Peluru (cerpen fiksi)

Gambar dari https://www.deviantart.com/blind-future/art/Bullet-Wallpaper-27867075

“Jadi anda, orang baru yang selalu berhasil menjalankan tugas?” tanya seorang bapak di kursi besar di tengah ruangan.

“Saya hanya melakukan yang terbaik, pak.” jawab lawan bicaranya, seorang remaja berbaju hitam dengan hoslter di dada, terisi pistol Glock 17.

“Anda terlihat sangat muda.”

“Dan punya motivasi tinggi.

Remaja menyahut, “Sangat punya motivasi tinggi, pak.”

Bapak itu melihat ke lemari yang ada di belakangnya, “Saya jadi ingat masa muda saya. Saya juga sangat ingin meraih puncak. Selalu berhasil menjalankan tugas dan siap melakukan apa saja.”

“Apa saja?” tanya remaja.

“Betul. Apa saja.” balas bapak tadi, sambil mencari sesuatu di lemari. “Kita berada di dunia yang gelap. Antara menindas atau tertindas. Saya memilih yang paling baik bagi saya.” 

Bapak itu menemukan rak yang berisi peluru yang berjajar. Ia ambil salah satu peluru tersebut, “Seperti yang satu ini.”

“Peluru ini adalah batu loncatan bagi kehidupan saya.”

Remaja mengernyitkan dahinya, “Maksudnya? Maaf, pak, saya kurang paham.”

“Waktu itu adalah tugas awal saya. Saya dan teman bapak, harus menyelesaikan satu misi sangat penting.” jelas bapak, sambil memperhatikan peluru yang ia pegang.

“Lalu?”

“Misinya berhasil. Masalahnya, saya punya firasat bahwa keberhasilan tugas ini akan mengangkat karir saya.”

Remaja memotong, “Makanya, bapak menembak teman bapak?”

“Benar sekali.”

“Tidakkah itu egois?”

Bapak menjawab, “Anda juga membunuh orang untuk keberhasilan anda. Apa anda mau menyebut itu egois?”

“Kita…”

“Berada di dunia yang berbeda.” tambahnya.

Remaja tidak menjawab. Tidak mengeluarkan kata, atau ekspresi tertentu.

“Kalau begitu, kenapa pelurunya bisa di tangan bapak?”

“Untuk kenang-kenangan. Saya ambil sendiri dari kepala teman bapak. Pelurunya menembus dalam. Tapi, tetap bisa saya ambil. Dengan bantuan pisau, tentunya.” ucap bapak itu, lalu menaruh pelurunya di atas meja.

Remaja itu mengambil pistol dari tempatnya, ia lalu memasang peredam di pistolnya, “Jadi, selain anda sudah berkhianat kepada teman anda sendiri, anda ternyata juga orang yang sadis.”

“Mungkin saya mengingatkan bapak dengan masa muda anda, tapi saya jelas berbeda.” ucapnya, sambil berjalan mendekati bapak.

Remaja itu menodong kepala bapak, “Saya akan biarkan peluru ini tertanam di kepala bapak.”

DOR!

Bapak tertembak di kepala. Darahnya mengucur perlahan menghiasi mata dan pipinya.

Remaja melepas peredam, menaruh pistolnya kembali ke tempatnya. Ia melihat ke peluru yang terletak di meja.

Dia ambil peluru tersebut, “Saya sebenarnya tahu ayah saya bekerja di dunia yang kejam. Hanya saja, saya tidak menyangka, hidup beliau harus selesai karena teman dekatnya sendiri.”

Menyimpan peluru tersebut, ia meninggalkan ruangan tersebut. Ia membatin:

Peluru dibalas dengan peluru.

mereka.

***

Blog: http://www.aldypradana.com

Twitter: https://twitter.com/aldypradana17

Medium: https://medium.com/@aldypradana17

Instagram: https://www.instagram.com/aldy_pradana17/

IG Arsenio Sneakers Store: https://www.instagram.com/arsenio.store.id/

Tokopedia: https://www.tokopedia.com/arseniostoreid 

Podcast (spotify): https://open.spotify.com/show/5FmhDoeNOY1gEnpP6ARsdz?si=dj7VyLYORUuQ8dbDv-bIPQ

SoundCloud: https://soundcloud.com/aldypradana17

Youtube: https://www.youtube.com/c/AldyPradana17

***

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai termin Karyakarsa? harap laporkan.