Bab 7 - Audisi Stand Up Comedy

Berkas Khusus Pendukung
Bab 7 - Audisi Stand Up Comedy 2020.docx

Cerita saya saat iseng mengikuti audisi stand up comedy. Ini sebenarnya ditolak editor, karena bisa merusak esensi di bab sebelumnya, Ranger Merah Sidoarjo.

Saya kembali masukkan di sini, karena memang ingin membuat cerita yang runtut, dari saya SMP - SMA - kuliah - kerja.

Inti cerita: Saya baru belajar komedi, iseng ingin mencoba audisi stand up comedy. Selama proses menuju audisi, saya mengalami pengalaman yang tidak mendukung. Seperti, tidak lucu saat open mic sehari sebelum audisi, dan nyasar menuju lokasi audisi. 

——-————————————————————————————————

Tanggal 6 Desember 2012, saya iseng mengikuti ikut audisi Stand Up Comedy season 3.

Audisi ini diselenggarakan oleh Kompas TV dan lokasinya berada di Universitas Airlangga, Surabaya. 

Saya jelas tidak punya pengalaman banyak sebagai stand up comedian. Saya baru 2 kali open mic (tempat menguji materi komedi). Pertama itu di Solo dan kedua itu di Surabaya. Sehari sebelum audisi.

Apakah open mic saya berhasil?

Hmm, sungguh pertanyaan yang sulit untuk dijawab. 

Di Solo, saya melakukannya di cafe Jackstar. Saya membawakan materi di depan beberapa penonton dan teman-teman OneSeven (masih ingat klub futsal spepy? Kalau tidak, silakan baca Bab 3 - History of Spepy) 😬✌🏻

Kebanyakan penonton yang tertawa, ya, berasal dari teman-teman saya ini. Itu pun meragukan. Mereka tertawa karena materi saya benar-benar lucu, atau mereka tertawa, karena saya bertingkah konyol di depan semua orang. 

Sedangkan, di Surabaya. Saya open mic tanpa teman SMP dan SMA saya. 

Sendirian dan kesepian. Keringat mengucur ke seluruh badan. Sudah jelas, dari pertanda ini, pastinya open mic saya ...

Gagal total.

Selama saya di atas panggung dan mengucapkan materinya, hasilnya adalah hening, sepi, sunyi. Cuma ada suara saya dan suara gelas beradu dengan permukaan meja.

Harusnya,saya sadar lalu pulang dan menutup diri selama 10 tahun. Bodohnya, esoknya saya tetap audisi stand up comedy di Surabaya. Saya masih mempunyai pikiran optimis di kepala, bahwa saya harus bisa, saya harus mencoba, saya harus pantang menyerah. 

Seandainya saya lebih bijak kala itu. Saya pasti paham, berani dan kurang pintar, jelas bukan formula yang tepat.

***

Bermodalkan nekat dan ketidaktauan saya tentang jalan menuju ke Unair, saya berangkat jam 6 pagi menuju audisi stand up comedy.

Saya berangkat pagi-pagi sekali, karena saya paham betul diri kemampuan saya tentang jalan. Sangat. Lemah. Sekali. Jika ini menghafal jalan ada ulangannya, pasti saya mendapat 0,5. Terbukti, bahwa saya memang anak rumahan banget. 

Saya berangkat dengan motor kopling, Honda Megapro. 

Artinya, saya harus siap berhenti dulu kalau mau melihat maps di handphone. Agak susah untuk meraih handphone dengan tangan kiri, sambil mengendarai motor kopling. Salah gas sedikit, mati motornya di tengah jalan.

Saya mengendarai motor, mengikuti instruksi maps. 

Turn right. Oke siap.

Turn left. Oke mantap.

Hasilnya? 

Nyasar. 

Saya nyasar berulang kali. Kala aplikasi mulai tidak bisa diandalkan, berarti saya harus kembali ke format lama: tanya orang sekitar.

Baru jalan 5 menit, tanya tukang becak.

Jalan lagi, tanya satpam. 

Sudah agak jauh, tanya supir angkot.

Namun, masih belum bertemu juga. Tanpa sadar, waktu yang terkuras sudah 1 jam lebih.  Saya sudah mempertimbangkan bahwa saya bakal nyasar. Cuma tidak meyangka akan sebanyak ini nyasarnya. 

Sempat terlintas di kepala, “Apa mending pulang aja, ya?”

Saya menggeleng kepala saya. 

Saya teguhkan diri, pasti sampai. Dengan semangat yang entah dari mana, saya kembali mengendarai motor, dan terus bertanya kepada orang sekitar hingga sampai di lokasi.

***

2 jam mondar-mandir di Surabaya, saya bertemu juga Unair kampus B (itu juga secara kebetulan). 

Satu hal yang saya ingat, dari Unair kampus B adalah di depannya ada rumah sakit dimana ibu saya pernah dirawat disitu. Sekitar 2 tahun yang lalu, kalau tidak salah. Mungkin, itu alasan kenapa saya ingin ikut audisi ini. Maybe, I don't know.

Jam 8, saya masuk ke fakultas ekonomi dan bisnis, lalu saya naik ke lantai 3. 

Di sana banyak orang, saya pikirnya mereka pasti mau ikut audisinya.

Saya menuju ke stand, lalu langsung meminta formulir pendaftaran. Saya mengisi biodata pendaftaran, tanda tangan, dan cek berat badan. Kalau misal ada cek darah, lengkap sudah audisi ini sebagai tempat imunisasi.

Setelah mengisi semuanya, saya pun mendapat nomor 2.

Bagus sekali, nomor 2. 

Ternyata, banyak orang ini, pada belum mendaftar. Hei, kalian kalau mau lihat-lihat, lebih baik di rumah saja. Silakan, lihat itu akuarium yang ada di rumah. Ramai doang, daftar baru dikit.

Sedikit kesal, kami (saya dan orang yang tidak mendaftar ini) masuk ke ruangan yang disediakan untuk workshop “seminar komedi”. Ada mas Akbar, juara 2 Season 1, ada mas Ge, juara 1 Season 2, dan yang pastinya, om Indro. Beliau pasti hadir sebagai juri tetap audisi ini. 

Om Indro menjelaskan tentang sejarah komedi. Sedangkan yang lain, memberi pendapat-pendapat tentang komedi. Seperti, jokes yang baik itu seperti apa. Ada selingan permainan one liner (materi komedi pendek dalam satu kalimat saja). 

Melihat orang-orang yang mengikuti games itu, saya menelan ludah.

Banyak sekali yang lucu. Beberapa sudah saya lihat di open mic sebelumnya. Mereka tampak percaya diri dan baik sekali mengeluarkan materinya. Level antara saya dan mereka terasa jauh sekali. Mental saya jatuh. Bukan cuma ke lantai. Lebih tepatnya, ke dalam tanah.

“Pulang, yuk, Dy.” ucap saya, kehilangan semangat.

Selesai seminar, audisi pun dimulai.

Jantung bergemuruh seketika. 

Sekitar pukul 10.30 dimulai audisinya. Saya dan peserta lain (yang beneran daftar) duduk di kursi tunggu. Saya sempat mengobrol dengan comic yang lain. 

Ada yang sudah pernah jadi opener mas Ge di Bali. Ada juga yang jadi opener mas Kemal di Surabaya. 

Saya? 

Paling cuma pernah jadi opener gerbang kampus doang. Itu juga cuma sekali. 

***

Nomor 1 selesai audisi dan mendapat golden ticket.

Giliran saya yang maju. Jantung seperti kayak remaja tawuran. Rusuh. 

Saya yang tidak punya motivasi dan pengalaman, iseng mencoba audisi ini.

Kalau ditanya, "Kenapa kamu ikut audisi ini?" 

Mungkin saya akan jawab, "Lagi bosen kuliah aja, om Indro. Pengin refreshing gitu." 

Dengan bertuliskan stiker di dada: ALDY, SURABAYA, nomor 2, saya maju ke depan mic yang tersedia. 

Saya berdiri di depan om Indro, dan direkam kamera. 

Saya pun mengeluarkan materi saya. 

Sebaiknya kita skip materinya seperti apa. Yang jelas berhubungan dengan orang pacaran, celana gemes, mengidolakan berlebihan, dan orang tindikan. Kenapa di skip? Karena setelah tumbuh dewasa ini, saya cringe sendiri dengan jokes saya

Oke, lanjut. 

Dan .... 

Yang terjadi adalah ...

Materi saya banyak yang tidak kena. Alias, tidak lucu. Alias, garing sekali.
 

Bukannya  dapat golden ticket, saya hanya dapat malu. Satu-satunya materi yang berhasil hanyalah materi “tindikan”. Itu juga karena bang Indro pakai tindik.

Ya sudahlah. Namanya juga comic amatiran tanpa motivasi berlebih. Pelajarannya, berlatih dan bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu. Karena percuma nyasar berjam-jam, lalu cuma pulang dengan tangan hampa. 

Setidaknya, saya mendapat pengalaman dan jadi lebih paham tentang komedi. Siapa tahu, ilmunya bisa bermanfaat di format lain. Oh iya, satu lagi. Pastinya, saya lebih baik dari orang yang ramai-ramai tadi, tapi tidak ikut mendaftar. Pulang sana, lihat akuarium di rumah saja. 
 

Blog: http://www.aldypradana.com

Twitter: https://twitter.com/aldypradana17

Medium: https://medium.com/@aldypradana17

Instagram: https://www.instagram.com/aldy_pradana17/

IG Arsenio Sneakers Store: https://www.instagram.com/arsenio.store.id/

Tokopedia: https://www.tokopedia.com/arseniostoreid 

Podcast (spotify): https://open.spotify.com/show/5FmhDoeNOY1gEnpP6ARsdz?si=dj7VyLYORUuQ8dbDv-bIPQ

SoundCloud: https://soundcloud.com/aldypradana17

Youtube: https://www.youtube.com/c/AldyPradana17

 

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai termin Karyakarsa? harap laporkan.