BFF Chronicle

1
0
Deskripsi


Bab I Best Friend Forever

"ALINKA!" jerit seseorang membahana.

"Alinka! Ada Attar tuh! Sana, jangan lupa sampaikan pesan Bunda untuk Tante ya!" kata Bunda menggedor kamar Alinka yang sedang tidur siang.

"Ih, Bunda. Kenapa ngga bilang sendiri saja? Atau kirim kode morse dari jendela!" sahut Alinka terhuyung-huyung bangkit dari peraduan. Boneka kucingnya jatuh ke lantai.

Gadis itu menggeliat malas. Melirik jam beker, pukul 16.00. Matahari sore menyerbu masuk kamarnya. Hangatnya Sabtu sore.

Ia terbelalak. Wah, waktunya lari sore! Pantas Attar sudah stand by. Cowok itu...

"Ewww, pangeran kodok?! Berisik!" sembur Alinka dari balkon kamarnya di lantai dua. "Masih panas nih! Nanti kulitku gosong. Habis magrib saja yuk larinya. Matahari nggak garang lagi!"

"Aduh! Itu sih jamnya hantu-hantu keluar rumah. Pamali keluyuran! Ih, kusut banget sih mukamu. Masih aroma bantal pula. Bakal lama nih nungguin princess metal mandi, sampoan, cukur ketek," gerutu cowok berambut cepak itu.

Badannya yang menjulang digoyangkan ke kiri dan ke kanan maksudnya buat pemanasan. Malah mirip boneka per di dasbor mobil, jadinya. Alinka terbahak.

"Tenang, tadi aku udah mandi kok sebelum tidur."

"Wah, ya bau lagi dong, kena iler!"

"Bawel, ah!" seru Alinka bergegas masuk kamar, mengganti celana pendek dengan training pants dan kaus olahraga putih ketat. Tak lupa, sepatu jogging pink elektrik. Berlari ke ruang duduk, menyambar kain kecil entah bekas mengelap apa. Jangan-jangan lap dapur.

"Bunda, Mbak Mi! Inka lari dulu!" Gadis bertubuh mungil itu berlari menuruni tangga. Rambutnya yang berombak tergerai menjilati bahu. Karet gelang melilit pergelangan tangannya.

"Kita adu lari sampai taman?" tantang Attar.

"Tunggu. Pemanasan dulu dong."

"Aku tadi sudah tuh, geal-geol sambil nunggu princess mandi kembang!"

"Bukan itu! Menurut artikel yang aku baca, aktivitas bodi yang mendadak bisa bikin serangan jantung. Kudu pemanasan. Makan bakso kek, somay."

"Hoax tuh! Kamu sih enak bodinya ceking, makan banyak juga oke. Aku? Lihat nih perut mulai menggelambir!" gerutu Attar.

Alinka tergelak. Bodi Attar tinggi besar dengan perut yang selalu jadi problem karena cenderung buncit. Ia paranoid kalau suatu hari ia akan mewarisi perut papanya yang membuncit. Padahal sih, biar buncit papa Attar tetap ganteng. Papanya lho, bukan anaknya, hehe. Apalagi Mahes, kakaknya Attar, uhuk! Yummy brother!

Jantung Inka mendadak berdebar dangdut mengingatnya.

"Buncit is seksi tau!" ledek Alinka. "Tapi, bahaya lho punya perut buncit, Tar! Menimbulkan fitnah keji. Tanpa istri, kok buncit!"

"Awas kamu, little miss bawel!" Attar mengejar Alinka. Mereka berlari menyusuri jogging track kompleks perumahan mereka yang asri.

"Dapat salam dari Mustafa." Attar berusaha mengimbangi kaki-kaki gesit Alinka.

"Oh ya? Mustafa teman kamu yang kemarin itu? Pas aku sepedaan ke rumahmu? Salam balik deh."

Cowok itu mengangguk. "Kamu tuh ya. Baru sekali ketemu saja, Mustafa sudah jatuh hati. Pakai pelet apa sih? Bagi-bagi resep dong!" cibirnya.

Ia heran. Setiap temannya yang bertemu Alinka pasti otomatis ingin daftar jadi member Alinka Boyfriends. Iya, itu nama fans club Alinka yang jago nyanyi itu. Nggak hanya Maudy Ayunda atau Blackpink yang punya fandom. Nggak hanya Mustafa, Aryo sahabatnya yang pendiam saja suka si bawel Alinka!

Padahal, cewek itu nggak ada manis-manisnya. Badannya ceking, pendek, kayaknya bodinya nggak bakal numbuh lagi., Ketawanya ngakak, hobi ngebo, dan makannya banyak. Bawel lagi. Ajaib!

"Kamu mau resep gimana dikejar-kejar cowok?"

Attar bergidik. "Ya, dikejar ceweklah, dodol!"

"Bukan pelet. Aku hobi ngemil magnet." Alinka tertawa. "Dan super kiyut tanpa rambut lepek, bikin hati para cowok jadi keserempet."

"Maksa berima! Pasti lanjutannya begini: Tak masalah walau tampangku mirip buah kesemek yang hobi pake celemek." Attar mendengus.

"Sirik saja! Mentang-mentang Mustafa nggak melirikmu!"

"Astaghfirullah, haram, ukhti!"

"I think I, I think I need a girl like you." Alinka bernyanyi menirukan Suju di ponselnya. Suaranya jernih dan lantang.

"We can dance, we can dance, we can dance, we can dance." imbuh Attar dengan suaranya yang sumbang. Sambil menggoyangkan tubuh seksi ala Rose Blackpink, tapi jadinya malah macho kayak Black Panther

"Aduh, ngerusak deeh!" Alinka terbahak. Memukul bahu cowok jahil itu.

Alinka dan Attar bersahabat sejak keluarga Alinka pindah ke perumahan asri itu, waktu mereka berdua duduk di bangku TK.

Mama Attar dan Ayah Alinka teman kuliah di Bandung. Sahabat yang klik banget. Jadi, ketika keluarga Alinka pindah ke Bogor, orangtua Attar mencarikan rumah di dekat mereka. Biar tetanggaan, bisa pinjam-pinjaman beras atau cabai hehe.

Bahkan, para ibu hamil bareng, walaupun saat itu masih beda kota. Keluarga Attar di Bogor. Alinka di Makassar. Ya, bahkan Alinka dan Attar seumuran. Hanya beda sebulan tanggal lahirnya.

"Mau deh bisnis magnet kalo gitu. Para cewek pasti borong. Siapa tahu ada seorang cewek yang khilaf menempel seketat lintah padaku."

"Idih, ngeri banget. Oh, Bunda ngajak makan malam di rumah nanti malam, Tar. Kalian nggak ada acara, kan? Kamu bilang Papa dan Mama, ya. Bunda ultah dan mempraktekkan resep istimewa Coto Makassar semoga saja rasanya tak terlalu menyimpang ya." Alinka ngos-ngosan.

"Wah, Papa pasti girang! Coto kan favoritnya. Sayang Mama maniak diet. A big no buat Mama masak berlemak begitu."

"Lupakan diet. Just enjoy life, begitu pesan sponsor Bunda untuk mamamu tentang undangannya malam ini."

"Ah, Bunda Niken mah gitu. Dia nggak kasihan sama perut kami yang seksinya melebihi ibu hamil," keluhnya, mengusap perutnya dengan gerakan melingkar.

"Duh, Inka. Bayiku nendang! Aww!"

"Ih... geli banget sih!" Alinka melemparkan handuk kecilnya pada Attar, geli. 


 

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai syarat dan persetujuan? Laporkan