Ngamen Puisi, Hujan Awal Maret, dan Harapan Kosong

Tulisan ini tadinya diniatkan hanya menampilkan dua buah puisi tanpa perlu berbasa-basi, tapi hasil akhirnya ternyata melenceng dari harapan. Entah kenapa saya spontan mengisi kolom yang fungsinya buat menjelaskan karya ini menjadi tempat curhat seenak jidat.

Seperti salah satu puisi yang saya beri judul harapan kosong, saya jadi ingin melantur sedikit atau membicarakan omong kosong. Akhir-akhir ini, saya tengah berusaha mengomersialkan puisi saya dengan metode ngamen 1-2 puisi sebagaimana pengamen-pengamen jalanan yang pernah saya temui, baik itu di tempat umum ataupun angkutan umum. Sepertinya asyik juga, ya, pikir saya, setiap kali melihat mereka cukup membawakan 1-2 lagu dan langsung memperoleh uang receh, lantas turun dari bus atau pindah ke bus lain tanpa pernah peduli apa komentar orang-orang yang mendengarkannyaapakah suaranya merdu atau sumbang?

Saya kira, dalam urusan menulis, saya sudah kehabisan energi maupun tenaga buat bersabar sekaligus menunggu hingga puisi-puisi terkumpul menjadi satu buku, kemudian barulah menjualnya seperti yang pernah saya terapkan di proyek Disforia Pengusik Kenangan (ini malah sempat saya gratiskan pada mulanya) dan Merayakan Puisi.

Selayaknya seorang musisi, saya pikir adakalanya mereka tak bisa merilis satu album, baik itu karena faktor ekonomi, ide lagi mampet, atau hal lain, dan terpaksa mengeluarkan single terlebih dahulu demi mempertahankan eksistensinya, atau bahkan itu metode ampuh demi bertahan hidup di dunia musik. Kala merenungi hal tersebut, saya selalu sadar diri bahwa keberadaan saya sebagai seorang penulis ini mirip pengamen numpang lewat yang sempat mampir di depan rumah warga dan cuma menyanyikan potongan-potongan lagu. Jika saya ingat-ingat lagi, menemukan pengamen yang rela menyanyikan satu lagu penuh untuk setiap rumah, khususnya di Jakarta, itu terhitung langka. Seandainya mereka bernyanyi satu lagu sampai selesai, waktu mereka mungkin akan terbuang banyak dan uang yang mereka dapatkan jadi tak sepadan dengan rasa capeknya. Namun, pemikiran barusan hanyalah dugaan awal. Saya tak pernah menjajal hidup sebagai pengamen ataupun riset secara mendalam.

Setidaknya, saya kian sadar kalau banyak dari mereka yang terabaikan setiap kali berusaha mengamen dari rumah ke rumah. Tanpa perlu bersikap sok, saya sendiri juga bukan orang dermawan yang selalu rela memberikan uang kepada setiap pengamen yang mampir ke rumah. Jika di kantong saya tak ada uang 500-2.000 rupiah, saya dengan tegas akan bilang maaf kepada mereka. Pada lain waktu, kadang-kadang pintu maupun jendela yang tadinya terbuka pun bakalan saya tutup kalau lagi makan atau baca buku atau menonton film, sebab saya terlalu malas untuk mencari receh ataupun bilang maaf.

Terlepas dari hal itu, dalam satu tahun terakhir setiap kali mengisi waktu dengan menerbitkan tulisan di blog, saya mulai terbiasa dengan kolom komentar kosong. Yah, terus terang saja, adakalanya saya malas dikomentari oleh pembaca. Soalnya saya sendiri belakangan ini juga lebih senang menyimak tulisan mereka tanpa perlu meninggalkan jejak. Dalam situasi pandemi yang semakin lama terasa menghancurkan semangat hidup, saya sering cuma kepengin menulis dan bersikap bodo amat dengan tanggapan orang lain. Begitu pun sewaktu saya menulis untuk mencari uang sembari menunggu kabar dari perusahaan yang saya kirimkan lamaran. Rasanya saya mirip seorang pengamen yang hanya ingin menyanyi saja tanpa berharap apa-apa lagi lantaran sudah terlalu sering kecewa. Seumpama ada penumpang bus atau pemilik rumah atau siapa pun yang saya temui mau berbaik hati memberikan uang alias mengapresiasi lagu yang saya nyanyikan, saya akan bilang alhamdulillah. Kalaupun enggak, ya santai aja, sebab bernyanyi itu sendiri sudah meringankan beban hidup.

Berhubung saya tak pandai menyanyi, dan mampunya menulis puisi/racauan, maka inilah metode yang saya coba lakukan di platform KaryaKarsa untuk mencari uang sekaligus bersenang-senang.

Konten Terkunci

162 words

Rp 13,000
paket 13 konten
Akses 30 hari
Rp 5,000
1 konten ini saja
Akses seumur hidup
Sudah mendukung? Login untuk mengakses
Kategori karya
Puisi

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai general.terms? laporkan