3 Bukti Kalau Jatuh Cinta Itu Awal Dari Patah Hati Yang Menyakitkan

Semua cerita ini sebelumnya pernah diupload di aldypradana.com (2015). Saya pindahkan ke KaryaKarsa dengan beberapa revisi dan nama disamarkan. 

3 cerita ini terinspirasi dari salah satu novel Bernand Batubara. Saya menuliskan cerita dengan premis yang hampir mirip, karena saya setuju dengan ide utamanya.

Saya setuju bahwa jatuh cinta itu tidak selalu pengalaman indah yang berbunga-bunga. Jatuh cinta tidak selalu bahagia di akhir cerita. Ada kalanya, jatuh cinta membuat sakit tak terkira. Bahkan, sampai merasa kehilangan nyawa.

Saya pernah mengalaminya.

Misal,

Saat Bertemu Putri

Terjadi saat remaja, saya menyukai seorang cewek bernama Putri (nama disamarkan). Perempuan ini cukup tinggi, kulitnya hampir seputih susu, rambut hitamnya panjang menutupi punggungnya. Kadang, ia memakai bando ungu mengikat rambutnya yang lurus itu.

Sebagai secret admirer, saya cuma bisa menyukainya dari jauh. Ibarat bahasa anak muda sekarang, saya hanya bisa jatuh cinta diam-diam.

Saat kita suka dengan seseorang, kita lalu mencari banyak hal tentangnya. 

Saya pun sama.

Saya mencari nama lengkapnya siapa, ke sekolah naik apa, dan tentunya, nomor handphonenya berapa.

Saat sudah mendapatkan nomornya, saya ingin sekali sms Putri. Permasalahan pun timbul: “Gimana SMS-nya, ya?”  

Saya ingat, saya mencari-cari kalimat pembuka yang pas. Muncul beberapa opsi seperti:

- Halouw, Leh kNaL??

- Km cAntiQ bGt Sih, KnaLan DoNnngGGx!!

- AiiyaNkk CinTaquUUuuH BdAdaRiQ ,,,,,,

Dulu, cara sms seperti ini ngetren dan terkesan gaul banget. Sekarang, mengingat kejadian itu, saya merasa jijik sendiri.

Akhirnya, terpilih kalimat yang lebih pas dan simple,

Hai, Aq Aldy, Km PutRi y?”

Sms terkirim. Badan langsung panas dingin.

“Dibales nggak, ya?” kalimat yang terngiang-ngiang terus berputar di kepala.

Satu jam berlalu.

Masih nggak dibales.

Dua jam berlalu.

Ada sms masuk.

Saya buka dengan semangat, dan baca pelan-pelan isi pesannya, “ISI ULANG Rp 50RB sd 10 Januari …”

Monyet. Ternyata dari operator.

Tiga jam berlalu.

Akhirnya, ada sms lagi. Saya buka agak males sambil berharap sms ini bukan lagi dari operator.

“Y, iNi PutRi, iNi ALdY Sp yAch?”

Yes! Dia bales sms saya!

Saya balas smsnya, “InI AlDy kelas D, kTa sAtu SekoLaH”

Dimulai dari sms itu, saya pun mulai dekat dengan cewek yang saya suka (lewat SMS).

Hampir tiap hari, kami ngobrol lewat ketikan SMS. Topiknya macam-macam, bisa tentang soal ulangan yang susah banget, tentang film Indonesia paling lucu, dan paling aneh, tentang kucing kawin di depan rumah saya.

Semua sms itu saya lalui dengan perasaan senang. Sesenang Marlin waktu menemukan anaknya, Nemo. Sesenang anak kecil yang dibelikan es krim cokelat oleh ibunya. Sesenang dapat uang saat merogoh kantong celana. Pokoknya, semua terasa bahagia saat itu.

Saya inget, saya pernah menggambar sosok Putri di buku catatan. Yang kemudian, diliat temen sebangku saya, Adit (kawan saya ini memang paling sering menemani saat saya remaja. Btw, nama juga disamarkan.)

“Gimana, Dit? Bagus, kan? Cantik, sama kayak aslinya?”

Adit memandang sinis, “Ho’oh, Dy, Cantik. Koyo ibu perawan tua sing ra tau dijamah.”

“Asem.” kata saya singkat, lalu menutup buku catatan saya.

“Jek smsan karo Putri, Dy?” tanyanya, mengganti topik pembicaraan.

“Masih. Ngopo?”

Adit menatap saya serius, “Kasih something ngono, Dy, spesial buat Putri. Mosok mung smsan terus?”

“Bener juga.” Saya manggut-manggut.

Perkataan Adit membuat saya berpikir. Saya harus memberikan something yang tepat untuk Putri.

Beberapa menit berlalu, saya mendapatkan ide. Tidak tahu kenapa, saya ingin memberinya CD MP3. Mungkin berdasarkan observasi saya, ia cukup dekat dengan ‘musik’.

Saya pernah melihatnya jadi bermain alat musik saat pensi. Saya juga ingat dia pernah sms seperti ini, “Aq LaGi SKa sAmA lAguNyA AstRid niCh. YaNG JdikAn aKU yG keDua.”

Mohon maaf jika tulisan anda membuat pusing dan lupa ingatan. Agar tidak bingung, saya akan jelaskan artinya.

“Aku lagi suka sama lagunya Astrid, nih, yang Jadikan Aku Yang Kedua.”

Dari situ, saya cukup yakin, MP3 adalah something yang tepat untuknya.

Dasar tidak bakat bikin surprise, saya malah memberitahu dia.

*karena sms alay lama-lama juga membuat sakit mata sang penulis, penulis memutuskan untuk menuliskan dengan bahasa Indonesia yang normal dan sehat*


“Aku pengin ngasih kamu sesuatu, lho.”

“Apa?”

“MP3 lagu Indonesia.”

“Aku nggak gitu suka sama lagu Indonesia, Aldy.”

“Lho, bukannya kamu pernah ngomong suka lagunya Astrid – Jadikan Aku Yang Kedua?”

“Iya, sih, tapi, aku lebih suka lagu barat.”

“Kayak?”

“Simple Plan, Good Charlotte, Green Day, gitu.”

“Oh gitu. Ya udah, aku kasih kamu MP3 lagu yang campur Indonesia-Barat aja.“

Setelah percakapan lewat sms itu, saya segera pergi ke mall terdekat. 

***

Esoknya, saya membawa something untuk Putri, CD berisi MP3 berisi lagu-lagu kesukaannya. Hari itu, saya bersiap untuk pertama kalinya bertemu dan ngobrol langsung sama Putri.

Sesudah pulang sekolah, ia sms, “Mana MP3nya?”

“Ada, nih, kamu kesini aja, ke gerbang ke sekolah.”

Saya lalu memasukkan handphone ke dalam kantong celana, menanti dia datang. Selama menunggu, jujur, saya deg-degan. Jantung seperti sedang memainkan musik heavy metal. Keringat mengucur deras mirip genteng bocor pas hujan. Saya grogi.

Sekitar 15 menit menunggu, akhirnya ia tiba.

Rambutnya dibiarkan teruai tertiup angin. Jaket hitamnya tertutup rapi, tanda bersiap untuk pulang. Dia, tampak cantik seperti biasanya. Dan, itulah pertama kalinya, saya bisa melihat Putri sedekat itu.

Ia lalu membuka tangan kanannya, menagih MP3.

Saya masih diam. Mlongo. Terlalu takjub sama kecantikannya Putri.

“Aldy, mana MP3nya?” katanya, dengan suara imut.

“Oh, iya.” Saya kembali ke dunia nyata, lalu membuka tas punggung. 

Saya mengambil CD dan memberikannya, “Semua lagu favoritmu ada disitu.” 

“Oke. Makasih, ya, Al.” ia tersenyum, lalu meninggalkan saya. Ia berdiri di tempat ia biasa menunggu dijemput orang tuanya, yaitu di bawah pohon besar depan sekolah.

Saya sendiri masih meleleh karena bisa sedekat itu dengannya.

Walaupun sebenarnya, saya berharap pertemuan kami bisa lebih daripada itu. Saya berharap ngarep bisa ngobrol lebih lama, lebih deket, dan lebih intim.

Saat masih membayangkan harapan yang ketinggian, saya melihat Putri dijemput. Biasanya, orang tuanya menjemput dengan motor Honda Supra Fit, kadang ayah atau ibunya.

Tapi kali ini beda, yang menjemput, terlihat lebih muda. Seorang cowok dengan badan gagah, menggunakan banyak gelang di pergelangan tangannya, dan memakai seragam serta celana pendek warna biru. Motornya juga Satria F modifan dengan knalpot bersuara seberisik petasan.

Saya lihat lebih teliti cowok itu.

Sekali lagi, saya lihat lebih detail dari atas sampai bawah cowok itu.

Saya tersadar.

“LHAH, ITU KAN KAKAK KELAS!” ucap saya, terkejut.

Putri duduk dibelakang, lalu merangkul sang kakak kelas. Mereka berdua berpacu mesra diatas motor, meninggalkan saya yang cuma bengong.

Saya tidak mengerti.

Setahu saya, dia tidak punya pacar.

Setahu saya, dia tidak dekat dengan cowok lain.

Tiba-tiba dia bermesraan dengan cowok lain, tepat setelah saya memberi sesuatu ke dia. Tepat, disaat saya berharap lebih ke dia.

Saya menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengerti apa yang terjadi, mencoba mengurangi rasa sakit di dada ini.

Tak tau harus berbuat apa lagi, saya memutuskan untuk pulang. Saya memutuskan untuk melupakan semua ini. Dan selama berjalan menuju tempat parkir sepeda, saya baru mengerti kalau jatuh cinta itu bisa membuat luka sesakit ini.

Saat Bertemu Terry (2 cerpen berikutnya hanya tersedia dalam konten berbayar)

 

Blog: http://www.aldypradana.com

Twitter: https://twitter.com/aldypradana17

Medium: https://medium.com/@aldypradana17

Instagram: https://www.instagram.com/aldy_pradana17/

IG Arsenio Sneakers Store: https://www.instagram.com/arsenio.store.id/

Tokopedia: https://www.tokopedia.com/arseniostoreid 

Podcast (spotify): https://open.spotify.com/show/5FmhDoeNOY1gEnpP6ARsdz?si=dj7VyLYORUuQ8dbDv-bIPQ

SoundCloud: https://soundcloud.com/aldypradana17

Youtube: https://www.youtube.com/c/AldyPradana17

Konten Terkunci

Klik tombol di bawah untuk membayar dan mendapatkan akses.

Rp 35,000
+7 konten di paket ini selama 30 hari
Rp 10,000
Satu konten

ini saja
Sudah mendukung? Login untuk mengakses

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai termin Karyakarsa? harap laporkan.