Ully Manis, Ully Bengis

 

Kos Puri Cantika kedatangan penghuni baru pindahan dari kampus di Jakarta. Cewek cantik, namanya Ully. Penampakannya bak model yang berlaga di Asia's Next Top Model. Tubuhnya tinggi, rambut lurus sepunggung agak kecokelatan dengan mata memakai softlens cokelat muda. Ayu tenan. Kulitnya eksotis sawo matang dan glowing sehat gitu ala Chef Renatta. Penampakannya 11-12 deh denganku. Sekarang, ia kuliah Komunikasi di kampusku. Konon, sebelumnya ia kuliah di kampus negeri ternama di Jakarta. Duile. Sudah cantik, tinggi, otak encer pula. Envy. Waktu pembagian anugerah sama Tuhan, pasti dia datang kepagian. Semua diembat Ully. Hiks.

"Kalau pintar, nggak mungkin terdampar di sini," Sasha melengos, bibirnya yang dipulas ombre ala Song Hye Kyo nampak mengilap kayak habis makan mendoan Mbak Nem lima biji. 

"Mungkin dia D.O dari kampus lamanya makanya merantau ke Jogja, menenangkan diri." timpal Etna, anak semester 1 sok tahu. Gaya bicaranya ala netijen banget, mata menyipit, dan bibir mencibir. Antagonis banget deh!

"Duh, habis makan apa sih sampai minyakan gitu? Sini kubersihkan! Anak gadis kok kemproh!" Omel Tere yang baru bergabung, sregep menarik selembar tisu dari kotaknya lalu mengusap bibir Sasha. Duh, Bibirnya makin belepotan.

"Aduh, kowe ngopo to? Aku ini baru mau berangkat kencan, pasang lipenstip setengah jam eh mbok hapus semena-mena! Iki namane lipstik ombre, ta keplak lho lambemu!" Sasha melotot.

Aku dan Alisha tergelak. 

"Lha, maaf, kukira kamu abis makan gorengan, Sha. Ndak bagi-bagi!" Tere siap-siap melarikan diri.

"Apa itu gorengan? Aku ki sedang diet ben langsing kayak Isyana, my twin. Jangan mengiming-imingi aku lho! Nggak boleh nraktir aku!" 

"Idih! Nggak sudi!" Tere melengos pergi. Takut dikeplak Sasha yang sibuk memulas ulang bibirnya sambil misuh-misuh. 

Balik ke anak baru itu. Walaupun cantik dan pintar, anak itu sombongnya minta ampun. Iya, nggak ada yang sempurna. Boro-boro berbaur Ully sama sekali nggak mau menyapa anak-anak. Selalu jaga jarak aman kayak orang yang takut diutangin. Ia juga jarang terlihat di kos.

"Maklum saja, anak Jakarta, biasanya memang kosnya agak individual. Bagusnya, dia nggak rese mau tahu urusan orang lain. Nggak kayak kalian, yang mamak-mamak style detected, K-pop, tukang gibah!" ujar Sarah.

"Kepo, bukan kepoop!"

"Halah, mirip-mirip, kok. Kalau kalian, Mbak Leslie beli celana dalam baru saja tahu kok, dan pasti penasaran tanya dia. Update banget. Kalau Ully, mau Mbak Leslie pakai celdal baru kek, mau masuk angin karena nggak pakai sempak pun, bodo amat. Nah, ini adalah attitude yang benar. Tidak mencampuri urusan orang lain. Jalan hidupku adalah pilihanku." Sarah berceramah.

“Kita itu bukan kepo, bukan mau gibah, tapi kita tuh perhatian pada sesama makhluk kos karenakita makhluk sosial.” Sergahku, membela diri. Masa cewek solehah kek aku dibilang tukang gibah? Fitnah!

"Contohnya harus aku banget ya, Sar?" Sungut Mbak Leslie. “Kayak kamu nggak kepo saja! Yang bela-belain manjat dan mengintip lewat lubang ventilasi kamar dulu, siapa? Taylor Swift?”

“Itu bukan kepo, namanya Women Support Women. Aku worry Tere nekad menenggak sebotol cologne karena patah hati gara-gara Sunny!” jawab Sarah diplomatis, kek pengacara yunior. 

"Nama lengkapnya siapa to? Aku pengen intip Instagramnya!" Bisik Alisha. Wah gawat, netijen negara -62 follower setia Lamis Corner mulai mengendus-endus!

"Kalian tahu tidak, Mbak-mbak? Kemarin aku intip data dia. Nama lengkapnya Rully Wening Sari. Dia anak Jakarta Selatan, adiknya tiga orang masih sekolah, nomer bra-nya 34A, nomer sepatu 38, sukanya warna merah darah apalagi lipstik Maybelline dan Make Over, parfumnya mahal banget Chanel." Jawab Etna, membuka notes kecilnya.

“Kalau alamat rumah dan No KTP nya berapa?” Sarah nyeletuk.

Etna tersipu. Ketahuan dia stalking Ully. 

Ya, ampun, tuh anak nge-hack data Ully di kampus kah? Yakin, Etna nggak salah jurusan? Mestinya nih anak masuk jurusan jurnalistik atau jurusan pergibahan duniawi!

"Kalian ini nggak berfaedah banget sih main medsosnya, follownya akun gosip melulu!" Omel Bu Nyai Sasha. "Dengerin Yutubnya Ustaz, kek!"

"Nah ini ketemu! Busyet followernya 20 ribu, lu berapa Dew?"

"Tadi habis dipollow Mbak Nem, followerku bertambah jadi 157 orang," aku menahan tangis. 

"Selebgram, jebule! Hebat men! Pantas wae, aku pernah lihat dia berdiri pegang obat apa gitu di depan semak-semak di kos! Kukira dia lagi jelalatan cari batu kerikil untuk menahan hasrat pup tahunya sedang pemotretan endorse!" 

"Mau nggak ya, dia endorse keripik cabeku? Tak kasih sekardus keripik cabe isi 12 bungkus deh sebagai fee! Stok camilannya tiga bulan aman!" Julia sang pedagang online, berbinar-binar. 

Jiwa pengusahanya tak mampu melewatkan peluang di depan mata. Kapan lagi bisa berteman dengan selebgram, ye kaan? Lumayan bisa endorse gratis! #eh. 

"Nggak boleh menjerumuskan teman sendiri. Sebungkus keripikmu itu bisa bikin orang sekecamatan diare. Hanya orang-orang pemberani atau putus asa dengan hidupnya yang mau makan itu!" 

"Yo Ben! Sirik amat! Kalau kamu nggak suka, berarti pangsa pasarnya bukan dirimu. Hanya orang terpilih yang menghargai karyaku kayak Ully-ku yang glowing ituu,"

Mendadak, pintu depan kos dibuka. 

Ternyata yang masuk adalah Ully dengan tampang flat. Duh, jangan-jangan dari tadi dia dengar percakapan kami? 

Langkahnya anggun, ia mengangguk bak seorang putri melewati segerombolan rakyat jelata di tepi jalan. Duile.

"Halo, Ully, cuacanya cerah banget ya? Cocok untuk menjemur diri dan kerupuk nasi, " Julia meringis.

Ully mengangguk kaku, mencari-cari kunci di tas, membuka pintu dan, BLAM!

Anak-anak pun bubar, melanjutkan kegiatan masing-masing. 

                                                                              ***

"Ully, mau ikut makan dengan kami? Daripada pesan ojol, mahal!" panggil Ine si cewek macho, mengetuk pintu kamar Ully pelan. Kamarnya memang bersebelahan dengan gadis itu. 

Ya, Bagi Ine, mending jalan kaki jauh daripada pesan makanan, harus bayar ongkos antar. Prinsipnya, lebih baik sekalian berolahraga biar sehat apalagi kalau jarak ke rumah makannya 3 km bolak-balik makin hepi dia. Iyaa, dia memang perhitungan begitu anaknya.  
Kami menunggu responnya. Mana mungkin Ully mau ikut makan bareng rakyat jelata yang jelita kayak kami?

“Taruhan, paling Ully ndekem di kamar pura-pura tidur.” Ujar Sasha mempertaruhkan harga dirinya, eh semangkok bakso.

“Nggak, anak itu pasti buka pintu dengan brutal lalu menggeram pada Ine,” tebak Tere. 

“Idak Mbak. Kurasa itu anak bakal melempar sandalnya ke pintu sebagai jawaban,” sahut Etna, 

Ekstrim banget, haha. 

"Aku sudah beli makan." Ully membuka pintu kamarnya sedikit.

"Baiklah, kami pergi dulu ya,"

Brak! 

"Ya ampun, Queen of Jaksel songong banget! Dia pikir dia tuh Pevita Pearce?" Bisik Etna gemas. 

"Ssst.." Alisha melotot. "Yuk, berangkat, aku lapar!"

Ine agak tertegun di depan pintu kamar Ully. 

"Buruan, Markonah! Ada apa sih? Nggak usah dimasukkan ke hati,"

Ine menggeleng dan berjalan dengan cepat.

"Ada apa? Memang anaknya dingin begitu,"

"Nggak apa-apa. Matanya sembab pas buka pintu.."

"Heh, apa perlu kita balik ke kamarnya dan tanya kenapa?" 

Ine menggeleng. "Nanti kita dibilang K-pop, Dew,"

"Iya juga ya," 


“Semoga dia nangis gara-gara nonton India kayak Julia.”
 

***
 

"Dew, jadi ya temani aku jenguk Jo di rumah sakit?" Tanya Alisha.


Aku mengangguk, setengah terpaksa. Demi keutuhan persahabatan kami saja. 

Beranjangsana ke rumah sakit sebetulnya not my things! Asli, aku takut banget pergi ke rumah sakit. Tidak tega melihat pasien yang terbaring lemah di ranjang, belum lagi aroma ruangannya yang khas karbol dan menyesakkan dada. Apalagi kalau ada yang luka-luka, huhuhu. Iya, aku lemah.

Waktu SMA, aku sering diseret Iin sahabatku menemani dia ke RS Palembang untuk menjenguk siapapun kenalan dia yang sakit. Termasuk tukang kue di sekolah bahkan ibu temannya adik sepupu dia. Duh, belibet. Aku menurut walaupun harus diseret paksa bak tahanan. Anaknya memang baik hati sejak embrio. Nyusahin banget, kan!


Apalagi cita-citanya memang sangat mulia, bersuamikan seorang dokter, hehe. Dan rumah sakit adalah tempat yang tepat untuk melakukan pencarian, dimana dokter koas yang glowing walau bermata panda lalu-lalang, bukan di Tinder. 
 

Sumpah, aku selalu stres diajak cewek baik hati ini piknik ke rumah sakit apalagi kami pernah berpapasan dengan korban kecelakaan yang kepalanya berdarah-darah di IGD! Nyaris aku pingsan dan anak itu pulang ke kos sambil memapahku yang lemas! Huhu.  Aku nggak bisa makan semingguan. Kebayang terus. 

Siang ini, akhirnya aku menemani Alisha. Aku menggandeng lengannya, tepatnya mencekalnya saat jalan kaki dari parkiran menuju lobi utama. Keringat dingin mulai membasahi kening dan punggungku. Basah semua sampai ke dalemannnya! Braku bisa diperas nih, ewww!

"Duh, kamu kenapa sih, Dew? Aku jadi susah nih jalannya!" Ia nyaris tersandung, lalu melepaskan cekalanku yang posesif di lengannya.

"Aku takuuut!" 

"Takut kenapa sih? Diimunisasi perawat? Memangnya kamu anak SD?" Omel Alisha.

Aku menggeleng. 

"Takut hantu? Tenang, perginya bareng aku, bukan dengan Rasti atau Karen yang hobi disapa dan diajak hangout sama makhluk halus! Aku tuh nggak peka, sama perasaan cowok saja nggak peka apalagi sama hantu!"

"Yee, kok lu malah curhat? Ayo, buruan cari ruangannya, panas!" 

Alisha bergegas menyeretku ke bagian informasi rumah sakit.
 

Aku memfokuskan diri pada belakang kepala Alisha yang berjalan di depanku. daripada melihat pemandangan tak menyenangkan, membiarkan Alisha menggeretku ke sana-kemari. Aku pasrah, wis! 

“Alisha, rambutmu kok menipis ya?” 
"Hah, apa? Itu ruangannya!" Alisha menyodorkan kantong buah jeruk yang dibawanya. 

Tidak usah jelalatan matanya, sis, you can do this!

"Lho, itu kan Ully?" Aku mengucek mataku. Ya, gadis itu sedang mengaji di sebelah tempat tidur seorang pasien.

"Masa? Eh, iya! Dia sedang jenguk juga ya?" 

"ULLY!"

"Sstt, kenapa dipanggil sih, Dew?" Alisha deg-degan, takut tatapan Ully yang bengis.

"Siapa yang sakit, Ly?”

"Papaku, sudah seminggu koma setelah operasi otak. Mamaku nggak bisa menemaninya di sini karena adik-adikku pada sekolah di Jakarta. Jadi, aku yang pindah kuliah ke sini sejak Papa sakit berbulan-bulan lalu, setelah akhirnya dapat jadwal operasi eh Papa nggak sadar juga." Bahunya berguncang, ketika ia berusaha menyembunyikan wajahnya dari kami.

Alisha langsung memeluknya. Aku terpaku di ujung ranjang, wajah Papanya seperti tertidur, tapi berbagai selang dan alat bantu lainnya mengelilingi ranjangnya. 

Ya Allah, kasihan banget, Ully!

"Maafkan aku ya, malah mewek depan kalian. Aku sedih banget, aku takut banget kehilangan Papa," isaknya.

"It's okay. You can count on us, we're here for you," bisik Alisha memeluknya.

"Doakan Papa, ya."

Ya Allah, Bebannya pasti sangat berat selama ini dan tak ada satupun kawan berbagi di Jogja. Kami bahkan menjauhinya, menggibah tentangnya. Air mataku menitik, satu-persatu. 

Siang itu, kami bertiga berderai air mata, bersama.

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Kategori karya
Anak Kos Dodol

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai general.terms? laporkan