Pengalaman Aneh Saat Menonton The Raid 1 & 2 di Bioskop

0
0
Deskripsi

(Cerita ini pernah tayang di aldypradana.com. Saya edit sedikit lalu saya upload di KaryaKarsa)

Saya punya hobi menonton film di bioskop sendirian. 

Bukan karena faktor jomlo atau tidak punya teman, saya hanya merasa ada suatu keseruan tersendiri saat nonton sendirian. Tidak ribet dan tidak perlu sibuk menanggapi pertanyaan dari temen, “Eh, kok dia bisa hidup lagi, sih, Dy? Jelasin dong.”

Kalo nonton sendirian, semua terasa lebih tenang dan jadi bisa lebih fokus sama cerita filmnya.

Sayangnya, keinginan...

(Cerita ini pernah tayang di aldypradana.com. Saya edit sedikit lalu saya upload di KaryaKarsa)

Saya punya hobi menonton film di bioskop sendirian. 

Bukan karena faktor jomlo atau tidak punya teman, saya hanya merasa ada suatu keseruan tersendiri saat nonton sendirian. Tidak ribet dan tidak perlu sibuk menanggapi pertanyaan dari temen, “Eh, kok dia bisa hidup lagi, sih, Dy? Jelasin dong.”

Kalo nonton sendirian, semua terasa lebih tenang dan jadi bisa lebih fokus sama cerita filmnya.

Sayangnya, keinginan saya tidak selalu terwujud. Ada saja pengalaman nyeleneh selama menonton film. 

Misalnya,

Saat nonton The Raid

Saya ingat, saya nonton di hari pertama film itu tayang, tanggal 21 Maret 2012. 

Penonton memenuhi studio bioskop 21, Solo Grand Mall. Untungnya, saya mendapatkan posisi tempat duduk yang enak, kalo tidak salah di bagian tengah, di kursi D.

Film dimulai, semua berjalan normal seperti seharusnya.

Iko Uwais aktingnya masih datar waktu itu. Saking datarnya, bahkan ada yang mengira kalo tokoh utamanya bukan dia, tapi Joe Taslim. Saat adegan Joe Taslim dibunuh sama Mad Dog, saya mendengar salah satu penonton ngomong, “Lho, kok jagoannya mati?”

Semoga Iko Uwais tidak merasa terpinggirkan mendengar kalimat tadi.

Saya sempat memperhatikan penonton di sebelah kanan saya. Seorang cowok berumur 30-an. Memakai jaket berwarna putih, berkacamata, beramput hitam cepak. Tiap adegan sadis terpampang, tangannya selalu meremas sandaran kursi studio. Kadang, ia menutup mata, tanda kengerian.

Dan setiap ia melakukan itu, saya selalu bilang dalam hati, “Hih, dasar cowok cemen.”

Songong, ye? Hehehe.

Namun, ada yang jauh lebih songong dari saya waktu itu. Sepasang remaja umur 17 tahunan. Ceweknya duduk tepat di sebelah kiri saya, pacarnya di sebelah kirinya lagi. 

Kenapa saya tau memperhatikan sedetail itu? Karena saya memang sengaja untuk tau cowok norak ini. Saya ingin tau gimana bentuk cowok kemaki ini.

Cowok ini duduk dengan menyandarkan kakinya di kursi yang berada di depannya. Saat itu kursi depannya emang kosong, tapi tetep saja, melanggar etika menonton di bioskop.

Tiap ada adegan sadis, ia ngomong, “Sadis banget!”

Tiap ada adegan berantem yang seru, ia teriak, “Gila, keren banget gerakannya.” 

Kemudian, ia meniru gerakan yang ia rasa keren, sambil mengeluarkan efek suara sendiri, “Duak! Duak! Duak!”

Pacarnya menoleh, lalu berkata, “Yang, apaan sih? Nontonnya yang tenang.” sambil menarik tangan kiri cowoknya. Tapi tetap, cowoknya nggak menggubris. Ia tetap nonton seakan-akan studio itu miliknya sendiri.

Dasar kampret.

Ingin sekali menegur penonton alay tersebut, tapi kayaknya ia tidak akan mendengarkan kata-kata saya. Biasa, cowok alay kalo dinasehatin, bukannya ngebenerin perbuatannya, malah makin jadi dan makin ngeselin.

Akhirnya, saya cuma bisa pasrah dengan gayanya heboh itu. Merasa rugi telah membayar 25 ribu untuk pengalaman nonton seperti itu.

Saat nonton The Raid 2

Ini terjadi pada Jum’at, 28 Maret 2014.

Saya dan Adit berencana nonton The Raid 2 di hari pertama penayangan, dan di jam pertama tayang, yaitu jam 12.45. 

Saya sebelumnya ingin menonton sendiri, tapi sepertinya Adit penasaran dengan The Raid 2 ini. Apalagi setelah saya cerita film The Raid 1 kepadanya.

Kembali lagi ke The Raid 2, kami hendak menonton di jam yang sulit. Pukul 12.45 itu sehabis solat Jum’at. Berarti, kami mau tidak mau harus mengebut agar bisa sampai lokasi tepat waktu.

Kami tidak bisa menonton di jam berikutnya, karena kami berdua punya acara lain yang tidak bisa ditinggalkan.

Jam dinding menunjukkan pukul 12.00

Adzan sudah selesai, sekarang Khotib bersiap berceramah di atas mimbar.

“Menurutmu bakal tekan, Dy?” tanya Adit.

Tekan. Masjid iki biasane cepet, kok.” jawab saya, singkat.

15 menit berlalu, Khotib masih bersemangat berceramah.

25 menit berlalu, Khotib masih berceramah dengan menggebu-gebu.

“Hoi, Cepet? Opone sing cepet?” tanya Adit, meledek.

Biasane cepet, sih. Palingan abis ini selesai.” saya menjawab sambil melihat jam dinding, sedikit was-was.

Khotib selesai, iqamah berkumandang.

"Nah, kui wes rampung." bilang saya, dalam hati.

Kami pun solat solat Jum'at berjamaah. Dan akhirnya, baru selesai pukul 12.35.

"10 menit sebelum film tayang, dan kita bahkan belum sampai di bioskop XXI lho, Dy." seru Adit, lagi-lagi meledek.

"Tenang." kata saya. "Solo Square deket kok dari sini, 5 menit nyampe. Tapi, kita harus ngebut."

Dengan cepat, kami menuju parkiran motor masjid, dan siap menuju lokasi. 

Kami melalui jalan raya yang cukup ramai waktu itu. Layaknya game Minion Rush, kami meliuk-liuk melewati mobil demi mobil. Saat jalanan sepi, meski hanya beberapa meter, kami manfaatkan dengan menancapkan gas semaksimal mungkin.

Saking ngototnya saat ngebut, tanpa sadar, kami menyenggol salah satu spion motor. 

"HEH!" teriak sang sopir. "Padakke ki dalane mbahmu!"

Kami pun segera minta maaf (dalam hati), lalu melengos pergi masuk ke Solo Square.

Jam menunjukkan pukul 12.40

"Beneran kan 5 menit." kata saya, menoleh ke Adit. "Sekarang, tinggal beli tiketnya. Moga aja masih kebagian tempat duduk yang enak."

"Ho'oh, 5 menit. Nyopirmu ugal-ugalan ngono kui, kok." balasnya, emosi.

Saya membalas pelan, "Demi The Raid 2, Bid. Nggak pengin duduk depan, kan? Rugi lho, Bid."

"Betul juga. Nonton ndangak kui ra penak tenan."  

Sadar, misi belum selesai. Kami pun berlari ke studio XXI. Serius. Kami berlari.

Dari parkiran, kami berlari bagaikan atlet lari. Bedanya, atlet berlari demi mengharumkan nama bangsanya. Kami berlari demi mendapatkan tiket The Raid 2. Perbedaan yang jomplang sekali.

Saat lagi naik ke jalanan yang cukup sempit menuju pintu belakang Solo Square, ada mobil barang berjalan mundur ke arah kami.

“Awas, Bid.”

Kami lalu menempelkan diri ke dinding, menghindari mobil tadi.

Entah sopirnya lagi ngantuk atau abis minum oplosan, setirannya hampir membuat mobil itu mengenai badan kami.

What the…” bilang saya, kaget ada mobil mau menyet badan kami.

Kami lalu berusaha mengubah badan kami seperti lidi dan berjalan miring.

Di sela-sela kejadian itu, sempat-sempatnya Adit memanggil, “Woi, Dy.”

“Kita emang mau nonton The Raid, tapi ra sah ngubah uripku koyo The Raid!”

Saya cuma diam, bingung mau ngerespon apa di tengah-tengah kejadian yang aneh itu. 

Jam menunjukkan pukul 12.44

Selamat dari serangan mobil, kami langsung melanjutkan misi ke XXI.

Sampai disana, kami berjalan ke mbak-mbak penjual tiket.

“The Raid 2, mbak.” kata saya, ngos-ngosan gara-gara lari.

Mbak-mbak bermake up tebal itu lalu menunjukkan layar tempat duduk. Serentak, kami menengok ke layar.

“Oi, Bid…”

“Ternyata, The Raid 2-nya masih sepi, hehe.” sambung saya, polos.

Adit menatap tajam penuh dendam, “Asem tenan koe, Dy.” 

Kami lalu membayar dan segera masuk ke studio.

Di studio, kami berdua menikmati setiap adegan dari The Raid. Jelas, nonton film tidak pernah seribet ini sebelumnya. 
 

———————————————————————————

Terima kasih sudah membaca akhir. Kalau kamu suka dengan karya ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan memberikan tip di bawah ini, ya. Have a nice day 🙂

———————————————————————————

Blog: http://www.aldypradana.com

Twitter: https://twitter.com/aldypradana17

Medium: https://medium.com/@aldypradana17

Instagram: https://www.instagram.com/aldy_pradana17/

IG Arsenio Sneakers Store: https://www.instagram.com/arsenio.store.id/

Tokopedia: https://www.tokopedia.com/arseniostoreid 

Podcast (spotify): https://open.spotify.com/show/5FmhDoeNOY1gEnpP6ARsdz?si=dj7VyLYORUuQ8dbDv-bIPQ

SoundCloud: https://soundcloud.com/aldypradana17

Youtube: https://www.youtube.com/c/AldyPradana17

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Selanjutnya 3 Bukti Kalau Jatuh Cinta Itu Awal Dari Patah Hati Yang Menyakitkan
1
1
Semua cerita ini sebelumnya pernah diupload di aldypradana.com (2015). Saya pindahkan ke KaryaKarsa dengan beberapa revisi dan nama disamarkan. 3 cerita ini terinspirasi dari salah satu novel Bernand Batubara. Saya menuliskan cerita dengan premis yang hampir mirip, karena saya setuju dengan ide utamanya.Saya setuju bahwa jatuh cinta itu tidak selalu pengalaman indah yang berbunga-bunga. Jatuh cinta tidak selalu bahagia di akhir cerita. Ada kalanya, jatuh cinta membuat sakit tak terkira. Bahkan, sampai merasa kehilangan nyawa.Saya pernah mengalaminya.Misal,Saat Bertemu PutriTerjadi saat remaja, saya menyukai seorang cewek bernama Putri (nama disamarkan). Perempuan ini cukup tinggi, kulitnya hampir seputih susu, rambut hitamnya panjang menutupi punggungnya. Kadang, ia memakai bando ungu mengikat rambutnya yang lurus itu.Sebagai secret admirer, saya cuma bisa menyukainya dari jauh. Ibarat bahasa anak muda sekarang, saya hanya bisa jatuh cinta diam-diam.Saat kita suka dengan seseorang, kita lalu mencari banyak hal tentangnya. Saya pun sama.Saya mencari nama lengkapnya siapa, ke sekolah naik apa, dan tentunya, nomor handphonenya berapa.Saat sudah mendapatkan nomornya, saya ingin sekali sms Putri. Permasalahan pun timbul: “Gimana SMS-nya, ya?”  Saya ingat, saya mencari-cari kalimat pembuka yang pas. Muncul beberapa opsi seperti:- Halouw, Leh kNaL??- Km cAntiQ bGt Sih, KnaLan DoNnngGGx!!- AiiyaNkk CinTaquUUuuH BdAdaRiQ ,,,,,,Dulu, cara sms seperti ini ngetren dan terkesan gaul banget. Sekarang, mengingat kejadian itu, saya merasa jijik sendiri.Akhirnya, terpilih kalimat yang lebih pas dan simple,“Hai, Aq Aldy, Km PutRi y?”Sms terkirim. Badan langsung panas dingin.“Dibales nggak, ya?” kalimat yang terngiang-ngiang terus berputar di kepala.Satu jam berlalu.Masih nggak dibales.Dua jam berlalu.Ada sms masuk.Saya buka dengan semangat, dan baca pelan-pelan isi pesannya, “ISI ULANG Rp 50RB sd 10 Januari …”Monyet. Ternyata dari operator.Tiga jam berlalu.Akhirnya, ada sms lagi. Saya buka agak males sambil berharap sms ini bukan lagi dari operator.“Y, iNi PutRi, iNi ALdY Sp yAch?”Yes! Dia bales sms saya!Saya balas smsnya, “InI AlDy kelas D, kTa sAtu SekoLaH”Dimulai dari sms itu, saya pun mulai dekat dengan cewek yang saya suka (lewat SMS).Hampir tiap hari, kami ngobrol lewat ketikan SMS. Topiknya macam-macam, bisa tentang soal ulangan yang susah banget, tentang film Indonesia paling lucu, dan paling aneh, tentang kucing kawin di depan rumah saya.Semua sms itu saya lalui dengan perasaan senang. Sesenang Marlin waktu menemukan anaknya, Nemo. Sesenang anak kecil yang dibelikan es krim cokelat oleh ibunya. Sesenang dapat uang saat merogoh kantong celana. Pokoknya, semua terasa bahagia saat itu.Saya inget, saya pernah menggambar sosok Putri di buku catatan. Yang kemudian, diliat temen sebangku saya, Adit (kawan saya ini memang paling sering menemani saat saya remaja. Btw, nama juga disamarkan.)“Gimana, Dit? Bagus, kan? Cantik, sama kayak aslinya?”Adit memandang sinis, “Ho’oh, Dy, Cantik. Koyo ibu perawan tua sing ra tau dijamah.”“Asem.” kata saya singkat, lalu menutup buku catatan saya.“Jek smsan karo Putri, Dy?” tanyanya, mengganti topik pembicaraan.“Masih. Ngopo?”Adit menatap saya serius, “Kasih something ngono, Dy, spesial buat Putri. Mosok mung smsan terus?”“Bener juga.” Saya manggut-manggut.Perkataan Adit membuat saya berpikir. Saya harus memberikan something yang tepat untuk Putri.Beberapa menit berlalu, saya mendapatkan ide. Tidak tahu kenapa, saya ingin memberinya CD MP3. Mungkin berdasarkan observasi saya, ia cukup dekat dengan ‘musik’.Saya pernah melihatnya jadi bermain alat musik saat pensi. Saya juga ingat dia pernah sms seperti ini, “Aq LaGi SKa sAmA lAguNyA AstRid niCh. YaNG JdikAn aKU yG keDua.”Mohon maaf jika tulisan anda membuat pusing dan lupa ingatan. Agar tidak bingung, saya akan jelaskan artinya.“Aku lagi suka sama lagunya Astrid, nih, yang Jadikan Aku Yang Kedua.”Dari situ, saya cukup yakin, MP3 adalah something yang tepat untuknya.Dasar tidak bakat bikin surprise, saya malah memberitahu dia.*karena sms alay lama-lama juga membuat sakit mata sang penulis, penulis memutuskan untuk menuliskan dengan bahasa Indonesia yang normal dan sehat* “Aku pengin ngasih kamu sesuatu, lho.”“Apa?”“MP3 lagu Indonesia.”“Aku nggak gitu suka sama lagu Indonesia, Aldy.”“Lho, bukannya kamu pernah ngomong suka lagunya Astrid – Jadikan Aku Yang Kedua?”“Iya, sih, tapi, aku lebih suka lagu barat.”“Kayak?”“Simple Plan, Good Charlotte, Green Day, gitu.”“Oh gitu. Ya udah, aku kasih kamu MP3 lagu yang campur Indonesia-Barat aja.“Setelah percakapan lewat sms itu, saya segera pergi ke mall terdekat. ***Esoknya, saya membawa something untuk Putri, CD berisi MP3 berisi lagu-lagu kesukaannya. Hari itu, saya bersiap untuk pertama kalinya bertemu dan ngobrol langsung sama Putri.Sesudah pulang sekolah, ia sms, “Mana MP3nya?”“Ada, nih, kamu kesini aja, ke gerbang ke sekolah.”Saya lalu memasukkan handphone ke dalam kantong celana, menanti dia datang. Selama menunggu, jujur, saya deg-degan. Jantung seperti sedang memainkan musik heavy metal. Keringat mengucur deras mirip genteng bocor pas hujan. Saya grogi.Sekitar 15 menit menunggu, akhirnya ia tiba.Rambutnya dibiarkan teruai tertiup angin. Jaket hitamnya tertutup rapi, tanda bersiap untuk pulang. Dia, tampak cantik seperti biasanya. Dan, itulah pertama kalinya, saya bisa melihat Putri sedekat itu.Ia lalu membuka tangan kanannya, menagih MP3.Saya masih diam. Mlongo. Terlalu takjub sama kecantikannya Putri.“Aldy, mana MP3nya?” katanya, dengan suara imut.“Oh, iya.” Saya kembali ke dunia nyata, lalu membuka tas punggung. Saya mengambil CD dan memberikannya, “Semua lagu favoritmu ada disitu.” “Oke. Makasih, ya, Al.” ia tersenyum, lalu meninggalkan saya. Ia berdiri di tempat ia biasa menunggu dijemput orang tuanya, yaitu di bawah pohon besar depan sekolah.Saya sendiri masih meleleh karena bisa sedekat itu dengannya.Walaupun sebenarnya, saya berharap pertemuan kami bisa lebih daripada itu. Saya berharap ngarep bisa ngobrol lebih lama, lebih deket, dan lebih intim.Saat masih membayangkan harapan yang ketinggian, saya melihat Putri dijemput. Biasanya, orang tuanya menjemput dengan motor Honda Supra Fit, kadang ayah atau ibunya.Tapi kali ini beda, yang menjemput, terlihat lebih muda. Seorang cowok dengan badan gagah, menggunakan banyak gelang di pergelangan tangannya, dan memakai seragam serta celana pendek warna biru. Motornya juga Satria F modifan dengan knalpot bersuara seberisik petasan.Saya lihat lebih teliti cowok itu.Sekali lagi, saya lihat lebih detail dari atas sampai bawah cowok itu.Saya tersadar.“LHAH, ITU KAN KAKAK KELAS!” ucap saya, terkejut.Putri duduk dibelakang, lalu merangkul sang kakak kelas. Mereka berdua berpacu mesra diatas motor, meninggalkan saya yang cuma bengong.Saya tidak mengerti.Setahu saya, dia tidak punya pacar.Setahu saya, dia tidak dekat dengan cowok lain.Tiba-tiba dia bermesraan dengan cowok lain, tepat setelah saya memberi sesuatu ke dia. Tepat, disaat saya berharap lebih ke dia.Saya menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengerti apa yang terjadi, mencoba mengurangi rasa sakit di dada ini.Tak tau harus berbuat apa lagi, saya memutuskan untuk pulang. Saya memutuskan untuk melupakan semua ini. Dan selama berjalan menuju tempat parkir sepeda, saya baru mengerti kalau jatuh cinta itu bisa membuat luka sesakit ini.Saat Bertemu Terry (2 cerpen berikutnya hanya tersedia dalam konten berbayar) Blog: http://www.aldypradana.comTwitter: https://twitter.com/aldypradana17Medium: https://medium.com/@aldypradana17Instagram: https://www.instagram.com/aldy_pradana17/IG Arsenio Sneakers Store: https://www.instagram.com/arsenio.store.id/Tokopedia: https://www.tokopedia.com/arseniostoreid Podcast (spotify): https://open.spotify.com/show/5FmhDoeNOY1gEnpP6ARsdz?si=dj7VyLYORUuQ8dbDv-bIPQSoundCloud: https://soundcloud.com/aldypradana17Youtube: https://www.youtube.com/c/AldyPradana17
Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai syarat dan persetujuan? Laporkan