Bab 9 - Ketika Seorang Guru Ingin Mencari Oleh-Oleh Untuk Muridnya

Berkas Khusus Pendukung
Bab 9 - Ketika Seorang Guru Ingin Membelikan Oleh-Oleh Untuk Muridnya.docx

Sesuai judul, ini adalah cerita saya saat pulang kampung (Solo). Setelah semua kegiatan saya selesai, saya baru teringat harus membawa oleh-oleh untuk murid di kelas saya.

Bersama teman SMP saya, kami mencari cendera mata yang paling tepat. Yaitu, oleh-oleh khas Solo dan (semoga) disukai anak-anak.

——————————————————————————————————————

Walaupun saya sekarang tinggal di antara perbatasan Bekasi dan Kabupaten Bogor, saya masih sering berkunjung ke Solo.

Di Solo, saya paling mengunjungi teman SMP & SMA, mengecek rumah di Solo, dan tentunya, nyekar Ibu. Setelah itu semua selesai, barulah saya kepikiran satu hal, “Mau kasih oleh-oleh apa, ya, buat anak-anak?”

Biasanya, saya jarang sekali membeli oleh-oleh. Orang rumah juga jarang meminta dibelikan sesuatu. Oleh-oleh bukanlah kebiasaan saya. Tapi sekarang, saya  punya peran sebagai guru baru di kelas 5 (Shadow Teacher). Membelikan oleh-oleh kepada siswa, bisa jadi mempererat hubungan antara guru dan murid. 

Karena saya kurang tahu banyak mengenai oleh-oleh khas Solo, saya bertanya ke teman SMP saya, Adit (baca Bab 2 - Manusia Putih Biru 😬✌🏻). Dia sekarang juga menjadi guru SD. Seharusnya, ia tahu banyak tentang apa yang murid sukai. 

Adit berkata dengan tegas, “Wayang, Dy.”

“Wayang, kan, khas Solo.” tambahnya.

Masuk akal. 

Wayang bisa masuk sebagai cendera mata yang oke. Wayang pun kuat secara budaya.

Masalahnya, mau beli wayang apa? Werkudara? Semar? Atau Gatotkaca? Tambah lagi, berapa uang yang akan dikeluarkan buat beli wayang? Uang saya tidak sebanyak itu. 

Feeling saya langsung deg-deg ser.

“Dit,  ketoke kui terlalu mahal. Budgetku terbatas.” kata saya, pelan.

Lha budgetmu piro? 200 ribu? 100 ribu?”

*cek dompet*

“Kalo 10 ribu bisa buat beli apa, Dit?”

“TENANAN WAE 10 RIBU! EMANGE MEH TUKU PULSA?”

“Santai, Bid, santai.” respon saya dengan kedua tangan berlagak menenangkan anjing liar yang ingin mengamuk.

“50 ribu wes. Iso, kan?” tanya saya.

Adit menjawab, “Nah, kui lagi masuk akal. 10 ribu? Guru, kok, pelit banget.”

“Dit, tujuanmu ning kene untuk membantu, bukan menghina.” balasku, datar.

Kami lalu memacu motor kami masing-masing. Namun, tujuan kami bukanlah mencari wayang. Adit menawarkan saran lain, yaitu makanan. Hati dan dompet saya juga lebih sreg ke makanan. Makanan lebih memberi rasa di lidah, dan kenyang di perut. Seharusnya, ini oleh-oleh yang lebih tepat untuk murid saya.

***

Pilihan kami jatuh kepada Serabi Notosuman. Serabi yang terkenal di Solo. 

Saya memimpin di depan, sedangkan Adit mengikuti di belakang. 

Kami melewati gang demi gang, menyalip becak demi becak, dan menjumpai bendera merah putih berulang-ulang (kejadian ini terjadi tepat pada 17 Agustus 2015).

Beberapa saat setelahnya, saya lalu berhenti di sebelah motor Adit, dan memanggilnya, “Oi, Dit…”

Opo?”

“Kayaknya, aku lupa jalannya.”

Adit memasang muka masam, “Ealah, tag pikir kowe mudeng.

Saya tersipu malu. Ternyata, hobi nyasarnya masih terlalu kuat. Saya lalu bertanya, “Kowe mudeng to, Bid?”

Ora.” jawabnya menggeleng.

“PODO WAE!”

Dua cowok asli Solo tak tahu tempat makanan khas Solo dijual. Sungguh memalukan.

Tidak ingin nyasar berjam-jam, Adit lalu bertanya kepada tukang becak dengan bahasa Jawa krama inggil. Tukang becak yang sudah sepuh tersebut menjawab. Beliau menunjukkan arah jalan. Adit mengangguk. Saya, yang tidak tau apa-apa, ikut-ikutan mengangguk.

Bapak tadi kembali mengarahkan. Tangannya maju ke depan, menukik tajam ke bawah, lalu ngedrift ke kanan. Mulutnya terbuka lebar, tapi tak ada silauan gigi Pepsodent terpancar. Kami berdua tidak merespon berlebihan, hanya tersenyum tipis, lalu mengangguk berjamaah dengan khidmat.

“Ikuti aku, Dy…” bilang Adit, sok keren.

Saya tanpa pikir panjang, mengikuti motor Adit. Sekarang, ia yang memimpin perjalanan.

10 menit berlalu, kami berdua sampai ke tujuan: Serabi Notosuman. Tulisannya terpampang jelas di toko. Banyak motor dan mobil parkir di depannya. Rame tenan.

Kami berdua turun, hendak masuk ke dalam toko tersebut.

“BAPAK BUDI! BAPAK BUDI!” teriak salah satu penjaga toko.

Seorang bapak-bapak menghampiri penjaga toko dengan berdesak-desakan. Ia mengambil serabi pesanannya, membayar, lalu keluar toko dengan berdesakan sekali lagi. 

“Terlalu ramai, Dit.” ucap saya, sambil melihat sekitar dengan seksama. “Kalau pesen sekarang, bisa-bisa baru besok dapetnya.”

Adit mengelus-ngelus jenggotnya. Matanya memicing. Bulu hidungnya memanjang keluar.

“Berarti ojo serabi. Ganti sing liyane, Dy.”

Sing enek ning toko iki wae. Kan jualan e ra mung serabi tok, to?” tambah Adit. “Sing iso langsung beli, terus pulang.”

Memang, sih, ada etalase kaca memuat banyak makanan di sana. Tapi, barang dagangan paling laris tetaplah serabi. Orang-orang yang mengantri di sini, pasti membelinya serabi. Nama tokonya saja Serabi Notosuman.

Kebingungan, saya bertanya, “Nek menurutmu opo? Sing khas Solo dan mantep.”

“Abon?”

“Di Bekasi ada abon.”

“Kerupuk?”

“Di Bekasi ada kerupuk.”

“Teh Pucuk?”

“Di Bekasi ada teh pucuk. WOI SERIUS WOI!”

Mencoba mencari solusi, Adit lalu berjalan mendekati etalase. Ia meliuk-liuk melewati kumpulan orang yang menunggu serabi pesanannya. Seperti motor di tengah kemacetan, ia pintar mencari celah di tempat sempit. 

Adit sampai di etalase, matanya memantau makanan yang ada. Dari paling kanan, sampai paling kiri. Seperti CCTV, matanya memantau seluruh makanan yang terpajang. Menemukan yang ia cari, tangannya lalu mengambil satu kotak kecil. Ia angkat kotak tersebut ke atas.

Saya pandang dari kejauhan, itu adalah sekotak bakpia.

Bakpia?

Hmmm…

Isinya banyak, harganya murah. 

Hmmm...

I think, that’s a good idea.

Akhirnya, terpilih bakpia sebagai oleh-oleh. Dengan budget 50 ribu, saya membeli dua kotak kecil. Saya merasa sudah mendapat cendera mata yang tepat. 

Saya berterima kasih kepada Adit, karena sudah membantu. Saya juga memberikan suatu hadiah untuknya: tepukan di bahu dan senyum bahagia saya. Pasti itu lebih berharga dari segepok uang.

 

Dua jam kemudian, saya berangkat ke Bekasi, dengan membawa dua kotak bakpia untuk murid-murid saya.

*** 

Siang itu, sebelum pulang sekolah, saya dan guru kelas berdiri di depan para murid. Guru kelas tadi mengangkat dua kotak bakpia, dan berkata, “Kalian tau ini apa?”

“Oleh-olehnya Kak Aldy!” jawab anak-anak serempak.

“Benar sekali.” kata Bu Guru. “Ini Bakpia dari Kak Aldy yang kemarin sempat pulang ke Solo.”

Saya hanya berdiri dan tersenyum. Tidak punya ekspektasi apa-apa, karena saya cukup yakin dengan bakpia ini.

“Tiap anak akan mendapatkan dua, ya.” ucap Bu Guru. 

“Iya, Bu!” jawab mereka, lagi-lagi serempak seperti paduan suara.

Para siswa lalu duduk melingkar. Saat guru kelas hendak membagi bakpianya, tiba-tiba, salah satu siswa berkata, “Tapi, Bu…”

“Boleh tau rasa bakpianya apa?”

“Soalnya, saya nggak suka bakpia rasa kacang ijo.” terang anak tersebut.

“Saya juga, Bu!” anak lain ikut menyaut.

“Saya juga! Saya juga!”

Mayoritas berkata tidak suka bakpia rasa kacang ijo.

Lalu, saya dan guru kelas melihat bungkus depannya dan tertulis dengan gagah dan amat jelas.

BAKPIA RASA KACANG IJO

!!!DOONNGGG!!!

Saya pun pingsan seketika.

 

Blog: http://www.aldypradana.com

Twitter: https://twitter.com/aldypradana17

Medium: https://medium.com/@aldypradana17

Instagram: https://www.instagram.com/aldy_pradana17/

IG Arsenio Sneakers Store: https://www.instagram.com/arsenio.store.id/

Tokopedia: https://www.tokopedia.com/arseniostoreid 

Podcast (spotify): https://open.spotify.com/show/5FmhDoeNOY1gEnpP6ARsdz?si=dj7VyLYORUuQ8dbDv-bIPQ

SoundCloud: https://soundcloud.com/aldypradana17

Youtube: https://www.youtube.com/c/AldyPradana17

Batas Khusus Pendukung

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai general.terms? laporkan.