku menyesali ide itu lekas-lekas. Menerobos ke sebuah desa memang mudah, tapi menerabas sederet regu tombak lain cerita. Rupanya orang-orang ini memperketat penjagaan akibat insiden kemarin. Memang, awalnya semua berjalan lancar karena kami sudah terampil mengendap-endap, hanya saja kami tak memperhatikan sekitar. Kami tak tahu di sudut sana ada seekor anjing. Ia menyalak dan langsung memancing orang-orang. Adegan berikutnya bisa ditebak: kami terciduk basah dan dikejar sampai ujung tebing.

--

“Raden Prastia, kau bangun?”

Aku menoleh.

“Aku bawakan ini buatmu.”

Dia menyodorkan sesuatu yang dibalut daun pisang. “Makanan. Cobalah.”

Makanan yang dibungkus daun pisang biasanya nasi bakar atau ikan bakar, tapi yang ini membuatku terkejut karena bentuknya lain. Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya. Apa ini? Cacing gunung? Seolah memahami kebingunganku, Dayang Maya langsung memberi penjelasan.

“Itu Indomie. Makanan khas orang-orang di desa ini. Empat hari lalu ada yang melihat kita jatuh ke sungai dan menolong kita. Nama desa ini Nusantara.”

“Dan ini?” aku menunjuk sesuatu yang disebut Indomie di hadapanku. “Apakah enak?”

“Jauh lebih mudah dirasakan daripada dijelaskan.”

Angkuh seperti biasa. Menyebalkan. Tapi karena kepalang lapar, kuambil sesuap, mengunyahnya, dan nyaris membantah tapi sekonyong-konyong mulutku malah mengucapkan yang lain. “Dayang Maya, makanan ini, terasa, digdaya.”

“Nah, aku sendiri menyebutnya dahsyat, tapi digdaya juga terdengar bagus.” Dayang Maya tersenyum lebar. “Dan aku tahu apa yang kau pikirkan.”

Oh, ya? Bagaimana bisa? Soalnya aku tak tahu. Aku tak sempat memikirkan apa-apa. Pikiranku terlalu terpesona oleh rasa makanan ini.

“Kau tahu, Raden Prastia, kita selalu bertengkar soal makanan? Lidah kita berbeda. Tapi Indomie bisa cocok untuk kita berdua. Artinya?”

“Indomie enak sekali?”

“Nenek-nenek ompong juga tahu. Begini, Indomie menyatukan selera kita. Kalau ini berhasil di kita, berapa besar kemungkinan akan berhasil di orang lain?”

Oh, aku mengerti. Indomie bisa kami gunakan sebagai sarana dalam menyebarkan ajaran Sila. Kami akan menyatukan orang-orang lewat selera makanan. Ini sungguh brilian. Cerdas bukan main.

“Tapi apa jaminannya semua orang akan suka?”

Dayang Maya terdiam sesaat. “Tidak ada, tapi layak dicoba.”

Selama satu bulan tinggal di Nusantara, aku dan Dayang Maya belajar keras mengutak-atik Indomie agar rasanya bisa sesuai dengan lidah di tiap desa yang pernah kami kunjungi. Ada yang rasanya kental seperti kaldu ayam, ada yang manis asin seperti empal, dan ada juga yang pedas gila seperti menantang maut. Dayang Maya bahkan membuat variasi versi kuah.

Usaha ini bersambut baik. Di sepanjang perjalanan ke Limawangi, kami berhasil mengenalkan makanan digdaya ini sekaligus menyebarkan ajaran agama Dayang Maya. Agama yang menyatukan berbagai macam ras, etnik, suku bangsa, lewat selera.

Lambat laun keinginan Dayang Maya pun terkabul. Dia berhasil membuat dunia di mana orang-orangnya saling bersahabat. Apalagi di Limawangi, Dayang Maya terus mencoba menciptakan varian rasa baru demi memenuhi permintaan orang-orang.

Sampai-sampai aku lupa misiku sendiri. Aku diangkat sebagai kepala dapur, dan entah kenapa, aku menyukai pekerjaan ini. Aku mulai bergaul dengan orang-orang Limawangi, bahkan aku berteman baik dengan Pangeran Turamara. Tapi aku sudah pergi terlalu lama dari kerajaanku dan aku rindu rumah. Persoalannya bagaimana jika Raja Singamala menghukumku karena gagal menyelesaikan tugas?

Ah, aku ada ide. Kenapa tidak sekalian saja kukenalkan agama Sila pada Raja Singamala? Ide bagus! Tapi mungkin Raja tak akan terima jika dia tahu agama Sila ini dibuat oleh anak dari musuh bebuyutannya. Harus diganti dengan nama yang lain. Oh, aku tahu. Aku akan mengganti nama agama ini dengan nama yang lebih berterima: agama Indomie.

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai general.terms? laporkan