Black Box #CeritadanRasaIndomie

Bella, sosok istri setia yang rela melakukan apa saja demi suaminya. Bahkan, ia rela keluar dari pekerjaan impiannya yang mampu memberikan gaji jauh lebih besar dari suaminya. Apartemen tempat mereka tinggal adalah hasil kerja keras Bella saat belum menikah. Katanya, hidup selalu memberikan pilihan. Lalu, pilihan mana yang akan dipilih oleh Bella saat ia tahu suaminya selingkuh?

Batas Khusus Pendukung

Pagi ini menjadi pagi yang paling aku tunggu-tunggu. Selama seminggu kami terpisah, aku dan suamiku akhirnya bisa bertemu lagi. Mas Alif seminggu ini dinas di luar kota hingga membuatku sangat kesepian. Mas Alif tiba Jumat malam kemarin. Sehari lebih cepat dari rencana awal. Katanya, ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganku sebelum dinas di kota yang lainnya lagi pada hari Selasa. Aku tahu Mas Alif sangat merindukan aku. 

Meski sering menjalani Long Distance Marriage (LDM), kami selalu berusaha bertukar kabar. Membangunkannya tiap pagi, menanyakan harinya, menyemangatinya jika berhadapan dengan klien yang buruk, melakukan panggilan video, dan sesekali aku memesankan makanan untuknya melalui ojek online. Hingga Mas Alif seringkali mengatakan betapa beruntungnya dia memiliki istri sempurna seperti aku. Kamu memang sangat beruntung aku memilihmu, Mas. Bahkan aku rela keluar dari pekerjaan yang sudah lama aku idam-idamkan karena Mas Alif mudah cemburu. 

Nggak banyak hal yang bisa aku lakukan di apartemen kecil ini saat Mas Alif pergi. Aku banyak menghabiskan waktu dengan membersihkan ruangan secara menyeluruh. Termasuk mengurangi benda-benda yang sudah nggak pernah kami pakai lagi. Ternyata kegiatan ini sangat efektif. Meski membuat badanku pegal-pegal, tapi aku sangat senang dengan hasilnya. Apartemen ini tampak lebih lapang, bersih, dan rapi.

Aku mengumpulkan banyak barang yang nggak pernah kami pakai selama ini dan memutuskan membuangnya. Pakaian, tumpukan hiasan yang berdebu, kertas pekerjaan yang nggak terpakai, dan banyak lainnya. Tapi, aku menyimpan beberapa barang yang bukan milik kami berdua untuk dikembali kepada pemiliknya. 

“Yang, aku nggak jadi mi goreng. Indomie kuah soto aja ya!” Teriak Mas Alif yang sedang berada di kamar mandi. Pagi ini kami memilih quality time dengan sarapan makanan favorit kami, mi rebus lengkap dengan sawi, telur, cabai dan potongan ayam. 

“Oke!” Sahutku tak kalah kencang agar didengarnya. Aku mengambil bungkusan mi di laci penyimpanan makanan dan merebus mi yang kedua. Sejak kemarin malam tiba di apartemen, Mas Alif memintaku untuk membuatkan mi kesukaannya. Katanya, ia kangen dengan mi buatanku. 

Sambil menunggu mi matang aku menyiapkan bumbu pada mangkuk Mas Alif. Tak lupa kutaburkan bubuk putih yang telah kubeli secara online kemarin. Bumbu spesial untuk hari ini dalam rangka menyambut kepulangan Mas Alif. 

 

Ting…. 
 

Aku melirik ponsel Mas Alif di meja makan. Ada pesan masuk. Tumben Mas Alif berkirim pesan dengan aplikasi chatting itu. Biasanya ia hanya menggunakan Whatsapp. Pandanganku beralih pada panci untuk mengangkat mi yang sudah matang. Kusenandungkan lagu favoritku, Take It Further milik Mina Okabe yang belakangan terngiang di kepala. 

Meja makan sudah aku tata rapi dengan dua mangkuk besar mi, segelas teh manis untuk Mas Alif, segelas teh tarik untukku, dan nggak lupa potongan buah sebagai camilan untuk menonton drama. 

“Akhirnya, aku bisa makan mi rebus buatanmu lagi. Kangen banget. Ini baru namanya rumah. Di Semarang tiap kali aku pesen mi pasti keinget kamu. Mi buatan kamu itu nggak ada duanya. Apa sih, Yang, resepnya?” Tanyanya dengan mata berbinar melihat semangkuk mi mengepul menggugah siapapun yang melihatnya. Mas Alif kini telah duduk di meja makan berhadapan denganku.

Aku tersenyum memperhatikan Mas Alif makan dengan lahap. Sesekali kami mengkomentari adegan dalam drama. Kami sering menghabiskan waktu dengan menonton drama Korea. Ini salah satu drama yang sedang seru-serunya kami tonton. Saat Mas Alif pergi aku menontonnya sendirian. Rasanya aneh. Aku pun mengulang episod yang telah aku tonton demi menontonnya dengan Mas Alif. Layar televisi menampakkan adegan pembunuhan yang dilakukan oleh seorang suami pada istrinya. 

“Wah, Mas, bener kan kataku. Akhirnya dia dibunuh juga sama suaminya,” kataku menunda suapan demi menatap layar televisi. “Yang selingkuh padahal kan suaminya. Parah banget, malah istrinya yang dibunuh. Harusnya kan istrinya yang marah,” Aku menyodorkan minuman pada Mas Alif yang terbatuk. 

“Nggak usah ditonton lagi deh,” Mas Alif mengambil remote dan mematikan televisi. Aku menatapnya lekat-lekat. Wajahnya gelisah. “Kamu ngapain aja di rumah kemarin?” Kini ia berusaha terlihat santai dan mengubah topik. 

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Tanpa menjawab, aku beranjak dan mengambil kotak hitam yang aku simpan di kamar kami. Dengan tenang, aku meletakkan kotak itu di kursi sebelahku. Benda-benda di dalamnya aku keluarkan dengan perlahan dan kuletakkan di meja samping makanan Mas Alif. 

Ekspresi Mas Alif menegang. Berkebalikan denganku yang sangat tenang. Aku bahkan tidak merasakan emosi apapun. 

“Sayang, aku minta maaf. Aku khilaf. Aku udah jelasin ke Anisa kalo aku punya kamu. Tapi, dia nempel terus sama aku, Bel. Kamu harus percaya sama aku. Aku….” Kini ekspresi Mas Alif berubah seperti orang sekarat. Ah, sepertinya malaikat sedang bertugas mencabut nyawanya saat ini. 

Aku memperhatikan Mas Alif yang melotot di hadapanku. Tangannya memegang leher yang terasa tercekat. Wajahnya tampak lucu dengan mata membola seperti capung. Aku menyeruput kuah mi rebusku dengan nikmat. Lelaki di hadapanku pun terjatuh dari kursinya dan tak lagi bergerak. 

“Kurang apa aku, Mas,” gumamku pada diri sendiri. 

Aku beranjak dari kursiku dan memutar musik Mina Okabe pada televisi. Dengan riang aku bernyanyi dan sedikit berdansa mengitari ruangan hingga kamar. Koper besar yang biasa Mas Alif gunakan untuk dinas kutarik perlahan dengan tetap berdansa kecil menuju meja makan. Tanganku membuka koper dan mengangkat tubuh Mas Alif ke dalam koper. Aneh, aku mampu mengangkat tubuh lelakiku yang jauh lebih berat dari tubuhku. 

Benda-benda milik wanita itu yang tadinya aku tunjukkan pada Mas Alif, telah kumasukkan kembali ke dalam kotak hitam. Setelah menimbang sambil memperhatikan Mas Alif dalam koper, aku meletakkan kotak itu di tangan Mas Alif seolah ia sedang memeluknya. Ah, tampak estetik sekali. Beberapa bungkus Indomie kesukaannya juga kuletakkan ke dalam koper dan menutupnya. Kamu bisa makan mi kesukaannmu sepuasnya dengan wanita itu, Mas. 

***

“Eh, Bu Bella mau pergi?” Sapa Pak Anton, satpam apartemen yang menjaga parkiran. 

“Iya, Pak. Mau mengembalikan barang teman. Mari, Pak.” Aku tersenyum ramah dan menginjakkan gas. 

Jalanan Jakarta pagi ini sangat lenggang. Bibirku tersenyum menikmati suasana pagi kota yang tak pernah tidur ini. Jarang-jarang Jakarta bisa selenggang ini. Aku melaju dengan kecepatan sedang menuju lokasi yang aku datangi beberapa waktu lalu. 

Tiga puluh menit kemudian aku tiba di depan sebuah rumah cantik bercat krem. Aku menurunkan koper dan menyeretnya hingga pintu gerbang depan. Jariku memencet bel di sisi kanan gerbang. Manaku menyapu rumah dihadapanku yang terlihat begitu cantik dan asri. Seorang wanita dengan rambut tergerai sebahu muncul membuka pintu gerbang. Semerbak wangi cendana menyapu hidungku. Wangi yang sering aku hirup setiap kali Mas Alif pulang dinas.   

“Ini saya kembalikan semua milik kamu,” kataku tersenyum.

 

Karya ini GRATIS! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi 🥰

Kolom Komentar

Apakah konten ini melanggar ketentuan yang berlaku sesuai general.terms? laporkan